Bagaimana AI Mengubah Tempat Kerja Amerika: Hasil Survei Gallup Terbaru
Semakin banyak pekerja di Amerika Serikat yang mulai bereksperimen dengan kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaan mereka, namun masih terdapat kelompok pekerja yang skeptis terhadap teknologi ini. Survei terbaru dari Gallup mengungkapkan bahwa meskipun penggunaan AI meningkat, kekhawatiran terhadap potensi penggantian pekerjaan oleh teknologi baru juga ikut naik.
Penggunaan AI yang Meningkat di Tempat Kerja Amerika
Survei Gallup yang dilakukan pada Februari 2026 menemukan bahwa sekitar 3 dari 10 pekerja menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaan mereka, baik setiap hari atau beberapa kali seminggu. Sementara itu, sekitar 2 dari 10 pekerja menggunakan AI secara tidak rutin, yakni beberapa kali dalam sebulan atau setahun.
Sekitar 4 dari 10 pekerja melaporkan bahwa organisasi mereka telah mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan praktik kerja. Dari mereka yang menggunakan AI, dua pertiga mengatakan bahwa AI memberikan dampak positif, baik "sangat" atau "cukup" besar terhadap produktivitas dan efisiensi individu di tempat kerja.
Pengguna AI yang berada dalam posisi manajerial cenderung merasakan manfaat lebih besar dibandingkan pekerja biasa. Sekitar 7 dari 10 pemimpin yang menggunakan AI beberapa kali setahun menyatakan AI meningkatkan efisiensi kerja mereka, dibandingkan dengan sedikit lebih dari setengah pekerja biasa.
Contoh Penggunaan AI dalam Berbagai Profesi
Scott Segal, seorang pekerja sosial di Virginia Utara, menggunakan AI secara rutin untuk mencari informasi yang membantu menghubungkan pasien lansia dan rentan dengan sumber daya kesehatan. Meski ia menyadari pentingnya sentuhan manusia dalam pekerjaannya, Segal juga mengakui bahwa AI berpotensi menggantikannya di masa depan.
"Saya sedang merencanakan ke depan," kata Segal, 53 tahun. "Saya pikir semua orang yang bekerja di bidang yang bisa digantikan harus mempersiapkan diri."
Sementara itu, Elizabeth Bloch, pengacara ketenagakerjaan di Louisiana, mengaku menggunakan ChatGPT untuk membantu menyusun surat atau email dengan nada diplomatis di profesinya yang sering kali penuh konfrontasi. Namun, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang kesalahan informasi atau "halusinasi" yang bisa muncul dari AI, terutama dalam konteks hukum yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Alasan Beberapa Pekerja Enggan Menggunakan AI
Meskipun perusahaan menyediakan alat AI, tidak semua pekerja mengadopsinya. Sekitar setengah pekerja di AS hanya menggunakan AI sekali setahun atau tidak sama sekali. Alasan utama di antaranya:
- Preferensi untuk metode kerja tradisional: 46% pekerja yang tidak menggunakan AI memilih cara kerja yang sudah mereka kenal.
- Keberatan etis dan kekhawatiran privasi: Sekitar 40% merasa keberatan secara etis, khawatir tentang privasi data, atau tidak yakin AI dapat membantu pekerjaan mereka.
- Kurangnya persiapan dan pengalaman: Sekitar 20% merasa tidak siap menggunakan AI secara efektif.
Thuy Pisone, seorang administrator kontrak di Maryland, mengaku menggunakan AI untuk tugas-tugas rutin, tetapi menghindari AI untuk pekerjaan yang sudah dikuasainya, seperti membuat presentasi PowerPoint.
"Saya bisa membuat PowerPoint sendiri dan sudah mengasah kemampuan itu," ujar Pisone. "Jadi saya merasa tidak perlu bantuan AI."
Kekhawatiran Tentang Penggantian Pekerjaan oleh AI
Kekhawatiran pekerja Amerika terhadap hilangnya pekerjaan karena teknologi baru, termasuk AI, makin meningkat. Survei Gallup menemukan sekitar 18% pekerja menganggap kemungkinan pekerjaan mereka hilang akibat teknologi dalam 5 tahun ke depan cukup tinggi, naik dari 15% pada 2025. Di perusahaan yang telah mengadopsi AI, kekhawatiran ini lebih tinggi, yakni 23%.
Sebuah survei Fox News pada Maret 2026 juga menunjukkan bahwa sekitar 6 dari 10 pemilih terdaftar percaya AI akan menghilangkan lebih banyak pekerjaan daripada yang diciptakan dalam lima tahun ke depan.
Scott Segal menyiapkan rencana alternatif jika AI menggantikannya, yaitu membuka layanan pendamping kesehatan yang secara fisik mengantar pasien ke janji medis mereka, terutama pasien yang tidak memiliki keluarga untuk mendampingi.
"Saya rasa layanan ini tidak akan digantikan oleh robot dengan AI dalam 10-15 tahun ke depan," kata Segal. "Tapi saya yakin AI akan menggantikan banyak fungsi pekerjaan dan saya bertanya-tanya bagaimana orang akan mencari nafkah saat itu."
Saat ini, Segal juga memanfaatkan chatbot AI untuk membantu merencanakan tabungan pensiunnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, survei Gallup ini mengungkapkan kontradiksi signifikan antara potensi AI sebagai alat produktivitas dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan. Di satu sisi, AI sudah menjadi katalisator efisiensi, terutama dalam peran manajerial, teknologi, dan kesehatan. Namun, ketidakpercayaan dan kekhawatiran etis yang meluas menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah bagi perusahaan dan pengembang teknologi untuk membangun kepercayaan dan literasi digital pekerja.
Lebih jauh, kekhawatiran soal penggantian pekerjaan bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kesiapan sosial dan ekonomi dalam menghadapi perubahan. Langkah proaktif seperti pelatihan ulang dan penciptaan lapangan kerja baru yang bersinergi dengan AI harus menjadi prioritas.
Masa depan dunia kerja akan sangat bergantung pada bagaimana berbagai pemangku kepentingan menyikapi perubahan ini. Pekerja, perusahaan, hingga pembuat kebijakan harus terus memantau perkembangan teknologi AI dan menyesuaikan diri agar manfaatnya bisa dinikmati secara luas tanpa meninggalkan kelompok rentan.
Untuk informasi lebih lanjut dan detail survei, kunjungi sumber asli di AP News dan berita teknologi terkemuka lainnya seperti CNN Indonesia Teknologi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0