Ayah Saya Lebih Suka Tanya ChatGPT Daripada Saya, Kenapa Bisa Begitu?

Apr 22, 2026 - 08:52
 0  5
Ayah Saya Lebih Suka Tanya ChatGPT Daripada Saya, Kenapa Bisa Begitu?

Sebagai seorang anak muda, saya terbiasa bertanya banyak hal kepada ayah saya. Mulai dari resep masakan sederhana, cara memperbaiki keran bocor, hingga arti istilah "federal withholding" dalam pajak. Namun akhir-akhir ini, jawabannya selalu sama: "Tanya ChatGPT saja".

Ad
Ad

Ayah saya yang berusia 57 tahun mulai ketagihan menggunakan ChatGPT sejak tahun lalu dan kini mengandalkannya untuk berbagai hal, termasuk perbaikan rumah, belanja online yang presisi, laporan cuaca, bahkan merencanakan perjalanan hiking. Menariknya, ayah saya dulu pernah memiliki toko buku panduan perjalanan dan selalu merencanakan perjalanan dengan peta dan buku Lonely Planet. Ketika saya tanya apakah dia rindu cara lama, dia hanya mengangkat bahu dan berkata, "Buku-buku itu cepat usang dan tak pernah lengkap informasinya. Ini seperti kangen telepon putar".

Ketika berkunjung ke rumah, ayah saya memasak seperti biasa, namun kini ia mengakui bahwa resep yang dipakai adalah hasil dari bantuan ChatGPT. Ia bahkan sering bertanya langsung ke chatbot saat makan malam, sambil mengangkat ponselnya agar suara robot membacakan jawaban. Hal ini membuat saya kesal sekaligus sedih. Ayah saya sudah tahu cara memasak, merencanakan perjalanan, dan menjawab pertanyaan saya, lalu kenapa perlu kecerdasan buatan? Rasanya seperti dia mengadopsi anak robot yang berusaha memisahkan kami.

Ayah saya heran dengan sikap saya yang kurang suka dengan ChatGPT, padahal biasanya generasi muda lebih melek teknologi. Menurut survei Pew Research Center 2025, hanya 25 persen orang dewasa berusia 50-64 tahun yang menggunakan ChatGPT, sementara 58 persen orang dewasa di bawah 30 tahun menggunakannya. Secara statistik, saya seharusnya yang lebih sering memakai ChatGPT. Namun fenomena ini bukan hanya terjadi pada kami; banyak orang tua lain yang juga terobsesi dengan ChatGPT, atau yang dikenal di TikTok sebagai "ChatGPDads". Mereka menggunakan ChatGPT untuk berbagai hal, mulai dari memilih warna cat kamar mandi yang aneh hingga membuat gambar lucu diri mereka sendiri. Rasa takjub mereka selalu terpancar jelas, dengan ucapan seperti, "Bisa percaya chatbot ini bisa melakukan itu?" dan "Ini hasil ChatGPT buat saya". Kepercayaan mereka yang tinggi bahkan membuat anak-anak mereka khawatir.

Penggunaan AI oleh Generasi Lebih Tua

Tentu saja, ada manfaat praktis AI, dan generasi yang lebih tua juga menghadapi tuntutan pekerjaan untuk menggunakannya. Ken Potter, 61 tahun, seorang pengembang properti, sangat antusias menggunakan model bahasa besar untuk pekerjaannya. Ia bisa mengunggah gambar ruangan kosong lalu chatbot menghasilkan visual yang indah untuk kontraktor. Selain itu, ia menggunakan AI untuk memahami putrinya yang remaja.

"Kadang aku nggak paham kenapa dia melakukan sesuatu, jadi aku tanya chatbot dan dapat perspektif lain," kata Potter.
Ia pernah menanyakan kenapa putrinya, Ellie yang berusia 17 tahun, bangun kesiangan.

Saya sebagai penulis merasa khawatir akan dampak AI terhadap pekerjaan kreatif, sementara ayah saya malah memanfaatkan AI untuk membuat lelucon. Ketika seorang teman bertanya apakah harus menyajikan bacon di bar mitzvah anaknya, ayah saya langsung meminta ChatGPT membuat kalimat lucu khas Yahudi. Jawaban yang dipilih adalah, "Oy vey! Siapa sangka bagian Torah juga dapat saus barbeque?" Di internet, banyak orang menceritakan bagaimana orang tua mereka mengirim gambar AI lucu, video perubahan wajah, dan bahkan lagu yang dibuat dari pesan teks mereka. Seorang anak menulis, "Aku bangun setiap pagi dengan lagu AI berdasarkan chat aku dan ayahku. Aku hampir mengerti kalau ayahku nggak punya gelar seni rupa."

Generasi Muda dan Skeptisisme Terhadap AI

Walau kemampuan AI mengagumkan, saya tidak merasa terpesona seperti ayah saya. Generasi saya tumbuh dengan aturan ketat soal teknologi: belajar soal plagiarisme, membatasi waktu layar, hingga cara mengenali informasi palsu. Kami diajarkan bersikap waspada terhadap teknologi seperti ChatGPT. Menurut Elaine Kasket, pakar psikologi siber dan penulis Reset: Rethinking Your Digital World for a Happier Life, generasi X lebih cenderung adopsi teknologi secara tanpa kritik dibanding generasi muda yang lebih cerdas secara digital. Generasi X tumbuh saat komputer, pager, dan ponsel ditemukan, sehingga mereka antusias dan kurang curiga dibanding baby boomer yang hanya 10 persen mengaku pernah mencoba ChatGPT.

Athena, 18 tahun, mengatakan ayahnya tidak paham bahwa menggunakan AI di tugas akademik adalah plagiarisme. Ayahnya bahkan menyarankan menggunakan ChatGPT untuk menulis esai kuliah dan materi stand-up comedy (yang ia tolak). Ketergantungan ayahnya pada AI membuatnya cemas dan meragukan kemampuan berpikir kritis sang ayah. Sementara Ves Trujillo Navarro, 17 tahun, yang dulu diawasi ketat soal penggunaan layar, kini khawatir dengan penggunaan ponsel orang tuanya yang berlebihan. Orang tuanya bahkan menggunakan ChatGPT untuk petunjuk arah meskipun aplikasi itu tidak punya GPS.

"Kenapa nggak pakai Google Maps saja? Mereka lupa ada cara lain," katanya.

Hubungan Keluarga dan AI

Saskia Rivelli, 53 tahun, mengatakan ChatGPT baginya seperti penasihat, teman, bahkan suami tanpa penilaian. Namun anaknya, Rhea Eliza, selalu mengingatkan bahwa ChatGPT hanyalah cermin, bukan jendela, dan bukan pria. Peringatan itu membantu Saskia mengurangi ketergantungan pada AI.

Saya mengikuti saran Elaine Kasket untuk berbicara jujur kepada ayah saya. Saya bilang rindu saat-saat kami berbicara tanpa bantuan AI dan bahwa saya ingin menghubunginya, bukan hanya mendapatkan jawaban. Saya merasa ChatGPT merampas peran ayah saya sebagai pemberi nasihat. Ayah saya berpikir sejenak lalu berkata, "ChatGPT tak akan pernah bisa memberi nasihat sebaik aku, tapi mungkin bisa memberi ide bagus."

Fenomena ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang bagaimana AI mengubah dinamika hubungan keluarga. Meskipun AI menawarkan kemudahan, interaksi manusiawi tetap tak tergantikan. Penting bagi kita untuk menyeimbangkan penggunaan teknologi dan menjaga kehangatan komunikasi keluarga.

Untuk informasi lebih lengkap dan analisis mendalam, Anda bisa membaca artikel aslinya di Slate.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena orang tua yang lebih menggantungkan diri pada ChatGPT dan AI dalam kehidupan sehari-hari menggambarkan pergeseran peran komunikasi tradisional dalam keluarga. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan dan akses informasi instan, tetapi di sisi lain, ia juga menciptakan jarak emosional yang sebelumnya tidak ada. Anak-anak merasa kehilangan momen interaksi langsung yang penuh kehangatan dan kedekatan dengan orang tua.

Lebih jauh, ketergantungan berlebihan pada AI dapat berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan kemandirian, terutama bagi generasi yang lebih tua yang seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Anak-anak yang menyaksikan hal ini bisa kehilangan rasa percaya terhadap kemampuan orang tua mereka, yang berpotensi mengubah dinamika keluarga secara signifikan.

Maka dari itu, penting agar keluarga dapat menemukan keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan menjaga interaksi personal yang bermakna. Ini bukan hanya soal teknologi, melainkan soal bagaimana kita mempertahankan ikatan kemanusiaan di era digital yang semakin maju.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad