Pajak Turis Jepang Naik Jadi 3.000 Yen Mulai Juli 2026, Liburan Makin Mahal

Apr 13, 2026 - 11:14
 0  3
Pajak Turis Jepang Naik Jadi 3.000 Yen Mulai Juli 2026, Liburan Makin Mahal

Jepang, salah satu destinasi favorit wisatawan Indonesia, akan menaikkan pajak turis asing yang selama ini dikenakan sebesar 1.000 yen menjadi 3.000 yen mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diambil untuk mengatasi masalah overtourism yang semakin membebani fasilitas dan kualitas hidup warga lokal.

Ad
Ad

Peningkatan Pajak Turis sebagai Upaya Kontrol Wisatawan

Negeri Sakura telah lama menjadi magnet wisatawan dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, berkat budaya yang unik, kuliner khas, dan kemudahan bebas visa bagi pemegang paspor elektronik Indonesia. Namun, lonjakan jumlah wisatawan menyebabkan dampak negatif yang memaksa pemerintah Jepang untuk mengambil langkah tegas.

Menurut Hokuto Asano dari Kedutaan Besar Jepang di Washington, D.C., kenaikan pajak ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengatur pariwisata secara berkelanjutan. Dalam wawancara dengan Fox News, Asano mengatakan:

"Jepang menargetkan 60 juta pengunjung asing dan pengeluaran pariwisata mancanegara sebesar 15 triliun yen pada tahun 2030 - sambil menyeimbangkan perluasan pariwisata dengan kualitas hidup penduduk dan mempromosikan destinasi regional."

Kenaikan pajak turis dari sekitar Rp100 ribu menjadi Rp300 ribu per orang ini diharapkan dapat menekan jumlah wisatawan yang datang secara berlebihan sekaligus meningkatkan pendapatan daerah untuk pengelolaan fasilitas wisata.

Festival Bunga Sakura di Arakurayama Sengen Dibatalkan Karena Overtourism

Salah satu dampak nyata dari overtourism adalah pembatalan Festival Bunga Sakura di Taman Arakurayama Sengen, Yamanashi, yang biasanya menjadi daya tarik utama dengan sekitar 200.000 pengunjung setiap tahunnya. Festival ini dikenal dengan pemandangan ikonik Gunung Fuji yang dipadukan dengan mekarnya bunga sakura dan pagoda lima lantai.

Pemerintah kota mengumumkan pembatalan festival tahun ini dengan alasan kekhawatiran terhadap perilaku buruk turis dan dampak negatif overtourism yang mengganggu kenyamanan warga sekitar. Saat musim puncak bunga sakura, hampir 10.000 orang melewati daerah tersebut setiap hari, sebuah jumlah yang sudah tidak dapat lagi ditangani oleh masyarakat lokal.

Dampak Negatif Overtourism pada Warga Lokal dan Lingkungan

Sepanjang tahun 2025, jumlah turis asing yang berkunjung ke Jepang mencapai rekor dengan melampaui 40 juta orang. Namun, jumlah ini membawa konsekuensi serius bagi kehidupan warga dan lingkungan sekitar lokasi wisata.

  • Masalah sanitasi menjadi salah satu keluhan utama, seperti kasus turis yang memasuki rumah warga untuk menggunakan toilet, hingga buang air sembarangan di halaman rumah.
  • Keselamatan warga juga terancam karena banyaknya kerumunan yang menyulitkan anak-anak berjalan ke sekolah dengan aman.
  • Perilaku turis yang tidak tertib menimbulkan konfrontasi dengan penduduk lokal, menambah ketegangan di kawasan wisata.

Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, menegaskan keprihatinannya:

"Saya merasakan krisis yang mendalam saat menyaksikan kenyataan bahwa, di balik pemandangan indah ini, kehidupan tenang warga kita terancam."

Kebijakan kenaikan pajak turis dan pembatalan festival populer merefleksikan tantangan yang dihadapi Jepang dalam mengelola pariwisata yang masif. Pemerintah berusaha untuk mencapai target 60 juta pengunjung pada 2030 dengan pendekatan yang lebih terukur agar dampak negatif terhadap masyarakat lokal dapat diminimalkan.

Meski demikian, para wisatawan dan pelaku industri pariwisata perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, termasuk biaya yang lebih tinggi dan pembatasan acara tertentu demi kelangsungan pariwisata yang berkualitas.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kenaikan pajak turis Jepang ini bukan sekadar soal biaya tambahan bagi wisatawan, melainkan sinyal kuat bahwa negara maju seperti Jepang mulai serius menangani overtourism yang sudah menjadi masalah global di destinasi wisata populer. Langkah ini bisa menjadi precedent bagi negara lain yang menghadapi tantangan serupa, termasuk Indonesia yang juga tengah mengembangkan destinasi wisata internasional.

Selain itu, pembatalan festival sakura menunjukkan bahwa pariwisata massal bisa mengancam kelestarian budaya dan kenyamanan warga lokal. Turis perlu lebih sadar akan dampak sosial dan lingkungan dari kunjungan mereka, sementara pemerintah harus terus berinovasi dalam pengaturan wisata yang berkelanjutan.

Ke depan, penting untuk terus memantau bagaimana kebijakan ini berdampak terhadap jumlah kunjungan dan kualitas pariwisata di Jepang. Apakah kenaikan pajak akan efektif menekan overtourism tanpa mengurangi minat wisatawan? Ini menjadi pertanyaan penting yang harus dijawab dalam beberapa tahun mendatang.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa membaca versi asli berita ini di CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad