Esquire Gunakan AI Wawancara Aktor One Piece, Kontroversi Besar Muncul

Apr 4, 2026 - 06:00
 0  12
Esquire Gunakan AI Wawancara Aktor One Piece, Kontroversi Besar Muncul

Esquire baru-baru ini menuai kontroversi besar setelah memutuskan untuk melakukan wawancara dengan homunculus AI dari bintang serial One Piece, yaitu aktor Jepang-Amerika Mackenyu, bukan dengan sang aktor asli. Keputusan ini memicu kritik keras dari berbagai kalangan yang mempertanyakan etika dan kredibilitas jurnalisme modern di era kecerdasan buatan.

Ad
Ad

Wawancara AI yang Menghebohkan

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada 3 April 2026, Esquire Singapura terang-terangan mengakui bahwa mereka tidak berhasil mewawancarai Mackenyu secara langsung karena kesibukan jadwal sang aktor. Sebagai gantinya, mereka mengirimkan daftar pertanyaan lewat email, namun tidak mendapatkan balasan dari Mackenyu. Untuk memenuhi tenggat waktu dan kebutuhan fitur, Esquire kemudian menggunakan creative license dengan mengumpulkan kutipan-kutipan dari wawancara sebelumnya dan memprosesnya melalui program AI untuk menghasilkan jawaban baru.

"Kami sangat antusias ingin bertemu langsung dengan aktor Jepang-Amerika ini, tetapi jadwalnya menghalangi. Jadi, kami memilih korespondensi email. Daftar pertanyaan dikirim, tapi tak ada balasan. Kami lalu menggunakan kutipan-kutipan dari wawancara sebelumnya dan memprosesnya lewat AI agar menghasilkan jawaban baru," tulis Esquire.

Namun, hasilnya menimbulkan kegemparan. Jawaban-jawaban yang dihasilkan AI terdengar seperti klise dan tidak mewakili sosok asli Mackenyu, bahkan mengandung pernyataan emosional yang tidak mungkin dihasilkan oleh sebuah program komputer.

Dialog Palsu yang Mengundang Kritik

Contoh dialog dari wawancara AI yang dipublikasikan Esquire termasuk pertanyaan seperti:

  • ESQ: "Saran apa yang Anda berikan untuk menghadapi tekanan dan harapan?"
  • (AI) M: "Saya memisahkan tekanan dari beban. Tekanan datang dari luar, seperti harapan orang lain yang saya tidak bisa kendalikan, tapi beban warisan keluarga... tujuan saya bukan menyaingi ayah saya, tapi membuatnya bangga dan menginspirasi orang lain."

Namun, sebagaimana dicatat oleh Kotaku dan sumber lainnya, AI jelas tidak pernah mengenal ayah Mackenyu, Sonny Chiba, yang sudah meninggal dunia. Pertanyaan yang sangat personal seperti ini sangat tidak pantas diajukan kepada program prediksi teks yang sama sekali tidak memiliki pengalaman manusiawi.

"Anda sedang berbicara dengan chatbot! Chatbot itu tidak tertawa!" tulis Nathan Grayson, penulis artikel kritis tersebut, dengan nada frustrasi yang mendalam.

Etika Jurnalisme Terancam

Menurut pengamatan Nathan, jika suatu media tidak bisa mendapatkan wawancara eksklusif yang diinginkan, maka solusi terbaik adalah membatalkan rencana wawancara tersebut. Tidak ada "kebutuhan mendesak" untuk membuat artikel yang pada dasarnya hanyalah PR kosong dan manipulatif. Wawancara palsu dengan bantuan AI bukan hanya menipu pembaca, tetapi juga menunjukkan betapa rendahnya nilai jurnalisme saat ini sehingga pekerjaan tersebut dapat diserahkan kepada robot dan tetap dianggap memadai.

Beberapa konsekuensi serius dari praktik ini antara lain:

  • Menurunkan kredibilitas media dan kepercayaan publik terhadap jurnalistik.
  • Mengaburkan batas antara fakta dan fiksi dalam pemberitaan.
  • Merusak integritas profesi jurnalis yang sesungguhnya.
  • Mengurangi kesempatan kerja bagi jurnalis profesional yang mengandalkan wawancara asli.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kejadian yang dialami Esquire ini menjadi peringatan keras bagi industri media yang semakin tergoda menggunakan AI secara berlebihan di luar batas etika. Wawancara palsu dengan AI bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga masalah moral dan kepercayaan publik. Ketika media mulai mengorbankan keaslian demi memenuhi tenggat waktu atau menghemat biaya, mereka sejatinya merusak fondasi demokrasi yang dibangun atas informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

Lebih jauh lagi, fenomena ini mencerminkan bagaimana kecerdasan buatan bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, AI dapat membantu mempercepat kerja jurnalistik, namun di sisi lain dapat mengikis nilai-nilai dasar profesi jika tidak digunakan secara bertanggung jawab. Media harus lebih bijak dan transparan dalam mengintegrasikan teknologi ini, jangan sampai keserakahan atau ketidaktahuan malah memperparah krisis kepercayaan yang sudah ada.

Pembaca dan pengamat harus terus mengawasi perkembangan ini dan menuntut standar etika yang lebih tinggi dari media, agar jurnalisme tidak menjadi korban berikutnya dari hegemoni teknologi. Ke depan, integritas dan transparansi tetap menjadi kunci agar jurnalisme tetap relevan dan dipercaya.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, Anda dapat mengunjungi sumber asli artikel ini di Aftermath dan berita terkait lainnya di Kompas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad