Barantin dan FAO Perkuat Biosekuriti Hadapi Penyakit Hewan Lintas Batas di Indonesia
Badan Karantina Indonesia (Barantin) menggandeng Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dalam upaya memperkuat sistem biosekuriti nasional. Kolaborasi ini bertujuan menghadapi ancaman penyakit hewan lintas batas yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Indonesia.
Penguatan Sistem Biosekuriti Berbasis Manajemen Risiko
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menjelaskan bahwa kerja sama ini difokuskan pada pengembangan sistem karantina berbasis manajemen risiko. Salah satu inisiatif utama adalah pembuatan peta hama penyakit terintegrasi dengan sistem peringatan dini (early warning system) untuk memberikan respons cepat terhadap ancaman penyakit hewan.
“Kita ingin memperkuat biosekuriti nasional kita agar terhindar dari banyak hal terutama keamanan pangan kita,” ujar Karding di Jakarta, Selasa.
Program ini dijalankan melalui Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) dengan judul "Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats" yang berlangsung selama dua tahun, mulai 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2028. FAO memberikan dukungan hibah sebesar 200.000 dolar AS atau sekitar Rp3,59 miliar.
Manfaat dan Fokus Program Kerja Sama
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, yang diwakili oleh Sriyanto, menyatakan bahwa program ini mengincar tiga hasil utama:
- Penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen risiko penyakit hewan karantina.
- Pengembangan sistem karantina terintegrasi berbasis digital yang mendukung pemetaan hama dan penyakit, analisis risiko, pelaporan, serta early warning system.
- Peningkatan kesadaran dan komunikasi risiko kepada masyarakat dan pemangku kepentingan demi pencegahan dan respons dini.
Pengembangan sistem digital menjadi kunci utama guna mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan efektivitas pengawasan penyakit hewan. Sistem ini akan menghubungkan data dari berbagai sumber untuk mendukung ketahanan pangan dan perdagangan nasional.
Ancaman Penyakit Hewan dan Spesies Invasif
Karding menegaskan pentingnya penguatan biosekuriti karena ancaman penyakit hewan lintas batas, penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia, serta spesies asing invasif yang bisa merusak ekosistem dan ekonomi nasional.
“Kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.
Menurut data Barantin yang merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 Tahun 2016, Indonesia telah mengidentifikasi 187 spesies asing invasif (Invasive Alien Species/IAS) dan mencegah masuknya 132 IAS lainnya. Penyakit hewan utama yang menjadi fokus pengawasan antara lain Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, brucellosis, Septicaemia Epizootica (SE), serta rabies.
Dukungan FAO dan Kolaborasi Lintas Sektor
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menyatakan bahwa tantangan penyakit hewan lintas batas, zoonosis, dan spesies invasif semakin meningkat dan membutuhkan sistem biosekuriti yang terintegrasi dan modern.
“FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman,” ujar Rajendra.
Rajendra menekankan bahwa penguatan biosekuriti memerlukan kerja sama lintas sektor, karena isu ini berkaitan erat dengan kesehatan hewan, kesehatan manusia, ketahanan pangan, dan penghidupan masyarakat. Sistem karantina yang kuat juga meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas Indonesia.
Menuju Sistem Karantina Nasional yang Adaptif dan Terdigitalisasi
Melalui program kerja sama ini, Barantin menargetkan transformasi sistem karantina nasional yang adaptif, terdigitalisasi, dan berorientasi pada pelayanan publik. Hal ini tidak hanya akan mendukung ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan daya saing perdagangan Indonesia di pasar global.
Inisiasi ini menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi berbagai ancaman yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi serta menjaga kesehatan masyarakat. Selain itu, penguatan biosekuriti juga penting dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan mobilitas hewan yang kian meningkat.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kerja sama antara Barantin dan FAO ini merupakan langkah krusial untuk memperkuat fondasi biosekuriti Indonesia yang selama ini menghadapi tantangan besar dari penyakit hewan lintas batas dan spesies invasif. Dengan digitalisasi dan pendekatan manajemen risiko yang sistematis, Indonesia dapat lebih cepat mendeteksi dan merespons ancaman tersebut sehingga dampak negatif terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.
Selain itu, fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan komunikasi risiko menunjukkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan SDM dan keterlibatan publik. Hal ini penting agar seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi, mulai dari petani, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah.
Ke depan, publik perlu memantau bagaimana implementasi program ini berjalan dan dampaknya terhadap ekspor produk hewan Indonesia, terutama di tengah persaingan global yang ketat. Jika berhasil, sistem karantina yang modern akan menjadi nilai tambah bagi Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar internasional sekaligus menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman resmi ANTARA News.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0