Film Horor Para Perasuk Angkat Fenomena Kerasukan dengan Nuansa Baru

Apr 24, 2026 - 10:42
 0  4
Film Horor Para Perasuk Angkat Fenomena Kerasukan dengan Nuansa Baru

Para Perasuk, film horor terbaru yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, hadir membawa warna berbeda dalam industri perfilman Indonesia. Berbeda dari film horor biasanya yang menonjolkan ketakutan semata, film ini mengangkat fenomena kerasukan sebagai pengalaman komunal yang justru membawa kebahagiaan dan hiburan melalui tradisi unik bernama Pesta Sambetan.

Ad
Ad

Fenomena Kerasukan dalam Tradisi Pesta Sambetan

Dalam film ini, Wregas mengeksplorasi kerasukan roh hewan sebagai bagian dari ritual hiburan masyarakat desa di Desa Latas, sebuah wilayah kecil di pinggiran kota. Pesta Sambetan digambarkan sebagai pertunjukan yang melibatkan Perasuk—orang yang mengiringi dengan musik dan membawa peserta kerasukan, yang disebut Pelamun, memasuki alam sambet penuh euforia dan kenikmatan.

“Silakan gabung di pesta sambetan. Bareng-bareng kita lupain bentar ya cicilan, masalah keluarga lepasin semua di alam sambet,” ujar salah satu dialog yang mencerminkan kemeriahan tradisi itu.

Ritual kerasukan ini bukan sekadar serem-sereman, melainkan menjadi medium pelampiasan yang terpendam dari realitas kehidupan sehari-hari warga desa.

Konflik dan Ambisi di Balik Tradisi

Di balik kegembiraan Pesta Sambetan, terdapat ancaman nyata yaitu rencana penggusuran sumber mata air keramat oleh perusahaan Wanaria. Hal ini mengancam keberlangsungan ritual kerasukan yang menjadi bagian penting kehidupan warga. Bayu (diperankan oleh Angga Yunanda), seorang pemuda desa yang ingin menjadi Perasuk utama, bertekad menyelamatkan tradisi tersebut sekaligus mencari kepastian ekonomi.

Bayu menjalani latihan fisik dan batin yang berat untuk bisa terhubung dengan frekuensi roh-roh hewan di desa itu. Namun, perjalanan Bayu tidak mudah. Ia menghadapi persaingan dengan sesama Perasuk, Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan), konflik dengan ayahnya (Indra Birowo), serta hubungan rumit dengan Laksmi (Maudy Ayunda), seorang Pelamun yang membawanya memasuki dimensi antara sadar dan tak sadar.

Transformasi dan Obsesi Bayu

Wregas menampilkan Bayu sebagai cerminan anak muda yang berlatar kondisi terbatas dan berusaha meraih masa depan lebih baik melalui tradisi tersebut. Keinginannya menjadi Perasuk utama berubah menjadi obsesi yang membawa konflik batin mendalam.

  • Bayu mulai kehilangan keseimbangan hidupnya karena ambisi berlebihan.
  • Ritual kerasukan yang seharusnya menghibur berubah menjadi medan konflik personal.
  • Film mengajak penonton merasakan pergulatan diri Bayu yang kompleks antara mimpi dan realitas.

Menurut Wregas, film ini juga merefleksikan perjalanannya sendiri, bagaimana ketertarikan pada dunia film bisa berubah menjadi obsesi yang menjauhkan dari orang terdekat.

Penampilan Pemeran dan Visual Sinematik

Film ini didukung oleh penampilan para aktor yang solid. Angga Yunanda menunjukkan komitmen tinggi dalam memerankan Bayu, termasuk kemampuan memainkan alat musik tiup slompret dan gerakan tubuh saat kerasukan roh yang realistis dan penuh energi.

Maudy Ayunda sukses memerankan Laksmi dengan harmoni antara musik, tarian, dan emosi tanpa berlebihan. Sementara itu, Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri tampil sebagai sosok pemimpin tegas sekaligus humanis, dengan suara yang memikat sebagai pusat ekspresi musikal film.

Secara visual, Wregas membangun dunia fiksi yang imersif dengan berbagai pendekatan sinematik, menjadikan Pesta Sambetan bukan hanya ritual, melainkan ruang pelarian dan hiburan dari tekanan hidup yang nyata.

Kesimpulan dan Jadwal Tayang

Meski awalnya mungkin terasa membingungkan, Para Perasuk menawarkan pengalaman tontonan yang unik dan mendalam. Film ini sudah dapat disaksikan di bioskop Indonesia sejak 23 April 2026.

Untuk informasi lebih lengkap, simak laporan lengkapnya di ANTARA News.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, Para Perasuk bukan sekadar film horor biasa yang mengandalkan jump scare, melainkan sebuah karya yang mengangkat budaya lokal dan fenomena sosial dengan cara yang inovatif dan mendalam. Penggambaran kerasukan sebagai ruang pelarian dan hiburan memberikan perspektif baru terhadap tradisi yang selama ini dipandang mistis dan menakutkan.

Konflik antara tradisi dan modernisasi, seperti ancaman penggusuran sumber mata air, juga menjadi cerminan nyata masalah yang dihadapi banyak komunitas adat di Indonesia saat ini. Bayu, sebagai tokoh utama, mewakili generasi muda yang bergulat dengan identitas, ambisi, dan tekanan sosial yang kompleks.

Ke depannya, film ini bisa menjadi pionir tren film horor bertema budaya dengan pendekatan yang lebih humanis dan filosofis. Penonton dan industri perfilman sebaiknya mengamati bagaimana film ini diterima publik dan kritikus, yang bisa membuka jalan bagi karya-karya serupa yang lebih kaya akan nilai budaya dan sosial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad