Harga Emas dan Perak Ambruk Lebih dari 2% Akibat Gagalnya Kesepakatan AS-Iran
Harga emas dan perak mengalami penurunan tajam pada pagi hari ini, Senin (13/4/2026), menyusul kandasnya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Keputusan ini memicu gejolak pasar global, terutama pada komoditas logam mulia yang biasanya menjadi aset safe haven saat ketidakpastian meningkat.
Pada pukul 06.29 WIB, harga emas turun sebesar 2,01% ke level US$ 4.651,94 per troy ons, sementara harga perak anjlok lebih dalam, yakni turun 3,4% ke US$ 73,3 per troy ons pada pukul 06.39 WIB. Penurunan ini terjadi di tengah melonjaknya nilai dolar AS yang mencapai indeks 99,13, naik signifikan dari level 98 dua hari sebelumnya.
Ketegangan Geopolitik Dorong Penguatan Dolar AS dan Tekanan pada Harga Logam Mulia
Kegagalan negosiasi antara Iran dan AS meningkatkan ketegangan geopolitik, terutama dengan pengumuman blokade pelabuhan-pelabuhan Iran oleh militer Amerika Serikat yang mulai berlaku Senin pukul 21.00 WIB. Langkah ini berpotensi mengguncang pasar energi global karena Selat Hormuz, jalur distribusi minyak penting dunia, menjadi pusat ketidakpastian.
Menurut US Central Command (CENTCOM), blokade ini akan membatasi aktivitas maritim yang berkaitan langsung dengan Iran, namun tidak menghalangi kapal pelayaran yang melintas menuju pelabuhan non-Iran. Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa Angkatan Laut AS akan "memblokade setiap kapal" yang mencoba memasuki atau keluar dari Selat Hormuz.
"Langkah keras ini diambil karena perundingan dengan Iran di Pakistan berakhir gagal. Teheran menolak untuk melepaskan ambisi nuklirnya," ujar Presiden Trump.
Namun Iran memiliki versi berbeda, mengklaim bahwa kedua pihak nyaris mencapai kesepakatan, tetapi negosiasi runtuh akibat tuntutan AS yang dianggap maksimalis dan berubah-ubah. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman apapun, menandakan peluang kompromi dalam waktu dekat sangat kecil.
Data Ekonomi dan Inflasi Menjadi Fokus Investor Pekan Ini
Selain ketegangan geopolitik, investor juga waspada terhadap sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk inflasi domestik dan data ekonomi dari China hingga Amerika Serikat. Kebijakan moneter The Federal Reserve yang akan dipaparkan oleh beberapa pejabatnya juga menjadi perhatian utama, karena berpotensi memengaruhi pergerakan pasar logam mulia dan mata uang global.
Analisis Harga Emas dan Perak: Peluang dan Risiko
Dalam kondisi pasar yang sangat volatil ini, emas dan perak masih menawarkan peluang trading, namun dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Harga emas cenderung bergerak dalam rentang antara US$4.400 hingga US$5.000 per troy ons, dengan zona resistensi kuat di kisaran US$4.800–US$4.850. Selama level ini belum ditembus, kenaikan harga emas jangka panjang sulit terjadi.
Perak, yang sebagian besar digunakan untuk kebutuhan industri seperti elektronik dan energi surya, menghadapi tekanan tambahan karena ketidakpastian pasar global menyebabkan perlambatan investasi dan produksi di sektor-sektor tersebut. Kuatnya dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi juga membuat perak menjadi kurang menarik dibandingkan aset berbasis dolar lainnya.
- Harga emas turun 2,01% ke US$4.651,94 per troy ons
- Harga perak ambruk 3,4% ke US$73,3 per troy ons
- Dolar AS menguat ke indeks 99,13
- Militer AS mulai blokade pelabuhan Iran Senin malam WIB
- Ketegangan geopolitik dan data ekonomi menjadi faktor utama pasar pekan ini
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kegagalan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS bukan hanya memicu gejolak jangka pendek pada harga emas dan perak, tetapi juga mengindikasikan potensi ketidakstabilan yang lebih luas di pasar energi dan keuangan global. Investor harus waspada terhadap risiko berkelanjutan yang dapat memperkuat fluktuasi pasar dan mempengaruhi harga komoditas secara signifikan.
Selain itu, penguatan dolar AS yang didorong oleh sentimen safe haven dapat menekan permintaan logam mulia yang dihargai dalam dolar. Dalam konteks ini, emas dan perak akan lebih cocok diperdagangkan secara taktikal—memanfaatkan volatilitas untuk profit jangka pendek—daripada sebagai investasi jangka panjang tanpa strategi keluar yang jelas.
Ke depan, perkembangan terbaru dari situasi di Timur Tengah, termasuk reaksi Iran dan langkah kebijakan AS selanjutnya, serta data ekonomi utama dari AS dan China, akan menjadi faktor penentu arah harga emas dan perak. Pembaca disarankan untuk terus memantau berita terbaru agar dapat mengambil keputusan investasi secara lebih tepat.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini terkait perkembangan ini, Anda dapat membaca laporan lengkapnya di CNBC Indonesia dan CNN Indonesia Ekonomi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0