Cegah Banjir Hulu Brantas: Warga dan Yayasan Tanam Pohon Menjaga Sumber Air
Upaya mencegah banjir bandang di kawasan hulu Sungai Brantas semakin diperkuat melalui sinergi antara warga setempat dan berbagai organisasi. Salah satu inisiatif terbaru adalah penyelenggaraan Diklat Rumat Sumber yang mengusung tema “Menjaga Air Merawat Budaya”. Kegiatan ini berlangsung di Desa Bulukerto dan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada tanggal 11–12 April 2026, sebagai upaya strategis menjaga kelestarian sumber air sekaligus budaya lokal.
Kolaborasi Warga dan Yayasan dalam Konservasi Hulu Brantas
Yayasan Nawadya Cita Nusantara memimpin kegiatan ini sebagai bentuk nyata aksi konservasi yang melibatkan masyarakat langsung. Melalui diklat ini, warga mendapatkan edukasi pentingnya pelestarian lingkungan terutama dengan cara menanam pohon yang dapat menahan air dan mencegah aliran deras yang menyebabkan banjir bandang.
Menurut Ketua Yayasan Nawadya Cita Nusantara, kegiatan ini bukan sekadar penanaman pohon biasa, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga sumber air adalah menjaga kehidupan dan budaya masyarakat hulu Brantas secara menyeluruh.
Manfaat Penanaman Pohon untuk Pencegahan Banjir
Penanaman pohon di daerah hulu memiliki berbagai manfaat penting, antara lain:
- Meningkatkan daya serap air tanah sehingga mengurangi limpasan permukaan yang dapat memicu banjir bandang.
- Mencegah erosi tanah yang berpotensi merusak kualitas dan kuantitas air di Sungai Brantas.
- Menjaga keseimbangan ekosistem dan habitat flora-fauna di kawasan hulu.
- Memperkuat ketahanan lingkungan menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga dan meningkatkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan.
Diklat Rumat Sumber: Menjaga Air, Merawat Budaya
Diklat ini berlangsung selama dua hari dengan berbagai sesi edukasi, praktik langsung, dan diskusi tentang pentingnya konservasi air dan budaya lokal. Tema “Menjaga Air Merawat Budaya” menekankan bahwa sumber daya air bukan hanya aspek lingkungan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat hulu Brantas.
Peserta diklat berasal dari berbagai elemen masyarakat Desa Bulukerto dan Tulungrejo yang belajar teknik penanaman pohon, pengelolaan lingkungan, serta strategi mitigasi banjir yang berkelanjutan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, inisiatif Diklat Rumat Sumber ini merupakan langkah progresif dan sangat strategis dalam menghadapi ancaman banjir bandang yang kerap menghantui wilayah hulu Sungai Brantas. Kolaborasi aktif antara warga dan yayasan lingkungan mampu membangun kesadaran kolektif yang selama ini kurang mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan sektor formal.
Lebih jauh, penanaman pohon dan konservasi sumber air di hulu berpotensi menekan risiko bencana di hilir yang selama ini menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial besar. Namun, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada komitmen jangka panjang seluruh pihak, termasuk dukungan kebijakan dan pendanaan dari pemerintah daerah dan pusat.
Ke depan, pembelajaran dari kegiatan ini bisa direplikasi di kawasan lain yang memiliki karakteristik geografis serupa. Warga dan pemangku kepentingan harus terus memperkuat sinergi agar upaya menjaga sumber air tidak hanya menjadi kegiatan sekali jalan, melainkan sebuah gerakan budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk informasi lebih lengkap terkait upaya konservasi di wilayah hulu Brantas, kunjungi sumber resmi RRI Malang dan CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0