Mood Naik Turun Saat Haid? Penjelasan Psikiatri dan Cara Mengatasinya
Jakarta, CNBC Indonesia – Perubahan mood naik turun saat haid sering dianggap sebagai hal biasa, namun sebenarnya kondisi ini memiliki penjelasan medis yang jelas. Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa, fluktuasi hormon seperti estrogen yang menurun selama menstruasi dapat memengaruhi zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin, yang mengatur emosi dan energi.
Akibatnya, perempuan kerap mengalami perubahan suasana hati yang drastis, mulai dari mudah sedih, marah, hingga merasa sangat bahagia dalam waktu singkat. Psikiatri Elvine Gunawan menjelaskan dalam diskusi media bersama Laurier pada Selasa (21/4/2026), bahwa sensitivitas terhadap respons orang lain juga meningkat saat haid, sehingga hal kecil dapat terasa lebih besar.
Fluktuasi Hormon dan Dampaknya pada Emosi Saat Menstruasi
Perubahan hormon estrogen yang menurun menyebabkan ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, terutama serotonin dan dopamin. Serotonin dikenal berperan dalam mengatur suasana hati dan rasa bahagia, sementara dopamin berhubungan dengan motivasi dan energi.
- Penurunan estrogen membuat kadar serotonin dan dopamin ikut turun.
- Hal ini memicu perasaan mudah sedih, marah, atau cemas.
- Perempuan bisa mengalami perubahan mood yang cepat dan intens.
- Sensitivitas terhadap lingkungan juga meningkat, membuat interaksi sosial terasa lebih berat.
Meski kondisi ini normal dialami banyak perempuan, ada juga yang mengalami perubahan emosi ekstrem yang disebut Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Pada PMDD, gejalanya lebih parah, termasuk perasaan sangat sedih, kehilangan energi, menarik diri dari aktivitas sosial, bahkan gejala mirip depresi.
Pentingnya Dukungan dan Pemahaman Lingkungan
Tidak hanya faktor biologis, kondisi emosional saat haid juga sering diperparah oleh respons lingkungan sekitar. Banyak perempuan merasa keluhan mereka dianggap remeh dan hanya "sensitif karena haid". Hal ini membuat mereka merasa tidak didengar dan kurang mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.
"Kadang yang dibutuhkan justru pertanyaan sederhana seperti, 'lagi butuh apa?' Itu membuat kita merasa didengar," ujar public figure Maudy Ayunda, yang menekankan pentingnya pemahaman dan dukungan nyata, bukan sekadar saran template seperti "istirahat saja" atau "minum air hangat".
Menurut Maudy, support system yang mau mendengarkan dan bertanya dengan empati jauh lebih bermanfaat daripada respons yang menghakimi atau mengabaikan.
Tips Menjalani Menstruasi dengan Sehat dan Nyaman
Dokter Elvine juga mengingatkan bahwa menjaga gaya hidup sehat sangat penting untuk membantu tubuh melewati fase menstruasi dengan lebih baik. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
- Olahraga ringan seperti berjalan kaki atau yoga dapat membantu menstabilkan mood.
- Pola makan seimbang dengan asupan nutrisi yang cukup, terutama makanan kaya magnesium dan vitamin B.
- Cukup tidur untuk memperbaiki kondisi fisik dan mental.
- Komunikasi terbuka dengan pasangan atau orang terdekat agar kebutuhan dan perasaan dapat tersampaikan tanpa salah paham.
- Mengenali batas diri kapan harus beristirahat dan kapan bisa tetap aktif.
Bagi perempuan dengan aktivitas padat, menstruasi bukan alasan untuk berhenti total, namun dukungan dari lingkungan menjadi kunci agar tetap bisa menjalani aktivitas dengan nyaman.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pemahaman tentang perubahan mood saat haid yang dipicu oleh fluktuasi hormon ini sangat penting untuk mengurangi stigma negatif yang sering melekat pada perempuan selama menstruasi. Kondisi ini bukan sekadar "sensitif berlebihan", melainkan proses biologis yang nyata dan memerlukan perhatian serius.
Lebih jauh, kurangnya dukungan sosial dan pengabaian keluhan perempuan selama haid dapat memperburuk kondisi mental dan fisik mereka. Ini menjadi sinyal bahwa edukasi luas tentang kesehatan reproduksi dan mental perempuan harus terus ditingkatkan, termasuk di lingkungan kerja dan keluarga.
Ke depan, masyarakat perlu belajar memberikan respons yang lebih empatik dan dukungan yang nyata, bukan hanya saran yang dianggap klise. Perempuan yang mengalami PMDD misalnya, membutuhkan penanganan profesional agar kualitas hidup mereka tidak terganggu secara serius.
Untuk informasi lebih lengkap dan update, Anda bisa membaca artikel asli di CNBC Indonesia dan mengikuti perkembangan kesehatan jiwa perempuan di situs resmi kesehatan terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0