Harga Emas Turun 2% Lebih ke Level Terendah 2 Minggu, Apa Penyebabnya?

Apr 22, 2026 - 10:52
 0  5
Harga Emas Turun 2% Lebih ke Level Terendah 2 Minggu, Apa Penyebabnya?

Harga emas mengalami penurunan signifikan lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (21/4/2026), mencapai posisi terendah dalam dua minggu terakhir. Penurunan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta perkembangan terbaru di kawasan perang dan ketegangan geopolitik yang mempengaruhi pasar global.

Ad
Ad

Penurunan Harga Emas Terendah Sejak 7 April 2026

Berdasarkan data dari Refinitiv, harga emas pada Selasa ditutup di level US$ 4711,67 per troy ons, mengalami penurunan sebesar 2,24% dari hari sebelumnya. Dalam dua hari terakhir, harga emas telah turun hingga 2,4%, menandai periode pelemahan yang cukup tajam. Penutupan harga pada Selasa merupakan yang terendah sejak 7 April 2026, atau dua minggu terakhir.

Meski demikian, pada Rabu pagi (22/4/2026) pukul 06.29 WIB, harga emas sempat menguat tipis sebesar 0,45%, menjadi US$ 4732,59 per troy ons.

Faktor Pendorong Pelemahan Harga Emas

Pelemahan harga emas erat kaitannya dengan penguatan indeks dolar AS, yang naik 0,2% dan ditutup pada level 98,394 pada Selasa, dibandingkan 98,097% sehari sebelumnya. Penguatan dolar membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan, yang secara tradisional membuat logam mulia kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.

"Imbal hasil dan dolar yang lebih kuat menekan emas, ditambah banyak berita utama dan sinyal campuran terkait situasi Iran yang mendorong harga energi naik, sehingga menekan logam mulia," ujar Bob Haberkorn kepada Reuters.

Ketegangan Geopolitik dan Pasar Keuangan yang Bergejolak

Kondisi pasar keuangan menjadi semakin tidak stabil menjelang penutupan perdagangan di Wall Street setelah muncul laporan bahwa perjalanan Wakil Presiden AS, JD Vance, untuk bergabung dalam negosiasi dengan Iran ditunda. Penundaan ini disebabkan oleh kurangnya komitmen dari pihak Teheran, sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times dan Axios, yang mengutip pejabat pemerintah AS.

Tak lama setelah bursa saham AS tutup, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata akan diperpanjang hingga proposal dari Iran diajukan. Kedua perkembangan ini turut menambah volatilitas pasar dan mempengaruhi harga emas secara langsung.

Sidang Komite Perbankan Senat AS dan Dampaknya pada Emas

Pelaku pasar juga memantau dengan seksama sidang Komite Perbankan Senat AS terkait konfirmasi calon Ketua The Federal Reserve, Kevin Warsh. Warsh menyerukan adanya "perubahan rezim" di bank sentral AS, termasuk pendekatan baru dalam mengendalikan inflasi serta strategi komunikasi yang lebih terukur agar pejabat The Fed tidak terlalu banyak memberi sinyal soal arah kebijakan moneter.

Warsh juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berjanji kepada Presiden Trump untuk memangkas suku bunga jika resmi memimpin The Fed. Pernyataan ini menjadi sinyal negatif bagi pelaku pasar emas yang berharap The Fed segera menurunkan suku bunga guna mendukung harga logam mulia.

"Trader akan mencermati setiap komentarnya. Dengan sidang ini, volatilitas diperkirakan akan sangat tinggi," tambah Haberkorn.

Nasib Harga Perak yang Ikut Tertekan

Tidak hanya emas, harga perak pun mengalami tekanan berat. Pada Selasa, harga perak ditutup di level US$ 77,14 per troy ons, turun tajam sebesar 4,01%. Dalam dua hari terakhir, harga perak sudah anjlok hingga 5,1%. Pada Rabu pagi, harga perak kembali menguat tipis 0,57% menjadi US$ 77,14 per troy ons.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penurunan harga emas dan perak yang cukup signifikan ini bukan hanya akibat penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi, tapi juga mencerminkan ketidakpastian geopolitik yang tengah memuncak, terutama terkait negosiasi antara AS dan Iran. Ketegangan ini berdampak luas ke pasar energi dan keuangan, yang secara tidak langsung menekan aset safe haven seperti emas.

Selain itu, sidang konfirmasi calon Ketua The Fed, Kevin Warsh, menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS. Pasar global sangat mengandalkan sinyal dari The Fed untuk menentukan strategi investasi, terutama di sektor logam mulia yang sensitif terhadap perubahan suku bunga dan nilai dolar.

Ke depan, investor perlu memantau perkembangan negosiasi AS-Iran dan kebijakan The Fed dengan seksama, karena dinamika ini akan sangat menentukan tren harga emas dan perak. Volatilitas yang tinggi kemungkinan akan terus berlanjut hingga isu-isu utama tersebut menemukan kejelasan.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini tentang harga emas dan dinamika pasar global, Anda bisa mengunjungi sumber berita terpercaya seperti CNBC Indonesia dan Reuters.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad