Liburan ke Thailand Bakal Makin Mahal, Asuransi Turis Jadi Wajib 2026
Pemerintah Thailand tengah mempertimbangkan kebijakan baru yang berpotensi membuat liburan ke Thailand makin mahal. Rencana tersebut mengharuskan wisatawan asing memiliki asuransi kecelakaan sebelum memasuki negara tersebut. Tujuan utama kebijakan ini adalah mengatasi lonjakan tagihan medis tak terbayar yang membebani sistem kesehatan publik di negeri Gajah Putih.
Masalah Tagihan Medis Tak Terbayar Turis Asing
Menurut Dr. Weerasak Lorthongkham, Direktur Rumah Sakit Vachira Phuket, setiap tahun rumah sakit yang dipimpinnya harus menanggung biaya pengobatan pasien asing tanpa asuransi hingga sekitar 10 juta baht. Rumah sakit ini melayani sekitar 400.000 penduduk lokal serta lebih dari 1 juta wisatawan di kawasan Phuket yang merupakan salah satu destinasi wisata utama Thailand.
"Banyak wisatawan mencoba mengendarai motor untuk pertama kalinya di Phuket, sehingga risiko kecelakaan meningkat," ujar Dr. Weerasak, dikutip dari CNBC Indonesia.
Salah satu kasus parah yang diceritakan adalah turis asal Rusia yang mengalami cedera tulang belakang serius hingga hanya bisa menggerakkan kepala. Biaya pengobatan pasien tersebut mencapai lebih dari 1 juta baht dan tidak pernah dibayar, sehingga rumah sakit harus menanggung biaya pemulangan pasien tersebut.
Masalah serupa tidak hanya terjadi di Phuket. Kementerian Kesehatan Thailand memperkirakan total biaya medis tak terbayar dari pasien asing mencapai setidaknya 100 juta baht per tahun, terutama di destinasi wisata populer seperti Phuket dan Chiang Mai.
Faktor Utama Penyebab Kecelakaan Wisatawan
Data menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas, khususnya yang melibatkan sepeda motor, merupakan penyebab utama wisatawan dirawat di rumah sakit. Banyak turis tidak familiar dengan kondisi jalan di Thailand, sehingga risiko kecelakaan meningkat drastis.
Secara global, klaim medis darurat untuk turis rata-rata mencapai sekitar 60.000 baht per kejadian pada tahun 2025. Namun ironisnya, masih banyak turis yang datang tanpa perlindungan asuransi yang memadai.
Padahal, premi asuransi perjalanan untuk durasi dua minggu hanya berkisar sekitar 1.100 baht dengan cakupan perlindungan hingga 3,6 juta hingga 9 juta baht. Hal ini menunjukkan bahwa biaya premi tidak sebanding dengan risiko dan potensi biaya yang harus ditanggung apabila terjadi kecelakaan.
Respons Pemerintah dan Industri Wisata Thailand
Selama ini, Thailand fokus meningkatkan jumlah wisatawan melalui kebijakan seperti bebas visa. Namun, pendekatan ini kini mulai dikaji ulang menyusul beban biaya medis yang terus meningkat.
"Sekarang asuransi perjalanan sudah terjangkau, tapi perlu sistem verifikasi agar wisatawan benar-benar terlindungi," kata Sisdivachr Cheewarattanaporn, Ketua Association of Thai Travel Agents.
Pemerintah Thailand juga sempat mengusulkan biaya masuk sebesar 300 baht bagi wisatawan udara, meskipun masih dalam tahap pembahasan di kabinet. Upaya penagihan biaya medis melalui jalur diplomatik dinilai kurang efektif karena kedutaan besar biasanya menganggap biaya medis sebagai tanggung jawab pribadi wisatawan.
Thailand juga tidak dapat menahan pasien yang memiliki utang medis karena hal itu dapat merusak citra negara. Sebagai perbandingan, beberapa wilayah seperti kawasan Schengen, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Kuba sudah mewajibkan asuransi perjalanan sebagai syarat masuk negara.
Karenanya, pemerintah Thailand sedang mempertimbangkan model serupa, misalnya mengintegrasikan persyaratan asuransi ke dalam proses pengajuan visa atau pembelian tiket perjalanan.
Sinyal Kuat dari Pemerintah Thailand
Menteri Kesehatan Thailand, Pattana Promphat, menegaskan komitmen pemerintah untuk melanjutkan kebijakan ini.
"Kami siap mendorong kebijakan ini dan sudah memiliki rencana," tegas Menteri Pattana.
Namun, pemerintah menekankan pentingnya menentukan besaran perlindungan asuransi yang tepat serta mempertimbangkan berbagai kelompok wisatawan, termasuk pekerja migran.
Jika kebijakan ini diterapkan, diharapkan tidak hanya melindungi keuangan negara dari beban biaya medis tak terbayar, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan keamanan wisatawan yang berkunjung ke Thailand.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, rencana pemerintah Thailand menerapkan asuransi wajib bagi turis asing merupakan langkah strategis yang mengubah paradigma industri pariwisata dari fokus kuantitas ke kualitas dan keamanan. Selama ini, negeri Gajah Putih mengandalkan jumlah wisatawan besar sebagai indikator keberhasilan, namun beban biaya medis yang tidak tertagih mulai menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak berkelanjutan.
Selain mengurangi risiko keuangan rumah sakit dan pemerintah, kebijakan ini juga berpotensi meningkatkan kesadaran wisatawan akan pentingnya perlindungan diri saat bepergian. Hal ini bisa menekan angka kecelakaan dan kasus medis darurat yang saat ini masih tinggi, terutama di destinasi populer seperti Phuket dan Chiang Mai.
Namun, tantangan besar yang harus dihadapi adalah implementasi kebijakan ini secara efektif, termasuk verifikasi kepemilikan asuransi dan penentuan premi yang tidak memberatkan wisatawan. Pemerintah juga harus memastikan kebijakan ini tidak menurunkan daya tarik Thailand sebagai destinasi wisata utama Asia Tenggara.
Ke depan, masyarakat dan pelaku industri wisata perlu memantau perkembangan kebijakan ini karena akan menjadi preseden penting dalam tata kelola pariwisata dan kesehatan global. Integrasi asuransi dalam proses visa bisa menjadi model yang akan diikuti oleh negara lain dengan destinasi wisata besar.
Untuk informasi lebih lengkap terkait kebijakan ini, Anda bisa membaca berita asli di CNBC Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0