Siaga Perang AS-Iran Jilid 2 Pecah, Negosiasi Gagal dan Harga Minyak Melonjak
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas menjelang berakhirnya gencatan senjata pada 22 April 2026. Kedua negara saling memberi sinyal akan meletusnya konflik bersenjata jilid kedua yang berpotensi mengguncang kawasan dan pasar energi global.
Gencatan Senjata Berakhir, Negosiasi Buntu
Sejak dua pekan terakhir, negosiasi antara AS dan Iran telah dilakukan di Pakistan, namun hingga kini belum menunjukkan hasil. Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden AS, JD Vance, siap melanjutkan putaran kedua perundingan di Islamabad, namun Iran belum mengonfirmasi keikutsertaannya.
Iran justru menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan melakukan blokade pelabuhan dan penyitaan sebuah kapal Iran, yang dinilai sebagai langkah provokatif. Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan pemimpin delegasi negosiasi, menegaskan bahwa AS mencoba mengubah meja perundingan menjadi "meja penyerahan diri" atau alasan untuk memperbaharui permusuhan.
"Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang," ujar Ghalibaf melalui akun X miliknya.
Selain itu, Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menargetkan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz tanpa izin, jalur vital bagi transit minyak dunia.
Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata dan Ancaman Perang
Di sisi lain, Donald Trump menuduh Iran yang mengganggu kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur yang sangat krusial karena mengalirkan seperlima minyak dunia. Ia menyebut blokade Iran sebagai pembalasan atas tindakan AS dan Israel, dan menegaskan blokade itu "benar-benar menghancurkan" Iran.
Trump menyatakan blokade tidak akan berakhir sampai ada kesepakatan yang menguntungkan AS terkait program nuklir Iran yang selama ini kontroversial. Ia juga mengingatkan bahwa jika gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan, "banyak bom akan mulai meledak" di Iran.
Dalam wawancara dengan Bloomberg News, Trump menegaskan kemungkinan kecil gencatan senjata diperpanjang dan menganggap berakhirnya gencatan senjata terjadi pada Rabu malam waktu Washington, meski secara resmi berakhir Selasa malam waktu Teheran.
Harga Minyak Melonjak, Dampak Perang Mulai Terasa di Iran
Pasar energi merespons ketegangan dengan kenaikan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate hampir 6% pada Senin, masing-masing naik ke US$94 dan US$86 per barel. Kekhawatiran akan kelanjutan konflik dan penutupan ulang Selat Hormuz menjadi faktor utama kenaikan ini.
Sementara itu, di Iran, masyarakat mulai merasakan dampak perang dalam kondisi ekonomi yang sudah sulit. Seorang dokter berusia 30 tahun di Teheran mengungkapkan kekecewaannya, "Satu-satunya hal yang ditunjukkan oleh 50 hari perang adalah bahwa tidak ada yang peduli dengan rakyat Iran."
Popularitas Trump Menurun di Tengah Tekanan Perang
Langkah perang Trump mendapat penentangan luas di AS. Survei NBC News Decision Desk menunjukkan hanya 37% orang dewasa AS yang menyetujui kinerja Trump sebagai presiden, sementara 63% tidak setuju, termasuk 50% yang sangat tidak menyetujuinya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, ketegangan yang kembali memuncak antara AS dan Iran bukan hanya sekadar konflik regional biasa, melainkan akan berdampak luas pada geopolitik dan ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia, berpotensi memicu krisis energi yang akan dirasakan tidak hanya oleh negara-negara pengimpor minyak, tetapi juga konsumen global.
Selain itu, kebuntuan negosiasi dan saling tuduh antara kedua pihak menunjukkan bahwa tidak ada jalan mudah untuk meredakan konflik ini dalam waktu dekat. Risiko perang terbuka mengancam stabilitas Timur Tengah yang selama ini sudah rapuh, dan warga sipil Iran adalah kelompok yang paling terdampak langsung dari ketegangan ini, baik dari sisi ekonomi maupun keamanan.
Publik Indonesia dan dunia sebaiknya terus memantau perkembangan situasi ini, mengingat potensi dampak yang bisa meluas hingga ke pasar energi dan keamanan global. Perundingan lanjutan dan sikap diplomatik kedua negara akan menjadi kunci utama apakah perang dapat dicegah atau justru akan meletus secara penuh.
Untuk informasi lebih lengkap dan update berita terkini, baca selengkapnya di CNBC Indonesia dan situs resmi berita internasional terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0