Pekerjaan Jurnalis Justru Bertahan di Era AI Meski Terancam Hilang

Apr 24, 2026 - 22:22
 0  2
Pekerjaan Jurnalis Justru Bertahan di Era AI Meski Terancam Hilang

Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah kekhawatiran luas mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja, Microsoft baru saja merilis daftar 40 pekerjaan dengan tingkat paparan generative AI tertinggi. Daftar tersebut menempatkan profesi yang berbasis bahasa dan informasi, seperti penerjemah, juru bahasa, dan sejarawan, sebagai yang paling terpapar AI. Namun, menariknya, pekerjaan jurnalis justru menunjukkan ketahanan meskipun terancam oleh teknologi ini.

Ad
Ad

Daftar Pekerjaan Rentan AI Versi Microsoft

Berdasarkan laporan Microsoft, pekerjaan yang paling rentan adalah mereka yang banyak melibatkan pengetahuan dan aktivitas berbasis informasi, seperti pekerjaan komputer, matematika, administrasi kantor, dan sales. Pekerjaan sales masuk urutan teratas karena kerap berhubungan dengan berbagi dan menjelaskan informasi yang dapat dengan mudah dibantu oleh AI.

“Sangat menggoda untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan dengan tumpang tindih tinggi dengan aktivitas yang dilakukan AI akan otomatis tergantikan, tapi itu akan menjadi kesalahan,” tulis para peneliti Microsoft, mengingat bahwa dampak teknologi ini pada bisnis sangat sulit diprediksi dan sering bertentangan dengan intuisi.

Jurnalis dan AI: Ancaman sekaligus Bantuan

Salah satu pekerjaan yang masuk dalam daftar paparan AI adalah jurnalis dan penulis. Profesi ini memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi dan membentuk opini publik. AI telah mengubah jurnalisme dengan mempermudah produksi berita, analisis data, serta distribusi konten secara signifikan.

Berdasarkan riset Nieman Lab yang dipublikasikan di Reuters Institute for the Study of Journalism Universitas Oxford, 56% jurnalis di Inggris menggunakan AI setiap minggunya. Alat-alat seperti Gemini, NotebookLM, dan perangkat lunak khusus SEO membantu efisiensi dalam penyusunan draf, meringkas tulisan, dan optimasi konten.

Namun, 62% jurnalis memandang AI sebagai ancaman besar karena risiko etika, potensi disinformasi, dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan. Masalah seperti plagiarisme dan hak cipta juga menjadi isu penting yang harus ditangani secara global.

"Jika AI mengutip atau merangkum tulisan jurnalis tanpa memberikan kredit atau kompensasi, apakah itu inovasi atau plagiarisme?" — Kaijun Zheng, Director Social Media Xinhua News Agency

Pengalaman Praktis Redaksi dengan AI

Dalam World Journalist Conference 2026 di Korea Selatan, Kaijun Zheng dari Xinhua News Agency mengungkapkan penggunaan 230 alat AI di sistem kantornya. Organisasi media di China sangat masif dalam mengadopsi AI karena menjadi prioritas nasional.

Zheng menyatakan AI membantu memproses data, menerjemahkan wawancara, memoles bahasa, membuat draf, dan memvisualisasikan ide. “Ini membebaskan kami dari pekerjaan membebani sehingga fokus ke tugas yang hanya manusia bisa lakukan,” ujarnya.

Namun, Zheng juga mengingatkan risiko "AI Slop" yaitu kesalahan AI seperti subtitle yang salah atau kisah palsu yang dapat mengancam kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa jurnalis tetap tak tergantikan karena AI hanya mengolah probabilitas, sedangkan jurnalisme berurusan dengan kebenaran dan realitas saat ini.

Inovasi AI di Seoul Economic Daily

Deputy Director Future & Strategy di Seoul Economic Daily, Woo Seung Ho, membagikan pengalaman membangun empat mesin AI internal: AI NOVA, AI PRISM, AI WAVE, dan AI GLOBE. Mesin AI ini membantu manajemen konten, drafting, proofreading, penerjemahan, pembuatan video, hingga personalisasi newsletter.

Keunikan pengembangan AI di sini adalah integrasi langsung ke dalam sistem kerja jurnalis (CMS) tanpa perlu login atau platform baru, sehingga memudahkan adopsi teknologi. Pendekatan ini berhasil meningkatkan penggunaan AI secara signifikan dibandingkan jika AI dipaksakan.

Lebih dari 16.500 artikel telah dipublikasikan dengan bantuan AI tanpa masalah halusinasi konten. Woo menegaskan, "AI LINK bukan robot jurnalis, mesin ini tidak mencari berita sendiri dan tidak menggantikan jurnalis".

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, laporan Microsoft dan pengalaman praktis dari dunia jurnalisme menunjukkan bahwa meskipun AI membawa ancaman nyata, terutama dalam hal etika dan potensi pengurangan pekerjaan, AI juga merupakan alat bantu yang tak tergantikan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja jurnalis. Ketakutan kehilangan pekerjaan memang valid, tetapi profesi yang berhubungan dengan verifikasi fakta, wawancara mendalam, dan analisis kritis masih sangat bergantung pada kemampuan manusia.

Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana media dan jurnalis beradaptasi dan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja mereka tanpa kehilangan nilai-nilai jurnalistik dan kepercayaan publik. Regulasi hak cipta dan transparansi penggunaan AI juga harus segera dikembangkan secara global agar tidak terjadi penyalahgunaan atau plagiarisme yang merugikan para profesional.

Kedepannya, jurnalis yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu akan lebih kompetitif dan relevan. Sementara itu, publik dan pelaku industri media harus terus mengawasi dampak etis dan sosial dari penggunaan AI agar teknologi ini menjadi pelengkap, bukan pengganti kemanusiaan dalam jurnalisme.

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi artikel asli di CNBC Indonesia dan ikuti perkembangan terkini di media terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad