Banjir Rob Surabaya Rendam Jalan Kalimas 25 Cm, Kendaraan Mogok Parah
Banjir rob kembali menjadi momok bagi warga Surabaya pada Rabu, 22 April 2026. Fenomena ini menyebabkan genangan air laut setinggi 25 cm di Jalan Kalimas, salah satu ruas jalan utama di kota tersebut. Tak hanya mengganggu aktivitas warga, banjir juga memicu kemacetan parah dan sejumlah kendaraan, khususnya sepeda motor, mogok saat menerobos genangan.
Banjir Rob dan Dampaknya di Surabaya
Sejak dini hari, kawasan pesisir Surabaya seperti Jalan Osowilangun, Jalan Kalimas, Jalan Margomulyo, dan Kalianak mengalami banjir rob. Genangan air ini tidak hanya terjadi di pemukiman warga, tetapi juga meluas ke jalan-jalan utama, yang membuat aktivitas transportasi terganggu. Menurut Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Sutarno, ketinggian genangan di beberapa titik mencapai 25 sentimeter.
“Di Jalan Kalimas ketinggian air mencapai 25 sentimeter akibat kenaikan muka air laut atau banjir rob, ditambah hujan sedang yang meningkatkan volume genangan,” ujar Sutarno.
Di kawasan lain seperti Osowilangun, Kalianak, dan Margomulyo, genangan air mencapai sekitar 15 cm. Walaupun lebih rendah dibanding Kalimas, genangan ini tetap menyebabkan kemacetan dan gangguan lalu lintas. Sejumlah kendaraan dilaporkan mogok saat melewati genangan, menambah panjang antrean kendaraan.
Penyebab Banjir Rob: Fenomena Fase Bulan dan Perigee
Banjir rob yang terjadi kali ini dipicu oleh fenomena astronomi yang disebut perigee, yaitu kondisi di mana posisi bulan berada paling dekat dengan bumi. Fenomena ini memperbesar kenaikan muka air laut, terutama saat fase bulan baru.
“Biasanya air rob mulai naik sekitar pukul 10.30 hingga 12.00 WIB dan sering terjadi pada awal bulan maupun saat fase bulan purnama,” jelas Sutarno.
Hujan sedang yang terjadi bersamaan memperparah genangan air, sehingga volume air yang menggenang di jalan-jalan utama ikut meningkat. Hal ini menjelaskan mengapa banjir rob kali ini cukup tinggi dan berdampak signifikan pada aktivitas warga Surabaya.
Upaya dan Tantangan Penanganan Banjir Rob di Surabaya
Pemerintah Kota Surabaya sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi banjir rob, termasuk pengoperasian pompa air 24 jam di kawasan rawan genangan seperti Tambak Osowilangun. Namun, tingginya volume air dan faktor alam seperti perigee bulan membuat penanganan menjadi tantangan tersendiri.
- Pengoperasian pompa air terus ditingkatkan untuk mengurangi genangan.
- Perbaikan drainase dan overlay jalan dilakukan untuk mengantisipasi genangan di musim hujan.
- Warga diimbau untuk waspada dan menghindari melewati jalan yang tergenang air dalam.
Meski demikian, genangan yang terjadi pada 22 April 2026 ini menunjukkan masih ada gap yang perlu diatasi dalam sistem pengelolaan banjir rob di Surabaya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, banjir rob yang rutin melanda Surabaya bukan hanya masalah lokal semata, melainkan cerminan dari kerentanan kota pesisir terhadap perubahan iklim dan fenomena alam yang semakin ekstrim. Fenomena perigee bulan yang memperparah banjir rob menunjukkan bahwa solusi teknis seperti pompa air dan drainase harus dilengkapi dengan pendekatan jangka panjang, termasuk pengembangan sistem peringatan dini dan rencana mitigasi bencana yang terintegrasi.
Selain itu, penanganan banjir rob harus melibatkan kolaborasi lintas sektor—dari pemerintah kota, BMKG, hingga masyarakat. Kesiapan infrastruktur jalan dan transportasi juga sangat krusial untuk mengurangi dampak kemacetan dan kerusakan kendaraan akibat banjir.
Ke depan, warga dan pemerintah perlu memantau perkembangan kondisi cuaca dan pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh siklus bulan. Informasi dari BMKG harus dimanfaatkan secara optimal agar masyarakat bisa mengantisipasi banjir rob lebih awal dan mengurangi kerugian yang ditimbulkan. Untuk informasi terkini dan langkah penanganan, masyarakat dapat mengikuti update resmi dari JPNN.com Jatim dan BMKG Surabaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0