Intermittent Fasting Lagi Tren, Dokter Waspadai Risiko Tersembunyi untuk Kesehatan
Intermittent fasting kembali menjadi tren populer di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Pola makan ini tidak menitikberatkan pada jenis makanan yang dikonsumsi, melainkan pada jadwal makan yang dibatasi dalam periode tertentu. Namun, para dokter kini memberikan peringatan penting terkait risiko tersembunyi yang bisa berdampak buruk, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita diabetes dan lansia.
Popularitas Intermittent Fasting dan Jenis Pola Makan
Intermittent fasting tidak hanya menjadi tren di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Berdasarkan data dari ahli gizi terdaftar Tara Collingwood, lebih dari 13 persen warga Amerika Serikat pernah mencoba metode ini, baik secara sadar sebagai program diet maupun tanpa disadari. Salah satu bentuk yang paling umum adalah time-restricted eating (TRE), yaitu membatasi waktu makan dalam rentang delapan jam sehari, dan berpuasa selama 16 jam sisanya.
Metode ini dianggap efektif karena membantu mengurangi jumlah kalori yang masuk ke tubuh tanpa harus mengubah jenis makanannya secara drastis. Namun, Collingwood menegaskan bahwa keberhasilan penurunan berat badan lebih bergantung pada pengurangan total kalori daripada sekadar mempersempit jendela waktu makan.
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Meskipun intermittent fasting menjanjikan beberapa manfaat, penelitian terbaru memberikan gambaran yang lebih hati-hati. Studi dari Jerman menunjukkan bahwa jika pola makan terbatas waktu tidak disertai dengan pengurangan kalori, manfaat metabolik yang diharapkan tidak akan maksimal.
Lebih jauh, sebuah riset oleh American Heart Association mengungkapkan bahwa mereka yang menerapkan pola makan terbatas delapan jam per hari justru berisiko mengalami peningkatan kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 91 persen. Hal ini menegaskan bahwa waktu makan yang terlambat di siang atau malam hari bisa memperburuk metabolisme dan kesehatan jantung.
Selain itu, puasa dengan durasi lebih panjang, seperti tidak makan selama empat hari atau lebih, memang berpotensi meningkatkan fungsi kognitif. Namun, puasa singkat yang biasa diterapkan dalam intermittent fasting justru dianggap kurang efektif terutama bagi individu yang sudah mengalami penurunan kemampuan kognitif.
Siapa yang Harus Berhati-hati dengan Intermittent Fasting?
Dokter dan ahli gizi memperingatkan bahwa intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang. Khususnya:
- Penderita diabetes, karena pola makan yang tidak teratur dapat mempengaruhi kadar gula darah dan risiko hipoglikemia.
- Lansia, yang mungkin memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan risiko penurunan fungsi kognitif.
- Orang dengan gangguan makan atau kondisi medis tertentu yang memerlukan pengaturan asupan kalori dan nutrisi secara ketat.
Selain itu, efektivitas intermittent fasting dalam jangka panjang masih belum sepenuhnya dipahami. Collingwood menekankan perlunya pendekatan yang hati-hati dan konsultasi dengan tenaga medis sebelum memulai diet ini.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, tren intermittent fasting yang semakin digandrungi masyarakat harus diimbangi dengan pemahaman yang mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik metode ini. Fokus berlebihan pada waktu makan tanpa memperhatikan kualitas dan jumlah kalori yang dikonsumsi bisa menimbulkan risiko kesehatan serius, seperti memperburuk kondisi metabolik dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Lebih jauh, dampak negatif potensial pada kelompok rentan, seperti penderita diabetes dan lansia, menunjukkan bahwa diet ini bukan solusi universal. Masyarakat perlu diingatkan bahwa diet sehat adalah kombinasi antara pola makan seimbang dan gaya hidup aktif, bukan hanya sekadar berpuasa dengan waktu tertentu.
Ke depan, penting bagi para peneliti untuk terus menggali lebih dalam efek jangka panjang intermittent fasting, sekaligus bagi pemerintah dan praktisi kesehatan untuk menyediakan edukasi yang tepat agar masyarakat dapat membuat keputusan diet yang bijak dan aman.
Untuk informasi lebih lengkap dan studi terkait intermittent fasting, Anda dapat membaca langsung artikel sumbernya di VIVA.co.id dan laporan kesehatan dari American Heart Association.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0