Selfie Monyet Ini Melindungi Hak Cipta di Era AI yang Semakin Mengancam

Apr 15, 2026 - 19:20
 0  5
Selfie Monyet Ini Melindungi Hak Cipta di Era AI yang Semakin Mengancam

Pernahkah Anda membayangkan apa yang terjadi ketika sesuatu yang bukan manusia menciptakan sebuah karya seni? Kisah unik tentang selfie monyet yang diambil pada 2011 ini bukan hanya viral karena lucunya gambar tersebut, melainkan juga karena memicu perdebatan hukum yang mendalam dan berkelanjutan tentang hak cipta karya seni yang dibuat oleh entitas non-manusia, termasuk kecerdasan buatan (AI).

Ad
Ad

Asal Usul Selfie Monyet dan Awal Perdebatan Hak Cipta

Pada suatu hari yang lembap di hutan Indonesia, fotografer David Slater mengikuti sekelompok monyet ekor hitam berjambul, spesies yang terancam punah dan sangat fotogenik. Karena monyet-monyet itu gugup, Slater meletakkan kameranya di tripod dengan pengaturan autofocus dan lampu kilat yang menyala, membiarkan mereka bereksplorasi dengan alat tersebut.

Salah satu monyet secara tidak sengaja menekan tombol rana kamera dan menghasilkan sebuah selfie yang menampilkan senyum lebar monyet tersebut. Foto ini kemudian viral dan menjadi sumber perdebatan yang panjang tentang siapa yang memiliki hak cipta atas karya yang dibuat oleh non-manusia.

  • Pada 2014, Wikimedia Foundation menolak permintaan Slater untuk menghapus foto tersebut dari Wikipedia, dengan alasan foto itu berada di domain publik karena diambil oleh monyet, bukan manusia.
  • Hal ini mendorong Kantor Hak Cipta AS untuk menyatakan bahwa mereka tidak akan mendaftarkan karya yang dibuat oleh entitas non-manusia.
  • Organisasi PETA bahkan menggugat Slater atas nama monyet tersebut, mengklaim hak atas pendapatan foto, namun gugatan itu akhirnya ditolak karena monyet tidak bisa mengajukan tuntutan hukum.

Perkembangan Kasus Karya AI: Dari Monyet ke Mesin

Beberapa tahun kemudian, cerita ini mendapat babak baru ketika Stephen Thaler, seorang ilmuwan komputer, memperkenalkan Dabus, sebuah sistem AI yang ia klaim memiliki kesadaran dan mampu menciptakan karya seni secara mandiri. Salah satu hasil karya Dabus adalah gambar berjudul A Recent Entrance to Paradise.

Thaler mencoba mendaftarkan hak cipta atas karya tersebut, namun permohonannya ditolak oleh Kantor Hak Cipta AS dengan alasan yang sama seperti kasus selfie monyet. Hal ini menandai permulaan pertempuran hukum yang lebih luas dengan implikasi besar terhadap masa depan karya seni dan hak cipta di era AI.

Hak Cipta dan Tantangan di Era Kecerdasan Buatan

Sejak disahkannya Undang-Undang Hak Cipta AS pada 1790, karya yang dilindungi terutama adalah hasil ciptaan manusia seperti tulisan dan lukisan. Namun, perkembangan teknologi seperti fotografi dan kini AI menimbulkan tantangan baru: siapa pemilik karya jika yang membuatnya adalah mesin atau entitas non-manusia?

Menurut pengacara kekayaan intelektual Ryan Abbott, yang juga terlibat dalam kasus ini, inti masalahnya adalah apakah karya yang dihasilkan oleh mesin atas instruksi manusia dapat dianggap sebagai ekspresi ide yang dilindungi. Dia menjelaskan, "Apa bedanya orang yang mengoperasikan kamera dengan orang yang menginstruksikan AI untuk membuat gambar?"

  • Mahkamah Agung AS menolak mendengar kasus Thaler, sehingga keputusan pengadilan lebih rendah tetap berlaku: karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tidak dapat dimiliki oleh siapa pun.
  • Keputusan ini berpotensi mencegah masa depan di mana karya seni dan hiburan digantikan sepenuhnya oleh produksi AI tanpa campur tangan manusia.
  • Bagi perusahaan hiburan besar seperti Disney, keputusan ini mendorong pentingnya mempertahankan kreativitas manusia sebagai inti produksi karya.

Berbagai Pendekatan Hukum dan Tantangan Berikutnya

Negara lain seperti Inggris memiliki pendekatan berbeda, di mana hak cipta dapat diberikan kepada orang yang membuat "pengaturan" untuk karya mesin, sehingga karya AI tetap bisa dimiliki. Namun, aturan ini kini juga sedang ditinjau ulang di tengah kemajuan AI generatif.

Sementara itu, kasus lain yang tengah berjalan adalah milik Jason Allen, yang memenangkan kontes seni dengan karya yang dibuat menggunakan AI Midjourney dan diedit dengan Photoshop. Kasus ini akan menguji batas keterlibatan manusia dalam karya AI untuk menentukan kepemilikan hak cipta.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kasus selfie monyet ini sebenarnya merupakan cermin dari dilema besar yang dihadapi dunia saat ini: bagaimana hukum dan etika harus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang tidak hanya mereplikasi, tapi juga menyaingi kreativitas manusia?

Keputusan pengadilan yang menolak hak cipta atas karya AI mengandung pesan penting: meskipun teknologi berkembang pesat, kreativitas dan campur tangan manusia tetaplah nilai yang tidak bisa digantikan mesin. Ini membuka ruang bagi model kolaborasi antara manusia dan AI, bukan kompetisi eksklusif.

Namun, tantangan berikutnya adalah menetapkan batasan dan kriteria yang jelas mengenai seberapa besar keterlibatan manusia yang diperlukan agar karya tersebut bisa dilindungi secara hukum. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah gelombang digitalisasi.

Masa Depan Hak Cipta di Era AI

Dengan semakin banyaknya karya yang melibatkan AI, perbincangan tentang hak cipta akan semakin intensif dan kompleks. Apakah kita akan melihat undang-undang baru yang mengakomodasi karya hybrid antara manusia dan mesin? Atau akankah kreativitas manusia tetap menjadi satu-satunya sumber karya yang diakui secara hukum?

Sambil menunggu jawaban itu, satu hal pasti: karya seni yang benar-benar berarti dan bernilai adalah yang melibatkan sentuhan manusia. Dan semua ini berawal dari sebuah momen sederhana di hutan Indonesia, ketika seekor monyet secara tak sengaja menekan tombol kamera dan tersenyum ke lensa.

Untuk perkembangan terbaru tentang teknologi dan AI, Anda dapat membaca artikel lengkapnya di BBC Future dan mengikuti berita teknologi terpercaya dari berbagai sumber internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad