Premanisme di Jakarta: Warga Kini Lebih Takut Preman Daripada Hukum

Apr 13, 2026 - 09:10
 0  3
Premanisme di Jakarta: Warga Kini Lebih Takut Preman Daripada Hukum

Fenomena premanisme di Jakarta kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video viral yang memperlihatkan seorang pedagang bakso di Tanah Abang, Jakarta Pusat, membiarkan mangkuk dagangannya dihancurkan oleh seorang pria yang diduga preman. Kejadian ini terjadi pada April 2026 dan menimbulkan pertanyaan serius tentang rasa takut warga terhadap preman yang justru melebihi ketakutan mereka terhadap hukum dan aparat negara.

Ad
Ad

Situasi Mencekam di Tanah Abang

Video tersebut merekam momen ketika pedagang bakso itu dengan tenang mengatakan, "Pecahin. Pecahin aja enggak apa-apa." Namun, ketenangan itu bukan tanda kerelaan, melainkan sebuah kepasrahan terhadap tekanan yang diterimanya.

Pria yang diduga preman tersebut tidak hanya merusak barang dagangan, melainkan juga menagih uang yang biasa disebut "jatah keamanan". Kepada pelaku, sang pedagang berulang kali menyebutkan tanggal pembayaran, menegaskan bahwa masalah ini soal waktu, bukan penolakan.

"Tanggal satu. Nanti dikasih tanggal satu," ucap pedagang tersebut, menunjukkan bahwa ia berusaha menenangkan situasi meski dalam posisi tertekan.

Keadaan ini menggambarkan betapa dalamnya pengaruh premanisme di ruang publik dan bagaimana warga merasa tidak berdaya menghadapi intimidasi tersebut.

Premanisme dan Dampaknya terhadap Rasa Aman Warga

Premanisme dalam konteks ini adalah praktik pemaksaan dan pemungutan liar yang kerap dilakukan oleh kelompok tertentu di kawasan ramai seperti Tanah Abang. Kondisi ini menimbulkan beberapa dampak serius, antara lain:

  • Menurunnya rasa aman warga dan pelaku usaha yang takut menjadi target kekerasan atau pemerasan.
  • Terhambatnya aktivitas ekonomi karena pedagang harus mengalokasikan dana untuk membayar "jatah keamanan".
  • Ketidakpercayaan terhadap aparat hukum yang dianggap kurang mampu atau enggan menangani masalah premanisme.
  • Kondisi sosial yang rawan konflik dan menciptakan ketidakstabilan di ruang publik.

Faktor Penyebab Premanisme Masih Eksis

Premanisme bukan fenomena baru di Jakarta, bahkan sudah berlangsung puluhan tahun. Beberapa faktor yang membuat praktik ini sulit diberantas antara lain:

  1. Kurangnya penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku premanisme sehingga mereka merasa kebal hukum.
  2. Adanya praktik korupsi dan kolusi yang membuat aparat terkadang membiarkan atau bahkan ikut menikmati hasil pemerasan.
  3. Ketergantungan warga terhadap "jatah keamanan" yang dianggap sebagai biaya wajib demi kelangsungan usaha.
  4. Kondisi ekonomi yang sulit yang mendorong sebagian orang memilih menjadi preman sebagai sumber penghasilan.

Upaya Penanganan dan Harapan ke Depan

Pemerintah dan aparat keamanan telah berupaya melakukan razia dan operasi pemberantasan premanisme di berbagai wilayah, termasuk Tanah Abang. Namun, tantangan besar tetap ada dalam mengubah paradigma masyarakat dan aparat agar tidak lagi membiarkan premanisme tumbuh subur.

Menurut laporan Kompas, kolaborasi antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari ancaman premanisme.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, video viral yang memperlihatkan pedagang bakso yang pasrah menghadapi perusakan dagangannya oleh preman ini merupakan cermin nyata kegagalan sistem penegakan hukum dan keamanan publik di Jakarta. Ketika warga lebih takut pada preman daripada hukum, itu berarti negara kehilangan legitimasi dan kewibawaan dalam melindungi rakyatnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi kecil, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Jika dibiarkan, premanisme akan terus menggerogoti tatanan sosial dan menjadikan ruang publik sebagai zona konflik yang rawan.

Ke depan, pembenahan sistem hukum yang transparan dan tegas, serta pemberdayaan masyarakat untuk melaporkan dan melawan premanisme, menjadi kunci utama. Selain itu, penguatan ekonomi warga kecil agar tidak terjebak dalam lingkaran pembayaran "jatah keamanan" juga harus menjadi perhatian serius.

Warga dan pemerintah harus bersama-sama mengubah paradigma lama tentang premanisme, dari sebuah fenomena yang dianggap biasa menjadi masalah serius yang harus segera diselesaikan demi terciptanya Jakarta yang aman dan berkeadaban.

Dengan terus mengikuti perkembangan dan upaya pemberantasan premanisme, kita semua berharap situasi yang membuat warga merasa lebih takut pada preman daripada hukum ini dapat segera berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad