China-Spanyol Tegaskan Tolak Hukum Rimba dan Perkuat Kerja Sama Multilateral
Pemerintah China mengonfirmasi bahwa kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ke Tiongkok, yang merupakan lawatan keempatnya dalam empat tahun terakhir, semakin memperkuat komitmen kedua negara untuk mendukung penerapan norma internasional dan secara tegas menolak prinsip hukum rimba.
Penegasan Tolak Hukum Rimba dan Dukungan Multilateralisme
Dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (15/4), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa China dan Spanyol adalah negara yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan memilih sisi yang benar dalam sejarah dunia. Kedua negara sepakat untuk bersama-sama menjunjung tinggi multilateralisme sejati dan menolak kemunduran ke arah hukum rimba yang kerap diartikan sebagai kekuatan yang mendominasi tanpa aturan.
"China dan Spanyol adalah negara-negara yang menjunjung tinggi prinsip dan keadilan, dan keduanya memilih sisi yang benar dalam sejarah. Kedua negara perlu bersama-sama menjunjung tinggi multilateralisme sejati, dan menolak kemunduran ke arah hukum rimba," ujar Guo Jiakun.
Guo juga menambahkan bahwa sikap suatu negara terhadap hukum internasional dan tatanan global mencerminkan pandangannya terhadap dunia serta rasa tanggung jawabnya, mengutip pernyataan Presiden Xi Jinping.
Kunjungan Perdana Menteri Spanyol dan Penguatan Hubungan Bilateral
Pada kunjungan resmi yang berlangsung dari 11 hingga 15 April, PM Pedro Sánchez bertemu dengan Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Qiang, dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat China Zhao Leji. Selain pertemuan politik, Sánchez juga mengunjungi Universitas Tsinghua dan Akademi Ilmu Pengetahuan China untuk memperdalam kerja sama akademis dan riset.
Selama pertemuan, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat saling percaya di bidang politik dan memperdalam komunikasi strategis. Guo Jiakun menegaskan bahwa hubungan China-Spanyol tetap menjadi prioritas dalam kebijakan luar negeri kedua negara, meskipun dinamika internasional terus berubah.
"Selama empat tahun terakhir, terlepas dari bagaimana lanskap internasional berkembang, China dan Spanyol telah mengutamakan hubungan bilateral dalam merancang kebijakan luar negeri, mengakomodasi kepentingan utama masing-masing, dan berperan sebagai mitra yang dapat dipercaya satu sama lain," ujar Guo Jiakun.
Spanyol juga mengonfirmasi komitmen mereka terhadap prinsip "Satu China" dan bersepakat untuk membangun mekanisme dialog diplomatik dan strategis yang lebih intens, demi memastikan pertumbuhan hubungan bilateral yang stabil dan berkelanjutan.
Kerja Sama Ekonomi, Pendidikan, dan Teknologi
Dalam kesempatan yang sama, PM Li dan PM Sánchez menyaksikan penandatanganan 15 dokumen kerja sama yang meliputi bidang ekonomi, perdagangan, pendidikan, pertanian, pangan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. China menyatakan kesiapan untuk mengimpor lebih banyak produk berkualitas dari Spanyol dan mendorong investasi perusahaan China di Spanyol.
Guo Jiakun juga mengungkapkan bahwa Spanyol optimis bahwa kerja sama di bidang energi baru dan teknologi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
- Peningkatan komunikasi strategis dan dialog diplomatik
- Penandatanganan kerja sama di sektor ekonomi dan teknologi
- Kesiapan China mengimpor produk Spanyol dan dorong investasi
- Penguatan peran Spanyol sebagai penghubung hubungan China-Eropa
Kedua negara juga menyepakati pentingnya pemahaman dan kerja sama yang lebih dalam antara China dan Eropa, yang diyakini akan memberikan manfaat tidak hanya bagi kedua belah pihak, tetapi juga bagi komunitas global.
Spanyol dan Sikap Mandiri dalam Politik Internasional
Menariknya, Spanyol menunjukan sikap mandiri yang tegas dalam politik luar negeri, khususnya dalam menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer gabungan di Spanyol untuk operasi militer melawan Iran. Pangkalan Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Angkatan Udara Morón memiliki posisi strategis yang penting, namun PM Sánchez dengan jelas menyatakan bahwa Spanyol tidak ingin terlibat dalam operasi militer yang dianggap ilegal dan merugikan.
Sikap ini konsisten dengan posisi Spanyol terhadap konflik di Ukraina dan Gaza, di mana negara tersebut mengedepankan diplomasi dan solusi damai.
Respons keras dari AS bahkan sempat muncul, dengan Presiden saat itu, Donald Trump, mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol dan mengkritik kontribusi militer Spanyol dalam NATO. PM Sánchez sendiri menolak tuntutan Trump agar anggota NATO membelanjakan 5 persen dari anggaran untuk pertahanan, menyebutnya tidak sesuai dengan pandangan dunia saat ini.
"Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro adalah contoh penerapan hukum rimba," tegas PM Sánchez, menegaskan prinsip keadilan internasional.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ke China dan pernyataan bersama kedua negara menegaskan bahwa Spanyol berusaha menyeimbangkan posisi strategisnya antara kekuatan besar dunia. Sikap menolak hukum rimba menunjukkan komitmen mereka terhadap tatanan dunia yang berlandaskan aturan, bukan kekuatan militer atau tekanan sepihak.
Kerja sama yang diperluas di bidang ekonomi, teknologi, dan diplomasi strategis ini bukan hanya penting bagi hubungan bilateral, tapi juga menandakan potensi pergeseran geopolitik, khususnya dalam hubungan China-Eropa. Spanyol berperan sebagai jembatan yang dapat meredam ketegangan dan membuka peluang dialog konstruktif.
Ke depan, patut dicermati bagaimana Spanyol menjaga posisi independennya dalam tekanan dari kekuatan besar seperti AS, dan bagaimana pengaruh kerja sama China-Spanyol dapat memicu perubahan dalam dinamika politik dan ekonomi global. Pembaca disarankan untuk mengikuti perkembangan kebijakan luar negeri Spanyol dan respons negara-negara lain terhadap kolaborasi ini.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, kunjungi berita asli di Antaranews serta laporan terkait di Kompas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0