Update Perang AS-Iran: Gencatan Senjata Gagal, Selat Hormuz Terancam Blokade

Apr 13, 2026 - 14:00
 0  8
Update Perang AS-Iran: Gencatan Senjata Gagal, Selat Hormuz Terancam Blokade

Ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat tajam setelah upaya gencatan senjata gagal total. Situasi ini menyebabkan ancaman blokade di jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia. Kondisi ini tidak hanya memperburuk krisis regional, tetapi juga mengguncang pasar minyak global dan menekan arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Ad
Ad

Berikut adalah 8 update terbaru terkait perang AS-Iran dan dampaknya, yang dihimpun dari laporan CNBC Indonesia pada Senin (13/4/2026).

1. Trump Klaim Blokade Pelabuhan Iran Akan Efektif

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa rencana blokade pelabuhan Iran merupakan langkah strategis untuk menekan perekonomian Teheran, terutama sektor energi. Menurut Trump, blokade ini didukung oleh sejumlah negara, meskipun ia tidak merinci siapa saja yang terlibat.

"Blokade ini akan sangat efektif," ujar Trump, menegaskan bahwa langkah tersebut sebagai respons atas kegagalan diplomasi yang diharapkan bisa meredakan ketegangan.

2. Lonjakan Harga Minyak Setelah Pengumuman Blokade

Pasar minyak global langsung bereaksi dengan kenaikan tajam. Harga minyak mentah AS naik hingga 8% ke US$104,24 per barel, sementara minyak Brent naik 7% ke US$102,29 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, memperpanjang volatilitas harga minyak yang sudah tinggi sejak konflik memanas sejak Februari 2026.

3. Blokade Selat Hormuz dan Upaya Negara Teluk Cari Alternatif

Iran menegaskan tidak mengizinkan kapal militer AS melintas Selat Hormuz dan mengancam tindakan tegas terhadap pelanggaran. Dalam 24 jam terakhir, hanya tiga kapal yang berhasil lewat, jauh dari rata-rata normal sekitar 100 kapal per hari.

Negara-negara Teluk, terutama anggota GCC, mulai mencari jalur alternatif, seperti pelonggaran pembatasan maritim Qatar dan pemanfaatan pipa East-West Saudi yang mampu mengalirkan hingga 7 juta barel per hari tanpa melewati Hormuz.

4. Negosiasi Nuklir Iran Diperkirakan Butuh Waktu Lama

Mantan negosiator JCPOA, Federica Mogherini, mengingatkan bahwa proses negosiasi nuklir memerlukan waktu panjang dan kerja teknis yang rumit. Ia menyindir harapan cepat tercapai kesepakatan, dengan pengalaman JCPOA yang butuh 12 tahun negosiasi intensif.

AS sendiri keluar dari JCPOA secara sepihak pada 2018, yang memicu ketegangan saat ini.

5. Iran Siap Hadapi Perang Berkepanjangan, Dampak Global Mengancam

Akademisi Universitas Teheran, Zohreh Kharazmi, menegaskan Iran siap mempertahankan kedaulatan secara jangka panjang. Ia mengingatkan bahwa blokade Selat Hormuz berpotensi melumpuhkan distribusi komoditas strategis global seperti minyak, pupuk, dan helium.

"Amerika Serikat tidak berhak menentukan bagaimana rakyat Iran bertindak atau kapal mana yang boleh melintas," tegas Kharazmi.

6. Ketidaksepahaman Pernyataan Trump dan Militer AS Soal Blokade

Terjadi kebingungan terkait implementasi blokade. Trump menyebut semua kapal melintas bisa menjadi target, namun Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklarifikasi hanya kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran yang menjadi sasaran, sementara kapal internasional lain tetap bebas berlayar.

Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan legalitas dan kejelasan aturan di lapangan.

7. Risiko Militer Tinggi Jika AS Paksa Buka Selat Hormuz

Pakar militer Harlan Ullman memperingatkan bahwa meski AS mampu membuka paksa Selat Hormuz, operasi tersebut memiliki risiko besar. Iran diperkirakan akan memakai taktik asimetris seperti ranjau laut dan drone secara masif, yang dapat menyulitkan pertahanan AS.

"Ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit," kata Ullman, serta menyoroti dampak besar serangan terhadap kapal AS pada opini publik domestik.

8. Australia Serukan Diplomasi dan Tolak Ikut Blokade

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyerukan agar perundingan damai dilanjutkan. Ia menegaskan Australia tidak terlibat dalam blokade dan menolak permintaan partisipasi.

"Kami ingin konflik ini segera berakhir dan tidak menerima permintaan apa pun untuk ikut blokade," ujar Albanese.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, gagalnya gencatan senjata dan eskalasi blokade Selat Hormuz menandai fase baru yang lebih berbahaya dalam konflik AS-Iran. Selat Hormuz bukan hanya jalur transportasi minyak penting, tetapi juga simbol kerawanan geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia secara luas.

Ketidaksepahaman internal di pihak AS antara pernyataan Presiden Trump dan Komando Pusat menimbulkan ketidakpastian aturan main, yang bisa memperburuk situasi militer di lapangan dan mengundang konflik terbuka. Sementara itu, Iran yang siap berperang panjang menunjukkan bahwa konflik ini tidak akan mudah diselesaikan dalam waktu dekat, apalagi dengan negosiasi nuklir yang kompleks dan berlarut-larut.

Publik dan pasar global wajib mewaspadai perkembangan selanjutnya, terutama bagaimana respons negara-negara Teluk dan dunia internasional dalam menjaga jalur energi tetap aman dan diplomasi damai bisa kembali dihidupkan.

Untuk informasi terbaru dan analisis mendalam, tetap ikuti pemberitaan terpercaya dan perkembangan resmi dari kedua belah pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad