Trump Klaim Paus Leo XIV Tidak Akan di Vatikan Tanpa Dirinya

Apr 13, 2026 - 19:40
 0  5
Trump Klaim Paus Leo XIV Tidak Akan di Vatikan Tanpa Dirinya

Presiden Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo XIV melalui unggahan panjang di platform Truth Social, menyusul kritik yang dilontarkan paus tersebut terkait keterlibatan Amerika Serikat dalam perang ke Iran. Trump menegaskan bahwa dirinya tidak senang dengan seorang paus yang mengkritik langkahnya dalam menjalankan tugas melindungi kepentingan nasional AS.

Ad
Ad

Trump dan Klaim Pengaruhnya dalam Pemilihan Paus Leo XIV

Dalam unggahannya pada Senin (13/4), Trump mengklaim bahwa jika bukan karena dirinya, Paus Leo XIV tidak akan pernah berada di Vatikan. Menurut Trump, terpilihnya Paus Leo XIV adalah sebuah kejutan besar karena namanya bahkan tidak termasuk dalam daftar kandidat calon paus. Trump menyatakan bahwa pemilihan paus yang berasal dari Amerika ini adalah strategi untuk menghadapi kepemimpinannya di Gedung Putih.

"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, terpilihnya dia adalah kejutan besar. Namanya bahkan tidak masuk dalam daftar calon Paus, dan ia hanya dipilih karena dia orang Amerika, yang dianggap sebagai cara terbaik untuk menghadapi Presiden Donald J. Trump. Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," ucap Trump.

Lebih lanjut, Trump menyarankan agar Paus Leo XIV menggunakan akal sehat, berhenti memanjakan kelompok kiri radikal, dan fokus menjadi pemimpin Gereja Katolik yang hebat, bukan politisi. Ia juga menilai kritik yang dilontarkan paus sangat merugikan baik dirinya maupun Gereja Katolik.

Respons Paus Leo XIV dan Sikap Terhadap Kritik Trump

Menanggapi kritik Trump, Paus Leo XIV menyatakan bahwa ia tidak takut terhadap tekanan dari mantan presiden AS tersebut dan menegaskan komitmennya untuk terus menyerukan perdamaian. Saat berada di pesawat dalam perjalanan menuju Aljazair, Paus Leo menyampaikan bahwa ia hanya meneruskan pesan Injil dan ajaran Yesus Kristus kepada umat Katolik tanpa terlibat dalam politik praktis.

"Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump, ataupun untuk menyuarakan pesan Injil dengan lantang, itulah yang saya yakini menjadi tugas saya," ujar Paus Leo XIV, dikutip dari New York Times.

Ketika diminta tanggapan secara langsung atas unggahan Trump di Truth Social, Paus Leo XIV memilih menjawab singkat dengan menyebut nama platform tersebut sebagai "ironis" dan menolak memperpanjang debat. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan politisi dan tidak berniat berdebat dengan Trump.

Konflik atas Perang AS-Iran dan Seruan Perdamaian Paus Leo XIV

Kritik Paus Leo XIV terhadap perang AS-Iran bermula dari seruannya kepada para pemimpin dunia untuk mengakhiri kekerasan yang terjadi di Timur Tengah, khususnya setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang memicu eskalasi konflik. Dalam homilinya di St. Peter's Square pada 29 Maret, paus pertama asal Amerika Serikat ini mengingatkan umat Katolik bahwa Yesus Kristus adalah Raja Damai yang menolak perang dan tidak dapat digunakan sebagai pembenaran untuk konflik bersenjata.

"Inilah Tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang," kata Paus Leo XIV, mengutip Reuters.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, konflik terbuka antara Donald Trump dan Paus Leo XIV menandai ketegangan yang semakin meningkat antara kepentingan politik nasional Amerika dan suara moral agama internasional. Klaim Trump yang menghubungkan keberadaan Paus Leo XIV dengan kepemimpinannya di AS menunjukkan bagaimana politik dalam negeri AS dapat memengaruhi dinamika dunia, termasuk dalam ranah keagamaan yang seharusnya netral.

Lebih jauh, pernyataan Paus Leo XIV yang konsisten menyerukan perdamaian dan menolak penggunaan agama sebagai pembenaran perang menjadi counterpoint penting di tengah eskalasi konflik yang melibatkan negara-negara besar seperti AS dan Iran. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana pemimpin agama dapat tetap relevan dan berpengaruh dalam diplomasi dunia yang penuh dengan ketegangan geopolitik.

Ke depan, publik dan pengamat internasional perlu mengamati bagaimana hubungan antara Vatikan dan pemerintahan AS, khususnya di bawah pengaruh figur seperti Trump, akan berkembang. Apakah akan muncul lebih banyak gesekan atau ada peluang untuk dialog yang lebih konstruktif demi perdamaian global tetap menjadi perhatian utama.

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi artikel asli di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad