Trump Kritik Keras Paus Leo XIV Soal Perang AS-Iran: Saya Bukan Penggemarnya

Apr 13, 2026 - 17:40
 0  6
Trump Kritik Keras Paus Leo XIV Soal Perang AS-Iran: Saya Bukan Penggemarnya

Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan dirinya bukan penggemar besar Paus Leo XIV setelah pemimpin umat Katolik dunia itu mengkritik perang antara Amerika Serikat dan Iran serta menyerukan perdamaian. Pernyataan ini disampaikan Trump saat berbicara dengan wartawan di Joint Base Andrews, Maryland, pada Minggu, 12 April 2026.

Ad
Ad

Trump menilai bahwa Paus Leo XIV terlalu liberal dan lemah dalam menghadapi negara-negara yang memiliki senjata nuklir, termasuk Iran. Menurutnya, paus tersebut tidak mempercayai upaya untuk menghentikan kejahatan dan kebijakan luar negerinya buruk.

"Saya bukan penggemar besar Paus Leo. Dia sangat liberal, dan dia adalah seseorang yang tidak percaya pada upaya menghentikan kejahatan," ujar Trump. "Saya tidak ingin seorang Paus yang menganggap tidak masalah bagi Iran memiliki senjata nuklir. Paus Leo LEMAH dalam menangani kejahatan, dan buruk dalam kebijakan luar negeri."

Kritik Trump terhadap Paus Leo XIV

Dalam pernyataannya, Trump bahkan menyatakan bahwa Paus Leo XIV tidak akan bisa terpilih sebagai pemimpin Katolik tanpa dukungan Amerika Serikat, khususnya di masa kepemimpinannya. Ia menilai paus tersebut dipilih karena dianggap sebagai orang Amerika dan sebagai strategi menghadapi dirinya.

"Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," kata Trump seperti dikutip dari AFP.

Selain itu, Trump memperlihatkan sikap yang cukup provokatif dengan mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus Kristus, mengenakan jubah merah-putih dan "menyembuhkan" seseorang dengan latar belakang bendera Amerika Serikat. Ini bukan kali pertama Trump dan Gedung Putih membagikan gambar AI yang kontroversial, termasuk dirinya berpakaian seperti Paus.

Seruan Perdamaian Paus Leo XIV

Sementara itu, pada Sabtu, 11 April 2026, Paus Leo XIV secara terbuka menyerukan agar para pemimpin dunia mengakhiri kekerasan dan perang, khususnya di tengah konflik yang terus berkecamuk di Timur Tengah akibat serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Paus mendesak umat dan para pemimpin dunia untuk berhenti memuja diri sendiri, kekuasaan, dan perang. Ia menyebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Raja Damai yang menolak keras segala bentuk perang dan kekerasan.

"Cukup dengan penyembahan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup dengan pamer kekuasaan! Cukup dengan perang!" seru Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Di awal konflik AS-Iran, Paus juga menyampaikan khotbah Minggu Palma yang menegaskan bahwa doa orang yang berperang tidak didengar oleh Yesus. Ia menolak penggunaan agama sebagai pembenaran untuk peperangan.

"Inilah Tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang," kata Paus pertama asal Amerika Serikat ini di St. Peter's Square, Vatikan.

Implikasi dan Reaksi Internasional

Kritik Paus Leo XIV terhadap perang AS-Iran menjadi sorotan global mengingat posisi Paus sebagai pemimpin spiritual lebih dari satu miliar umat Katolik di dunia. Sementara itu, respon keras Trump menunjukkan ketegangan antara kepemimpinan politik dan keagamaan dalam menanggapi konflik internasional.

Beberapa pihak menilai seruan perdamaian Paus sebagai langkah penting untuk mengurangi risiko eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat berdampak lebih luas. Namun, sikap Trump yang menolak kritik tersebut dan menekankan kekuatan militer menandakan bahwa ketegangan masih akan berlanjut.

  • Trump mengancam mengurangi iuran AS ke NATO terkait dukungan perang Iran.
  • Paus Leo XIV menekankan pentingnya diplomasi dan perdamaian di tengah konflik bersenjata.
  • Ketegangan antara AS dan Vatikan memperlihatkan perbedaan pandangan soal kebijakan luar negeri dan moralitas perang.

Menurut laporan CNN Indonesia, perseteruan ini menambah dinamika kompleks dalam hubungan internasional seputar konflik Iran dan peran Amerika Serikat.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan keras Trump terhadap Paus Leo XIV mencerminkan ketegangan mendasar antara kekuatan politik dan suara moral global. Sikap Trump yang mengedepankan kekuatan militer dan menolak kritik spiritual menunjukkan pendekatan yang sangat pragmatis dan terkadang konfrontatif dalam kebijakan luar negeri AS.

Di sisi lain, seruan Paus untuk perdamaian dan penolakan terhadap perang mengingatkan dunia akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan diplomasi dalam menyelesaikan konflik. Namun, kritiknya terhadap kebijakan Trump berpotensi menimbulkan gesekan lebih jauh antara Vatikan dan pemerintahan AS, yang dapat mempengaruhi posisi AS di kancah internasional.

Kedepannya, publik dan pengamat perlu mengamati bagaimana kedua figur ini dan institusi yang mereka pimpin akan mempengaruhi dinamika konflik AS-Iran serta prospek perdamaian di Timur Tengah. Ketegangan ini juga menjadi cerminan bahwa perang bukan hanya persoalan strategi militer, melainkan juga pertarungan nilai dan moral di panggung dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad