Pemkab Bandung Siapkan 20 Kolam Retensi Baru Tangani Banjir Citarum
Pemkab Bandung mengambil langkah strategis untuk mengatasi banjir menahun di wilayah Sungai Citarum dengan menyiapkan 20 kolam retensi baru dan folder air. Upaya ini merupakan respons atas meningkatnya debit air akibat berkurangnya daerah resapan di hulu serta penyempitan sungai yang memperparah potensi banjir.
Pemicu Utama Banjir di Citarum
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqwa, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi secara berulang di wilayah Cekungan Bandung sangat dipengaruhi oleh perubahan fungsi lahan di daerah hulu. Kawasan hutan yang dahulu menjadi daerah resapan kini banyak beralih menjadi kawasan pertanian dan permukiman, sehingga mempercepat laju air yang mengalir ke hilir.
"Berdasarkan data intervensi penanganan banjir per 24 April 2026, kondisi lahan kritis di hulu mempercepat laju air menuju wilayah bawah," ujar Zeis.
Selain itu, fenomena ini semakin diperparah oleh penyempitan sungai yang terjadi akibat penumpukan sampah domestik, limbah industri, dan air limbah domestik atau grey water yang tidak terkelola dengan baik.
Perbedaan Topografi Memengaruhi Aliran Air
Zeis juga menyoroti perbedaan elevasi yang signifikan di wilayah Kabupaten Bandung sebagai faktor pengaruh debit air di Sungai Citarum. Kecamatan Kertasari berada di titik tertinggi dengan ketinggian 1.512 meter di atas permukaan laut (MDPL), sedangkan daerah seperti Baleendah dan Dayeuhkolot berada di titik terendah yakni 664 MDPL. Perbedaan topografi ini menyebabkan aliran air dari hulu ke hilir berjalan cukup deras dan berpotensi menyebabkan banjir apabila tidak ada sistem pengendalian yang efektif.
Strategi Penanganan: Kolam Retensi dan Folder Air
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemkab Bandung berfokus pada pembangunan infrastruktur pengendalian banjir, yaitu:
- 20 kolam retensi baru yang berfungsi menampung kelebihan debit air sehingga mengurangi risiko banjir di hilir.
- Folder air, yaitu struktur pengendali aliran yang membantu mengatur distribusi air agar tidak menggenang dan meluap secara tiba-tiba.
Langkah ini diharapkan dapat menahan dan mengatur aliran air dari daerah hulu agar debit yang sampai ke wilayah permukiman dan pertanian di hilir tidak berlebihan.
Permasalahan Lingkungan dan Pemulihan Hulu Citarum
Penanganan banjir tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga terkait pengelolaan lingkungan hulu yang menjadi sumber utama debit air. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali, pencemaran limbah industri dan domestik, serta penumpukan sampah di sungai harus diatasi secara komprehensif.
Dalam konteks ini, upaya konservasi dan rehabilitasi hulu Citarum menjadi sangat penting untuk meningkatkan fungsi ekologis daerah resapan air. Seperti yang pernah disampaikan oleh Dedi Mulyadi, target pemulihan hulu termasuk mengembalikan habitat asli seperti harimau di Gunung Tilu juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemulihan ekosistem Citarum.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, langkah Pemkab Bandung menyiapkan 20 kolam retensi dan folder air adalah langkah konkret dan terukur yang dapat memberikan dampak signifikan dalam mengurangi banjir di hilir Sungai Citarum. Namun, solusi infrastruktur ini hanya bagian dari penanganan jangka pendek hingga menengah.
Masalah utama sebenarnya terletak pada kerusakan ekologis di hulu yang terus berlangsung akibat alih fungsi lahan dan buruknya pengelolaan limbah. Jika hal ini tidak diatasi secara serius, maka risiko banjir akan terus meningkat seiring dengan perubahan iklim dan urbanisasi yang makin pesat.
Ke depan, masyarakat dan pemerintah harus memperkuat sinergi dalam pengelolaan lingkungan, termasuk pengawasan ketat terkait limbah industri dan penggunaan lahan. Program edukasi dan pemberdayaan masyarakat juga penting agar kawasan hulu dapat kembali berfungsi optimal sebagai daerah resapan air.
Selain itu, Pemkab Bandung perlu memperhatikan pengembangan sistem peringatan dini dan evakuasi agar dampak banjir bisa diminimalkan, khususnya di kawasan yang paling rawan seperti Baleendah dan Dayeuhkolot.
Secara keseluruhan, upaya ini harus menjadi proyek berkelanjutan dengan dukungan penuh dari berbagai pihak agar Citarum yang selama ini dikenal sebagai sungai tercemar bisa bertransformasi menjadi sungai yang sehat dan aman bagi masyarakat.
Untuk informasi terbaru dan perkembangan penanganan banjir Citarum, pembaca dapat terus mengikuti berita di situs resmi pemerintah dan media terpercaya seperti Kompas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0