Jusuf Kalla Ungkap 3 Alasan Iran Sulit Dikalahkan AS dan Israel
Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, memberikan penjelasan mendalam mengenai mengapa Iran sulit dikalahkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Dalam kuliah umum yang digelar di Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (7/4/2026), JK mengurai tiga faktor utama yang menjadi keunggulan Iran dalam menghadapi tekanan dan konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Penguasaan Teknologi Militer Sebagai Pilar Kekuatan Iran
Menurut JK, keunggulan pertama Iran terletak pada penguasaan teknologi militer yang mumpuni. Hal ini menjadi pembeda utama antara Iran dan negara-negara seperti Palestina yang tidak mampu bertahan dalam konflik karena keterbatasan teknologi.
"Mungkin hari ini Iran diserang, tapi Iran akan melawan. Karena perang sekarang bukan perang orang, perang teknologi. Siapa yang menguasai teknologi, dia yang menang," ujar JK.
Lebih lanjut, JK mencontohkan bagaimana Iran memanfaatkan teknologi dalam membangun terowongan bawah tanah dan produksi senjata canggih, yang sebagian besar keahliannya berasal dari institusi pendidikan tinggi di Iran. Ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi adalah strategi penting Iran dalam mempertahankan diri dari tekanan militer dan politik.
Warisan Sejarah Persia dan Spirit Ilmu Pengetahuan
Selain teknologi, JK menyoroti sejarah panjang bangsa Persia yang menjadi pusat keilmuan dunia pada masa lalu. Dalam peradaban Islam abad ke-7 dan ke-8, banyak ilmuwan besar berasal dari Persia, seperti Al-Khwarizmi (matematika), Ibnu Sina (kedokteran), dan ahli astronomi lainnya yang turut mengukuhkan posisi Persia sebagai bangsa yang memiliki spirit ilmu pengetahuan yang kuat.
"Dalam sejarah Islam, ahli-ahli ilmu sains dan teknologi jaman abad ke-7 ke-8 itu lebih banyak dari Persia," jelas JK.
Warisan intelektual ini menjadi landasan kuat bagi Iran untuk mengembangkan kapasitas teknologi dan ilmiah yang dapat mendukung ketahanan nasionalnya.
Mentalitas Bangsa Iran yang Kuat dan Tidak Pernah Dijajah
Faktor ketiga yang diangkat JK adalah mentalitas bangsa Iran yang berbeda dari negara-negara Arab sekitarnya. Iran atau Persia memiliki catatan sejarah yang unik karena tidak pernah mengalami penjajahan oleh kekuatan kolonial seperti Inggris dan Prancis, berbeda dengan banyak negara Arab lainnya.
"Dia (Iran) tidak pernah dijajah. Negara Arab dijajah oleh Inggris dan Prancis, tapi Iran atau Persia tidak," ujar JK.
Kondisi ini membentuk mentalitas bangsa Iran yang kuat dan mandiri dalam menghadapi berbagai tekanan, terutama dari kekuatan asing seperti Amerika Serikat dan Israel.
AS, Konflik, dan Strategi Senjata
JK juga memberikan pandangan kritis mengenai peran Amerika Serikat dalam konflik di Timur Tengah. Menurutnya, AS sering memulai konflik sebagai bentuk tekanan politik dan sekaligus untuk mendorong penjualan senjata ke negara-negara di kawasan tersebut.
- AS tidak pernah menang dalam perang setelah Perang Dunia II, contohnya di Korea, Vietnam, Afghanistan, dan Irak.
- AS menggunakan pengaruh ekonomi dan diplomasi senjata untuk mengendalikan negara-negara di Timur Tengah.
- Negara-negara Arab akhirnya membeli senjata miliaran dolar, tetapi tetap menyadari bahwa AS hanya melakukan gertakan politik.
"Amerika tidak pernah menang perang setelah Perang Dunia Kedua," kata JK menegaskan bahwa strategi AS lebih banyak menggertak dan mengandalkan penjualan senjata daripada memenangkan konflik secara nyata.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penjelasan Jusuf Kalla tentang ketangguhan Iran menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah bukan sekadar soal kekuatan militer konvensional, tetapi juga melibatkan dimensi teknologi, budaya, dan sejarah yang mendalam. Iran bukan hanya mengandalkan senjata, tetapi juga keunggulan ilmiah dan mentalitas bangsa yang kuat sebagai modal utama bertahan.
Lebih lanjut, ketidakmampuan AS memenangkan perang di berbagai negara setelah Perang Dunia II menunjukkan bahwa perang modern bukan lagi pertarungan tradisional, melainkan perang teknologi dan strategi geopolitik yang kompleks. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pembuat kebijakan di Indonesia dan negara-negara lain yang berkepentingan di kawasan, agar tidak terjebak dalam perang proxy yang hanya menguntungkan industri senjata global.
Ke depan, penting untuk mengamati bagaimana Iran terus mengembangkan teknologi militernya dan bagaimana dinamika kekuatan di Timur Tengah akan berubah di tengah persaingan global. Laporan lengkap CNN Indonesia memberikan wawasan penting yang harus dipahami publik luas dalam konteks hubungan internasional yang semakin kompleks.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0