Claude Jadi Sorotan Utama di Konferensi HumanX San Francisco 2026
Pada konferensi HumanX AI yang digelar di San Francisco minggu ini, ribuan ahli teknologi berkumpul di Moscone Center untuk membahas bagaimana agentic AI mengubah dunia bisnis. Agentic AI, teknologi yang memanfaatkan agen digital untuk mengotomasi tugas bisnis dan pemrograman, kini mulai diterapkan luas di berbagai industri, terutama lewat chatbot yang melayani konsumen dan perusahaan.
Saat saya menanyakan chatbot mana yang paling populer, satu nama muncul paling sering di pembicaraan para peserta: Claude.
Anthropic, perusahaan di balik Claude, mendapatkan banyak pujian selama berbagai panel diskusi sepanjang pekan. Bahkan, para vendor yang saya temui di lantai pameran juga lebih banyak membicarakan Claude dibandingkan chatbot lain. Menariknya, sangat jarang saya mendengar sebutan ChatGPT dari OpenAI dalam perbincangan tersebut. Salah satu vendor bahkan secara terbuka menyatakan bahwa timnya lebih sering menggunakan Claude, sementara ChatGPT dianggap mulai menurun kualitasnya, atau dalam istilah populer internet, "fell off".
Pandangan ini sepertinya bukan hal yang unik. Meskipun OpenAI baru saja mengumumkan pendanaan sebesar US$122 miliar dan bersiap untuk penawaran umum perdana (IPO), persepsi pasar menunjukkan bahwa perusahaan ini kehilangan pijakan, atau setidaknya mulai ragu menentukan langkah berikutnya.
Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa OpenAI kurang fokus. Bulan lalu, mereka meninggalkan beberapa proyek sampingan yang telah lama berjalan, seperti generator video AI Sora dan rencana kontroversial peluncuran versi "seksi" ChatGPT. Kini, perusahaan berfokus pada layanan bisnis dan pemrograman. Di sisi lain, sejumlah peristiwa termasuk artikel di New Yorker yang mempertanyakan kepercayaan terhadap CEO OpenAI, Sam Altman, memicu citra negatif. Hubungan OpenAI dengan pemerintahan Trump dan keputusan memasang iklan di ChatGPT juga menambah kontroversi.
"Saya pikir Sam adalah salah satu pemimpin dan eksekutif paling terkenal di dunia," kata Bret Taylor, pendiri dan CEO Sierra sekaligus ketua dewan OpenAI, saat sesi HumanX yang dipandu Alex Heath. "Jika Anda mencari pembenci, pasti akan menemukannya, dan mereka akan sangat vokal. Tapi saya percaya Sam adalah pemimpin AI yang luar biasa dan saya benar-benar percaya pada karakternya."
Kontroversi dan perubahan arah yang terjadi membuat OpenAI terlihat lebih reaktif daripada strategis, seolah hanya merespons kejadian dibandingkan memimpin inovasi. Namun, dari sisi popularitas dan pendapatan, OpenAI dan Anthropic kini bersaing ketat. Beberapa data menunjukkan Anthropic mulai mengejar ketertinggalan di kalangan pengguna bisnis. The Wall Street Journal bahkan menyebut kedua perusahaan ini sebagai "bisnis dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah teknologi".
Artinya, istilah "jatuh" untuk OpenAI mungkin hanya berarti mereka tidak lagi menjadi raja tunggal di bidangnya. Persaingan sehat kini hadir, sesuatu yang biasa terjadi di industri mana pun.
OpenAI pun tampaknya bertekad mempertahankan dominasinya. Pada minggu yang sama, mereka mengumumkan paket langganan ChatGPT baru seharga US$100 per bulan, yang menawarkan akses lebih luas ke Codex, alat bantu pemrograman mereka. Langkah ini jelas ditujukan untuk mendorong penggunaan yang lebih luas sekaligus menarik pengguna dari Claude Code.
Dalam diskusi HumanX bersama jurnalis Bloomberg Rachel Metz, CTO OpenAI untuk aplikasi B2B, Srinivas Narayanan, menyoroti betapa cepatnya perubahan teknologi terjadi.
"Kita sedang berada di momen luar biasa di dunia teknologi, di mana setiap bulan, bahkan setiap hari, kita menantikan sesuatu yang baru," ujar Narayanan. "Contohnya pada coding agentic, kita tahu AI akan mempengaruhi rekayasa perangkat lunak. Orang sudah menggunakan coding asistif selama setahun terakhir, tapi dalam beberapa bulan terakhir, bidang ini benar-benar berubah."
Agentic AI memang menjadi fokus utama komunitas teknologi saat ini, mengingat aplikasi kreatif AI lain belum banyak menunjukkan hasil signifikan. Namun, seberapa cepat perusahaan mulai menyerahkan berbagai pekerjaan pada asisten otomatis ini cukup mengejutkan. Seperti yang disampaikan Narayanan, perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan masa depan AI masih sangat terbuka lebar.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fenomena Claude yang naik daun di konferensi HumanX menandai pergeseran penting dalam lanskap AI yang selama ini didominasi OpenAI. Persaingan ketat antara Anthropic dan OpenAI menunjukkan bahwa industri AI kini mulai memasuki fase kompetisi yang lebih sehat dan dinamis. Hal ini berpotensi mendorong inovasi lebih cepat dan memberi pilihan yang lebih beragam bagi pengguna bisnis dan konsumen.
Namun, citra negatif dan keputusan kontroversial OpenAI, seperti kemitraan politik dan penambahan iklan di ChatGPT, bisa menjadi hambatan serius bagi kepercayaan publik dan pelanggan. Sementara itu, Anthropic yang fokus dan mendapatkan pujian banyak pihak, berpeluang menjadi pesaing kuat yang dapat menggoyahkan posisi OpenAI jika mampu mempertahankan tren positifnya.
Ke depan, penting untuk mencermati bagaimana kedua raksasa AI ini mengelola strategi produk dan hubungan publiknya. Apakah OpenAI bisa kembali merebut hati pasar dengan inovasi dan manajemen yang lebih matang? Atau Anthropic akan terus menanjak dan mengambil alih posisi dominan? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan arah perkembangan AI global dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini seputar perkembangan AI dan teknologi, Anda bisa membaca artikel asli di TechCrunch dan mengikuti berita dari CNN Indonesia Teknologi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0