CEO ServiceNow: AI Tingkatkan Produktivitas, Perusahaan Tak Perlu Tambah Karyawan

Apr 23, 2026 - 09:19
 0  5
CEO ServiceNow: AI Tingkatkan Produktivitas, Perusahaan Tak Perlu Tambah Karyawan

CEO ServiceNow, Bill McDermott, menyatakan bahwa perusahaan menggunakan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas karyawan dan memperkirakan jumlah karyawan perusahaan akan tetap stabil hingga awal 2027, meskipun melakukan integrasi akuisisi.

Ad
Ad

Pernyataan tersebut disampaikan McDermott saat wawancara dengan CNBC di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada 21 Januari 2025. Menurutnya, penggunaan AI merupakan kunci untuk menjaga disiplin biaya sambil mempertahankan kualitas budaya perusahaan dan standar kinerja yang tinggi.

"Seiring dengan adanya pengunduran diri dalam perusahaan, Anda tidak perlu mengganti posisi tersebut," ujar McDermott. "Jadi kita masih bisa mempertahankan budaya yang hebat dan standar kinerja yang luar biasa, sekaligus menciptakan efisiensi besar yang memperbesar margin free cash flow perusahaan."

Situasi ini mencerminkan tren yang terjadi di industri perangkat lunak, di mana beberapa perusahaan seperti Block dan Atlassian juga mengumumkan pemutusan hubungan kerja dengan alasan efisiensi biaya berkat teknologi AI.

Kinerja dan Reaksi Pasar Terhadap ServiceNow

ServiceNow baru saja mengumumkan laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026 yang melampaui ekspektasi analis baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih, sekaligus menaikkan proyeksi bisnis ke depan. Namun, saham perusahaan justru turun sekitar 12% setelah pengumuman tersebut, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak AI pada model bisnis perangkat lunak secara umum.

Selama dua tahun sebelumnya, saham ServiceNow mengalami kenaikan signifikan hingga awal 2025 sebelum kekhawatiran terkait AI mulai menggerus sentimen pasar. Meski demikian, McDermott optimis bahwa pertumbuhan yang didukung AI akan terus berlanjut dan perusahaan tetap menjadi pemain yang kuat di sektor ini.

"Saya rasa tidak banyak perusahaan lain yang beroperasi dengan aturan 56-plus dan malah menaikkan panduan bisnisnya," jelas McDermott. "Kami sangat yakin, kami tahu perusahaan ini menang, dan kami memanfaatkan AI dalam segala aspek bisnis kami."

Model Pendapatan dan Dampak AI

McDermott juga menyoroti pipeline bisnis ServiceNow yang menunjukkan peningkatan 21% year-over-year pada kewajiban kinerja yang masih harus dipenuhi dengan mata uang konstan. Dia menepis kekhawatiran investor terkait potensi hilangnya model pendapatan berbasis lisensi kursi (seat-based subscription) seiring dengan meningkatnya penggunaan agen AI.

"Setengah dari pendapatan kami berasal dari konsumsi, yang sering menjadi sorotan investor terkait model harga berbasis lisensi kursi yang dianggap akan hilang," kata McDermott. "Aktifitas lisensi kursi kami malah naik 25%, dan 50% dari bisnis baru kami berasal dari model non-lisensi seperti token, infrastruktur, perangkat keras, dan konektor ke berbagai sistem. Jadi kami benar-benar dalam tren positif."

Pengaruh Kondisi Makro dan Regional

Meskipun mengandalkan AI, ServiceNow tidak lepas dari dampak kondisi makroekonomi dan geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, khususnya Iran. McDermott menjelaskan bahwa pelanggan di kawasan tersebut harus menyesuaikan strategi mereka, terutama karena negara-negara di sana mengharuskan instalasi perangkat lunak secara on-premise.

"Ada sedikit dampak di Timur Tengah, karena negara-negara tersebut mengharuskan instalasi on-premise," jelas McDermott. "Dalam model on-premise, pendapatan tidak diakui secara bertahap melainkan sekaligus, jadi jika bisnis melambat atau dibatalkan, dampaknya langsung terasa."

Namun, dia menambahkan bahwa situasi di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda normalisasi dan ada pembicaraan untuk kembali melakukan bisnis secara aktif.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan CEO ServiceNow ini menggarisbawahi transformasi besar di industri perangkat lunak yang dipicu oleh AI. Penggunaan AI sebagai alat peningkat produktivitas memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan atau bahkan mengurangi jumlah karyawan tanpa mengorbankan performa bisnis. Ini menjadi game-changer dalam cara perusahaan teknologi mengelola sumber daya manusia dan biaya.

Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan sosial, terutama dalam penyerapan tenaga kerja baru, yang pernah diungkapkan oleh McDermott terkait risiko pengangguran tinggi bagi lulusan baru. Oleh karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan untuk memikirkan ulang strategi pelatihan dan penyesuaian tenaga kerja di era AI.

Ke depan, investor dan pelaku industri harus memantau bagaimana ServiceNow dan perusahaan sejenis mampu memanfaatkan AI untuk memperkuat bisnis sekaligus mengelola risiko geopolitik dan ekonomi global yang dinamis. Teknologi AI bukan hanya alat efisiensi, tetapi juga faktor penentu keberhasilan jangka panjang di pasar software yang sangat kompetitif.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca sumber asli artikel ini di CNBC dan mengikuti berita terkini dari CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad