Trump Bantah Jadi Yesus, Klaim Gambar Itu Sosok Dokter

Apr 14, 2026 - 11:01
 0  4
Trump Bantah Jadi Yesus, Klaim Gambar Itu Sosok Dokter

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah keras bahwa gambar yang diunggahnya memperlihatkan dirinya sebagai Yesus Kristus. Trump menegaskan bahwa gambar tersebut sebenarnya menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter yang sedang menyembuhkan pasien.

Ad
Ad

Gambar kontroversial tersebut awalnya diunggah pada Minggu, 12 April 2026, di platform media sosial miliknya, Truth Social. Dalam gambar itu, Trump mengenakan jubah putih dan merah, warna yang identik dengan penggambaran Yesus dalam ikonografi religius. Selain itu, tampak cahaya keemasan memancar dari tangan Trump yang menyentuh dahi seorang pria sakit, sementara seorang wanita terlihat berdoa di sampingnya.

Namun, pada Senin, 13 April 2026, Trump menarik gambar tersebut karena dinilai menimbulkan kebingungan dan kontroversi di kalangan masyarakat dan tokoh agama. "Saya tidak ingin ada orang yang bingung. Banyak yang merasa bingung," ujar Trump.

Penjelasan Trump Soal Gambar yang Diunggah

Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menegaskan bahwa gambar itu menggambarkan dirinya sebagai sosok dokter yang sedang memperbaiki kesehatan orang lain. Trump menyoroti simbol Palang Merah dan kehadiran tenaga medis di sekitar dirinya dalam gambar tersebut.

"Saya melihatnya sebagai gambar dokter yang sedang memperbaiki, ada simbol Palang Merah di sana, ada tenaga medis di sekitar saya. Dan saya seperti dokter, semacam bercanda menjadi dokter yang membuat orang lebih baik. Jadi seperti itu cara melihatnya. Itu juga yang dipikirkan kebanyakan orang," kata Trump.

Trump juga menuding media sebagai "media palsu" yang salah mengartikan gambar tersebut sebagai representasi dirinya seperti Yesus Kristus. "Hanya media palsu yang bisa mengartikannya seperti itu. Saya membuat orang menjadi lebih baik," tambahnya.

Reaksi Publik dan Kritik Tokoh Agama

Unggahan gambar tersebut memicu kritik keras dari sejumlah pemimpin agama dan pendukung Kristen. Mereka menilai tindakan Trump yang menempatkan dirinya dalam peran seperti Yesus tidak pantas dan dianggap melecehkan simbol keagamaan yang sakral.

Salah satu aktivis politik Amerika Serikat, Riley Gaines, yang pernah diundang Trump ke Gedung Putih, juga mengkritik keras unggahan tersebut melalui media sosial X. Gaines menulis:

"Kenapa? Serius, saya tidak mengerti kenapa dia mengunggah ini. Apakah dia mencari respons? Apakah dia benar-benar berpikir seperti ini? Bagaimanapun juga, dua hal ini benar: 1) sedikit kerendahan hati akan sangat bermanfaat baginya. 2) Tuhan tidak boleh diolok-olok."

Kontroversi ini terjadi setelah Trump sebelumnya mengkritik pemimpin Gereja Katolik dunia, Paus Leo XIV, terkait sikapnya terhadap kebijakan Trump, khususnya soal Iran dan Venezuela. Trump menilai Paus terlalu lemah dan liberal dalam menangani isu-isu tersebut.

Kontroversi Media Sosial Trump yang Berulang

Kasus ini menambah daftar kontroversi yang melibatkan aktivitas media sosial Trump. Pada Februari 2026, Trump juga pernah menghapus video bernuansa rasis yang menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan Michelle Obama setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk Senator Tim Scott. Namun, dalam kedua kasus tersebut, Trump tidak pernah menyampaikan permintaan maaf resmi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kejadian ini menggambarkan bagaimana Donald Trump masih menggunakan media sosial sebagai alat untuk membentuk citra dirinya dengan cara yang sangat provokatif dan kontroversial. Gambar yang dimaksud, meskipun menurut Trump adalah representasi dirinya sebagai dokter, jelas menimbulkan kebingungan dan ketegangan karena simbolisme religius yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan strategi komunikasi yang berisiko dan tak jarang menimbulkan backlash dari berbagai kalangan.

Lebih jauh, kontroversi semacam ini juga memperlihatkan ketegangan antara politik dan agama di Amerika Serikat yang masih menjadi isu sensitif. Dengan menempatkan dirinya dalam posisi yang dapat ditafsirkan sebagai sosok religius, Trump seolah mencoba memperkuat basis pendukungnya yang religius namun sekaligus berpotensi alienasi kelompok lain.

Ke depan, publik dan pengamat politik perlu mencermati apakah Trump akan terus mengandalkan strategi komunikasi yang provokatif dan ambigu ini, atau justru mulai mengubah pendekatannya demi memperbaiki citra dan mengurangi kontroversi yang berpotensi merugikan dirinya secara politik.

Untuk informasi lebih lengkap dan sumber asli berita ini bisa diakses langsung melalui CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad