Pasar Kerja Anak Muda Terpuruk, Tapi Bukan Karena AI
Pasar kerja bagi anak muda saat ini sangat menantang. Banyak yang bertanya-tanya, apakah kecerdasan buatan (AI) menjadi penyebab utama? Sejak peluncuran ChatGPT pada akhir 2022, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi baru meningkat hampir mencapai 6 persen, angka tertinggi lebih dari satu dekade terakhir, kecuali lonjakan pandemi tahun 2020. Padahal, tingkat pengangguran secara keseluruhan berkisar di angka sekitar 4 persen.
Banyak pengamat menghubungkan kenaikan angka pengangguran ini dengan dampak AI yang mulai menggantikan pekerjaan profesional pemula di sektor putih kerah. Contohnya, sebuah judul artikel di Wall Street Journal tahun lalu bertuliskan, "AI Merusak Pasar Kerja yang Sudah Rapuh untuk Lulusan Perguruan Tinggi". Namun, fakta sebenarnya menunjukkan cerita tersebut keliru atau setidaknya terlalu dini untuk disimpulkan. Hampir semua data yang tersedia menunjukkan bahwa penyebab utama kesulitan anak muda di pasar kerja sama sekali tidak terkait dengan AI. Apakah ini kabar baik atau buruk, itu hal lain yang perlu dipertimbangkan.
Ilusi Statistik di Balik Pengangguran Anak Muda
Klaim bahwa AI telah mencuri pekerjaan anak muda sebenarnya adalah ilusi statistik. Secara historis, lulusan perguruan tinggi baru biasanya memiliki tingkat pengangguran lebih rendah dibandingkan rata-rata pekerja. Namun sejak ChatGPT dirilis, tingkat pengangguran kelompok ini naik hampir dua kali lipat dibandingkan angka keseluruhan. Karena AI memang lebih berpotensi menggantikan pekerja kerah putih, tren ini tampak sejalan dengan dugaan dampak AI di pasar tenaga kerja.
Tetapi, tingkat pengangguran bisa sangat menyesatkan. Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) hanya menghitung seseorang sebagai pengangguran jika mereka aktif mencari pekerjaan dalam 4 minggu terakhir. Mereka yang menginginkan pekerjaan tapi sudah berhenti mencari tidak masuk dalam data ini, sehingga angka pengangguran tampak lebih rendah dari kenyataan. Hal ini menghilangkan orang yang sebenarnya menganggur tapi putus asa mencari kerja.
Ekonom Adam Ozimek dan Nathan Goldschlag mengkaji data lebih dalam dan menemukan bahwa banyak pekerja muda tanpa gelar sarjana sudah berhenti mencari pekerjaan, sehingga angka pengangguran mereka terlihat lebih baik. Akibatnya, lulusan baru perguruan tinggi tampak lebih buruk secara statistik, padahal kenyataannya tidak.
"Pasar tenaga kerja untuk anak muda—semua anak muda—ternyata lebih buruk dari yang kita kira," kata Goldschlag. "Ini membuat saya meragukan bahwa ini adalah cerita tentang AI."
Faktor Jangka Panjang dan Perubahan Struktur Pendidikan
Meskipun lulusan baru masih lebih baik daripada yang tidak berpendidikan tinggi, keunggulan ini semakin mengecil. Premium lulusan baru ini sebenarnya mencapai puncaknya saat Resesi Hebat (Great Recession) dan terus menurun jauh sebelum ChatGPT muncul. Ini menunjukkan penyebabnya adalah perubahan jangka panjang pada penawaran dan permintaan tenaga kerja.
Sejak 2008, persentase anak muda dengan gelar sarjana meningkat sekitar sepertiga, terutama akibat lonjakan pendaftaran di universitas yang kurang selektif. Seperti yang diungkapkan oleh ekonom Harvard, David Deming, hal ini berarti jumlah lulusan yang bersaing semakin banyak, sementara rata-rata kualitas lulusan menurun. "Ini mirip dengan apa yang terjadi pada ijazah SMA 50-60 tahun lalu," kata Deming. "Ijazah SMA dulu memberi keuntungan besar, tapi ketika sudah umum, keuntungannya hilang."
Studi dari Federal Reserve San Francisco juga menemukan bahwa sejak 2010, jumlah lowongan pekerjaan yang mensyaratkan gelar sarjana justru menurun, kemungkinan karena teknologi digital sudah meluas dan gelar sarjana tidak lagi menjadi prasyarat utama.
Bukti Nyata: AI Tidak Terlihat Menyebabkan Kerugian di Pasar Kerja
Alasan paling meyakinkan untuk meragukan peran AI adalah bahwa pekerja yang paling berisiko terdampak AI justru tidak mengalami penurunan paling parah. Dalam laporan Agustus, Goldschlag dan Sarah Eckhardt menilai lima metode pengukuran risiko pekerjaan terhadap gangguan AI dan membandingkannya dengan perubahan hasil pekerjaan dari 2022 hingga 2025. "Tidak peduli bagaimana kami mengolah data, kami tidak melihat dampak signifikan AI di pasar tenaga kerja," simpul mereka.
Ekonom Ernie Tedeschi menunjukkan bahwa sejak Juni 2023, pengangguran anak muda justru meningkat paling tajam di pekerjaan yang paling kecil risiko tergantikan AI, seperti pekerja konstruksi dan pelatih kebugaran. Sebagian besar studi lain juga mendukung kesimpulan ini. Martha Gimble, Direktur Eksekutif Yale Budget Lab, menyatakan, "Saya sangat terbuka kemungkinan AI bisa menggantikan pekerja pemula, tapi kami belum melihatnya dalam data."
Sebaliknya, AI bahkan mungkin meningkatkan kesempatan kerja bagi lulusan perguruan tinggi. Sebuah analisis 2025 menunjukkan bahwa lulusan baru di sektor dengan penggunaan AI lebih tinggi mengalami hasil kerja lebih baik setelah ChatGPT dibandingkan sebelumnya. Survei Agustus oleh Federal Reserve Bank New York juga menemukan lebih banyak perusahaan yang melaporkan menambah pekerja karena AI daripada yang mengurangi.
Bahkan pengembang perangkat lunak—yang dianggap akan paling terdampak oleh AI—justru memiliki tingkat pekerjaan tertinggi sepanjang masa. "Kami menggunakan AI untuk berbagai hal—coding, rekayasa, dan lainnya," ujar Tedeschi, yang juga ekonom utama di Stripe. "Ini tidak menghentikan kami merekrut anak muda baru, bahkan perekrutan kami meningkat karena AI."
Faktor Utama: Ketidakpastian Ekonomi dan Perlambatan Perekrutan
Jika bukan AI, lalu apa yang membuat pasar kerja anak muda begitu buruk? Hampir di semua sektor, laju perekrutan melambat ke level yang terakhir terlihat pasca-Resesi Hebat. Pasar kerja yang sedikit membuka kesempatan sangat merugikan anak muda yang baru masuk dunia kerja, termasuk yang berpendidikan tinggi.
Fenomena ini, yang pernah disebut sebagai "the big freeze", mulai terasa sejak pertengahan 2022. Awalnya, hal ini dijelaskan oleh trauma perusahaan terhadap perpindahan kerja yang cepat selama pandemi, sehingga mereka menahan pekerja lama dan mengurangi lowongan baru. Namun, kelanggengan perlambatan ini menandakan faktor kedua: ketidakpastian.
Ketakutan akan resesi yang akan datang dan ketidakpastian hasil pemilu 2024 membuat perusahaan menunda investasi baru, pembukaan lokasi baru, dan peluncuran produk, sehingga kebutuhan perekrutan menurun. Deming menjelaskan, "Merekrut anak muda adalah investasi jangka panjang, dan jika masa depan tidak pasti, hal pertama yang dihentikan adalah perekrutan ini."
Alih-alih mereda, ketidakpastian justru meningkat akibat berbagai faktor seperti tarif dan perjanjian perdagangan yang berubah-ubah, serangan terhadap Federal Reserve dan lembaga statistik, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, dan konflik asing yang mengancam pasar minyak global. Indeks Ketidakpastian Kebijakan Ekonomi mencapai level tertinggi sepanjang masa sejak Donald Trump menjabat.
"Itu cerita yang sama dari hampir semua pemberi kerja dan manajer perekrutan saat ini," kata Guy Berger, Senior Fellow di Burning Glass Institute. "Sulit memprediksi ekonomi beberapa bulan atau tahun ke depan, jadi mereka memilih menunggu."
Beberapa ekonom termasuk Berger mengakui bahwa ketidakpastian akibat dampak AI mungkin menjadi bagian dari masalah, tapi sulit dibuktikan secara konkret dalam data saat ini.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, narasi bahwa AI langsung menjadi penyebab tingginya pengangguran anak muda adalah terlalu sederhana dan prematur. Data dan analisis terbaru menunjukkan masalah utama lebih kepada faktor struktural dalam pendidikan dan ketidakpastian ekonomi yang melanda berbagai sektor. Perubahan jumlah lulusan perguruan tinggi dan kualitas rata-rata yang menurun mengaburkan gambaran kompetisi kerja yang sesungguhnya.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global yang tinggi akibat geopolitik, kebijakan perdagangan, dan inflasi membuat perusahaan berhati-hati dalam membuka lapangan kerja baru, terutama untuk pekerja pemula yang memerlukan investasi pelatihan dan pengembangan. AI memang berpotensi mengubah pasar kerja secara fundamental, tapi dampaknya kemungkinan baru akan terasa secara luas dalam beberapa tahun ke depan, bukan saat ini.
Penting bagi pembaca untuk memahami bahwa pasar kerja adalah sistem kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. Prediksi apokaliptik terkait AI perlu disikapi dengan hati-hati dan berdasarkan data yang kuat. Kita harus terus memantau perkembangan teknologi dan ekonomi agar siap menghadapi perubahan dengan strategi yang tepat.
Untuk membaca lebih lengkap, Anda dapat melihat artikel asli di The Atlantic dan mengikuti laporan dari CNN Indonesia Ekonomi untuk update terbaru.
Rogé Karma, penulis asli artikel ini, adalah staf penulis di The Atlantic.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0