Presiden Brasil Kritik Trump soal Ancaman ke Iran di Selat Hormuz
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva memberikan kritik tajam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Dalam wawancara dengan surat kabar Spanyol El Pais, Lula menegaskan bahwa Trump tidak memiliki hak untuk mengancam negara lain secara sepihak.
Ancaman Trump kepada Iran di Selat Hormuz
Ancaman itu datang setelah Selat Hormuz ditutup akibat eskalasi konflik yang dipicu oleh kebijakan Trump dan Israel. Trump memperingatkan bahwa "seluruh peradaban Iran akan mati malam ini dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali" jika Iran tidak membuka kembali jalur strategis tersebut. Ancaman ini disampaikan melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada awal April 2026.
Meski demikian, Trump juga menyatakan dalam unggahan berikutnya bahwa dia tidak menginginkan kehancuran tersebut, melainkan berharap terjadi perubahan rezim di Iran. Pernyataan keras ini menambah ketegangan di wilayah yang sudah sensitif secara geopolitik dan menjadi perhatian dunia internasional.
Reaksi Keras Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva
Lula, yang dikenal sebagai pemimpin sayap kiri dan pendukung multilateralisme, mengkritik gaya diplomasi Trump yang dianggap agresif dan sepihak.
"Trump tidak berhak bangun pagi dan mengancam suatu negara,"ujar Lula kepada El Pais, sebagaimana dilaporkan oleh AFP pada Kamis, 16 April 2026.
Lebih jauh, Lula mengingatkan bahwa dalam sistem pemerintahan AS, kewenangan memutuskan soal perang dan kebijakan luar negeri dibagi antara Presiden dan Kongres. Oleh sebab itu, tindakan sepihak seperti ancaman perang harus mendapat pertimbangan dan persetujuan dari lembaga legislatif.
Presiden Brasil berusia 80 tahun itu menegaskan pentingnya tanggung jawab para pemimpin dunia dalam menjaga perdamaian global, bukan justru memperuncing konflik.
Ketegangan Hubungan Brasil-AS dan Pandangan Lula soal PBB
Hubungan antara BrasÃlia dan Washington saat ini masih diwarnai ketegangan, meskipun ada upaya meredakan melalui pertemuan pemimpin kedua negara tahun lalu yang menghasilkan pengurangan tarif perdagangan. Namun, dalam berbagai isu seperti perdagangan internasional, perubahan iklim, dan multilateralisme, Lula dan Trump tetap berada di posisi yang berlawanan.
Lula juga menyerukan reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia menekankan perlunya penghapusan hak veto yang dimiliki oleh lima anggota tetap dan menambahkan lebih banyak negara dari Afrika dan Amerika Latin agar sistem internasional menjadi lebih kredibel dan representatif.
"Sudah saatnya mendefinisikan kembali Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan kredibilitas, jika tidak, Trump benar,"kata Lula, mengakui kritik Trump terhadap sistem internasional pasca Perang Dunia II yang dianggap sudah tidak efektif lagi.
Konteks Kunjungan Lula ke Spanyol dan Pertemuan Pemimpin Progresif
Wawancara ini disampaikan menjelang kunjungan Lula ke Spanyol, di mana ia dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dan menghadiri forum para pemimpin progresif di Barcelona pada 18 April 2026. Pertemuan ini juga akan dihadiri oleh Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, yang menjadi momentum diskusi soal isu global dan reformasi sistem internasional.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kritik keras Lula terhadap Trump mencerminkan ketegangan yang lebih luas dalam diplomasi global antara pendekatan unilateral dan multilateralisme. Ancaman Trump kepada Iran bukan hanya berpotensi memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah, tapi juga menguji batas wewenang presiden dalam kebijakan luar negeri AS yang selama ini memang kontroversial.
Selain itu, desakan Lula untuk reformasi Dewan Keamanan PBB menegaskan kebutuhan mendesak akan sistem internasional yang lebih inklusif dan demokratis. Jika tidak, ketidakpuasan terhadap tatanan lama bisa dimanfaatkan oleh para pemimpin seperti Trump untuk memaksakan agenda nasionalis dan agresif.
Perjalanan politik Lula yang konsisten menentang kebijakan Trump membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat suara mereka di panggung dunia. Namun, tantangan besar tetap ada dalam mewujudkan perdamaian dan kerja sama internasional yang lebih adil.
Untuk perkembangan lebih lanjut terkait dinamika Selat Hormuz dan hubungan Brasil-AS, pembaca dapat mengikuti laporan terbaru melalui detikNews dan sumber resmi lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0