Fenomena Warteg Kekinian: Indikasi Kelas Menengah Makin Terjepit di Jakarta

Apr 14, 2026 - 08:30
 0  5
Fenomena Warteg Kekinian: Indikasi Kelas Menengah Makin Terjepit di Jakarta

Fenomena warteg kekinian yang marak di Jakarta kini menjadi indikasi nyata bahwa kelas menengah Indonesia tengah mengalami tekanan ekonomi yang cukup signifikan. Kehadiran warteg dengan konsep premium dan harga yang jauh lebih tinggi dari warteg tradisional menggambarkan perubahan gaya hidup sekaligus tantangan yang dihadapi oleh segmen masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi domestik.

Ad
Ad

Kelas Menengah yang Makin Terjepit secara Ekonomi

Menurut data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode 2019-2024 terjadi penurunan jumlah kelas menengah sebanyak 9,48 juta orang yang turun ke kelompok menengah rentan dan kelompok miskin. Data terbaru dari Mandiri Institute juga mengonfirmasi penurunan kelas menengah di 2025 sebanyak 1,1 juta orang, turun menjadi 46,7 juta dari sebelumnya 47,9 juta di 2024.

Fenomena ini dipicu oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pascapandemi Covid-19 yang masih berlangsung, serta sulitnya mencari pekerjaan baru di tengah ketidakpastian ekonomi global. Tingkat pengangguran di Indonesia pada Agustus-November 2025 tercatat sebanyak 7,35 juta orang, menambah tekanan bagi daya beli masyarakat terutama kelas menengah.

"Warteg kekinian menjadi salah satu wujud adaptasi mereka [kelas menengah]. Mereka mencari tempat yang tetap bisa untuk rekreatif, tetapi harganya terjangkau karena sesuai dengan kondisi finansial," ujar Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaidah.

Warteg Kekinian dan Warteg Fancy: Gaya Hidup Baru Kelas Menengah

Kehadiran warteg kekinian seperti Salira di kawasan Senopati Jakarta Selatan menjadi sorotan media sosial, terutama TikTok, dengan julukan "warteg fancy". Konsep yang diusung menggabungkan menu tradisional warteg seperti terong balado, tahu-tempe bacem, dan sambel goreng kentang, namun dengan suasana yang jauh lebih mewah dan harga premium.

Salira menawarkan tempat makan yang nyaman dengan area outdoor, indoor, serta lantai dua yang dapat diakses dengan lift kaca. Harga makanan di sini berkisar mulai dari Rp45.000 untuk gorengan hingga Rp195.000 untuk menu salmon asap lodeh. Bahkan ada pengunjung yang mengaku menghabiskan Rp800.000 untuk sekali makan bertiga, jauh di atas harga warteg tradisional yang biasanya hanya belasan ribu rupiah.

Selain Salira, warteg kekinian lain seperti 'Rumanasi' dan 'Cahaya Selatan' juga sempat populer dengan harga yang masih relatif terjangkau, yaitu antara Rp15.000 hingga Rp55.000 per paket nasi. Namun, sebagian besar sudah tutup akibat tekanan pasar.

"Bisnis warteg kekinian ini menawarkan lifestyle kuliner yang masih di kelas kafe, tetapi dengan harga yang lebih murah," kata pengamat budaya populer Hikmat Darmawan.

Menurut Hikmat, konsep ini merupakan bentuk adaptasi gaya hidup kelas menengah yang belum bisa menurunkan standar hidupnya secara drastis, meskipun daya beli menurun. Dengan kata lain, bukan warteg yang naik kelas, melainkan kelas menengah yang mengalami de-elevated lifestyle.

Apropriasi Budaya dan Gentrifikasi Kuliner dalam Warteg Fancy

Fenomena warteg fancy juga menimbulkan diskusi tentang apropriasi budaya. Pengamat budaya Hikmat Darmawan menyebut konsep ini sebagai bentuk cultural appropriation, di mana budaya warteg yang berasal dari kelas menengah bawah diadopsi dan dikomersialisasi oleh kelas atas tanpa mempertahankan konteks aslinya.

Selain itu, Research Director Center for Study Indonesian Food Anthropology, Repa Kustipia, menyebut kemunculan warteg fancy sebagai contoh gentrifikasi kuliner. Warteg yang awalnya "merakyat" kini bertransformasi menjadi tempat makan dengan harga dan nuansa premium, menghilangkan esensi warteg sebagai tempat makan murah dan sosial bagi perantau dan kelas pekerja.

"Warteg bukan sekadar tempat makan murah, tapi ruang sosial yang mencerminkan identitas, solidaritas perantau, dan strategi bertahan hidup kelas pekerja," tulis Repa dalam monografinya.

Dampak Kemunculan Warteg Kekinian terhadap Warteg Tradisional

Meskipun warteg fancy menarik perhatian, para ahli dan pelaku usaha warteg tradisional menilai dampaknya terhadap kelangsungan warteg tradisional belum signifikan. Ketua Koordinator Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, menyatakan bahwa segmen pelanggan warteg fancy dan tradisional berbeda. Warteg fancy lebih banyak dikunjungi oleh orang kantoran, sedangkan warteg tradisional melayani sopir, ojol, dan pedagang asongan.

Namun, ada kekhawatiran jika warteg fancy dibuka terlalu dekat dengan warteg tradisional sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Selain itu, pedagang warteg tradisional saat ini menghadapi tantangan nyata seperti kenaikan harga plastik kemasan akibat perang di Timur Tengah dan kebijakan WFH (work from home) bagi ASN yang mengurangi jam makan siang di kantor.

Menurut Mukroni, kehilangan waktu puncak makan siang bisa menurunkan pendapatan harian warteg tradisional hingga 50%-70%.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena warteg kekinian bukan hanya soal perubahan estetika dan harga makanan, melainkan cerminan tekanan ekonomi yang semakin nyata terhadap kelas menengah Indonesia. Turunnya daya beli kelas menengah yang selama ini menjadi motor penggerak konsumsi domestik, menuntut adaptasi gaya hidup yang tidak mudah. Konsep warteg fancy dan kekinian menjadi bentuk kompromi antara kebutuhan sosial dan keterbatasan finansial.

Namun, ada risiko jangka panjang berupa gentrifikasi budaya kuliner yang bisa mengikis nilai-nilai sosial dan sejarah di balik warteg tradisional. Jika tidak diantisipasi, klasifikasi sosial melalui kuliner ini bisa memperdalam kesenjangan budaya dan ekonomi antar kelas masyarakat.

Ke depannya, penting bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan untuk memperhatikan keseimbangan antara inovasi bisnis kuliner dan keberlanjutan warteg tradisional sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus penyokong ekonomi rakyat kecil. Laporan CNBC Indonesia menyajikan gambaran lengkap fenomena ini yang wajib diikuti perkembangannya.

Dengan tekanan ekonomi yang belum pasti pulih, warteg kekinian akan terus menjadi barometer perubahan gaya hidup dan daya beli masyarakat. Perhatian terhadap perkembangan ini sangat penting untuk memahami arah transformasi sosial dan ekonomi di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad