Rupiah Jatuh ke Atas Rp17 Ribu: BI Ungkap Perang AS-Israel Penyebab Utama
Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang melemah ke atas level Rp17 ribu per dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah adalah konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Konflik Geopolitik dan Dampaknya pada Rupiah
Perang yang telah berlangsung lebih dari sebulan itu menyebabkan Amerika Serikat meningkatkan pengeluaran militernya secara signifikan. Gelontoran biaya perang tersebut memperbesar defisit fiskal AS dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury. Kenaikan imbal hasil ini kemudian mendorong pergerakan modal global mengarah ke aset-aset AS yang dianggap lebih aman.
Akibatnya, terjadi arus modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Juli Budi menjelaskan:
"Rentetan perang memang berdampak ke sektor keuangan, pergerakan arus modal dari negara berkembang ke AS menjadi lebih kencang, dampaknya apresiasi dolar. Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang dunia termasuk rupiah."
Per tanggal 24 April 2026, rupiah tercatat berada di level Rp17.229 per dolar AS, menandai pelemahan yang cukup tajam dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Strategi BI Menahan Tekanan Rupiah
Untuk menahan tekanan pelemahan rupiah, BI meningkatkan intervensi baik di pasar spot maupun pasar forward, di dalam dan luar negeri. Kebijakan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Juli Budi menegaskan:
"Tidak hanya di spot tapi di forward juga, baik dalam negeri dan luar negeri. Kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas rupiah."
Langkah ini penting untuk meredam gejolak yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan pergerakan modal internasional yang tidak menentu.
Peran Pemerintah dan Koordinasi Kebijakan
Ekonom senior Ryan Kiryanto menilai bahwa stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan BI saja. Pemerintah dan pemangku kepentingan lain harus memberikan dukungan kuat agar upaya menjaga nilai tukar lebih efektif.
Menurut Ryan, salah satu dukungan yang bisa diberikan pemerintah adalah dengan pengendalian impor, khususnya melalui kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Kebijakan TKDN yang konsisten dapat membantu mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat fundamental ekonomi domestik, sehingga mengurangi tekanan pada rupiah.
Selain itu, dorongan pengembangan bahan substitusi impor di sektor-sektor strategis seperti farmasi juga sangat penting. Saat ini, sekitar 90% bahan baku farmasi Indonesia masih diimpor dari China dan India, yang membuat negara rentan terhadap gejolak nilai tukar.
Ryan juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) agar setiap keputusan dan pernyataan yang dikeluarkan lebih market friendly dan memberikan kepastian kepada pelaku pasar.
"BI dalam kondisi sekarang ini sudah mengerjakan yang jadi bagian dan tugasnya dalam menjaga rupiah. Tinggal otoritas lain juga harus kita dorong untuk melakukannya,"
ujarnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pelemahan rupiah yang mencapai level Rp17 ribu bukan sekadar masalah teknis pasar valuta asing, melainkan cerminan dari ketidakpastian geopolitik global yang berdampak langsung pada ekonomi Indonesia. Konflik AS-Israel yang melibatkan Iran telah memicu gelombang penguatan dolar AS secara luas, yang menjadi tantangan besar bagi negara berkembang yang mengandalkan arus modal asing.
BI sudah mengambil langkah cepat dengan intervensi di pasar dan kebijakan valas, namun upaya ini harus didukung oleh kebijakan fiskal dan perdagangan yang sinergis dari pemerintah. Penguatan TKDN dan substitusi impor adalah solusi jangka panjang yang krusial agar Indonesia lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Ke depan, penguatan koordinasi antar lembaga keuangan dan kebijakan yang responsif terhadap dinamika global akan menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas rupiah. Masyarakat dan pelaku usaha pun perlu terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi agar dapat mengambil langkah adaptif.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, Anda dapat membaca sumber aslinya di CNN Indonesia dan mengikuti berita terbaru di media terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0