Teknologi Hyperscaler Hadapi Wall Street Pasca Perang Iran dan Kenaikan Harga Minyak

Apr 29, 2026 - 00:30
 0  5
Teknologi Hyperscaler Hadapi Wall Street Pasca Perang Iran dan Kenaikan Harga Minyak

Empat raksasa internet asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai hyperscaler teknologi akan melaporkan hasil kuartalannya setelah penutupan pasar pada Rabu, kali pertama mereka menyampaikan perkembangan terbaru sejak dimulainya perang antara AS dan Iran pada Februari lalu.

Ad
Ad

Investor sangat ingin mengetahui bagaimana lonjakan harga minyak dan krisis kekurangan memori memengaruhi rencana belanja modal (capex) untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Meskipun demikian, harga saham perusahaan-perusahaan ini tetap stabil dan analis umumnya mempertahankan estimasi capex mereka.

Rencana Capex Besar di Tengah Gejolak Global

Terakhir kali hyperscaler teknologi berbicara kepada Wall Street tiga bulan lalu, mereka mengumumkan rencana belanja lebih dari setengah triliun dolar AS untuk membangun infrastruktur AI tahun ini. Namun, sejak saat itu, konflik antara AS dan Iran menyebabkan harga minyak meroket dan produksi helium—gas penting dalam pembuatan semikonduktor—melambat drastis.

Krisi memori global yang sudah ada sebelumnya pun semakin memburuk, memaksa perusahaan teknologi membayar lebih mahal untuk kapasitas yang dibutuhkan dalam membangun pusat data mereka. Meski begitu, perusahaan-perusahaan ini tidak menunjukkan tanda-tanda mengurangi investasi mereka. Dengan pertumbuhan pesat model AI seperti Anthropic's Claude dan layanan populer seperti ChatGPT dan Gemini, permintaan sumber daya komputasi terus meningkat.

Empat Raksasa Teknologi Bersama dalam Laporan Keuangan

Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft semuanya dijadwalkan mengumumkan hasil kuartalannya pada hari yang sama setelah pasar tutup. Perang yang dimulai pada awal tahun ini menyebabkan harga minyak naik sekitar 50% dan bahkan 80% dalam tahun ini, tetapi saham mereka tetap bertahan dengan hanya Microsoft yang mencatat penurunan sepanjang tahun.

Ted Mortonson, pakar strategi teknologi di Baird, menyebut kondisi pasar saat ini sebagai "fase complacency" dimana investor berharap Presiden Donald Trump akan menghindari eskalasi perang. Ia menyebutnya sebagai "TACO trade thought process" yang artinya "Trump Always Chickens Out" atau Trump selalu menghindar. Namun, dia pribadi khawatir karena investor belum menunjukkan tanda-tanda panik seperti yang terjadi pada krisis dot-com 2000.

Capex dan Tantangan Harga Energi serta Memori

Para analis tidak memperkirakan perubahan besar pada ramalan capex untuk tahun ini. Alphabet, Amazon, dan Meta diperkirakan akan mempertahankan panduan yang telah mereka berikan pada Januari. Microsoft sendiri tidak memberikan panduan capex, namun analis memperkirakan pertumbuhan sekitar 66% untuk tahun fiskal yang berakhir Juni, dengan total sekitar 107,5 miliar dolar AS.

Dalam surat tahunan kepada pemegang saham, CEO Amazon Andy Jassy menegaskan rencana belanja sebesar 200 miliar dolar AS tahun ini, meningkat lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya, tanpa menyebutkan dampak perang Iran atau kenaikan harga energi. Sementara itu, Brad Smith, Presiden Microsoft, menegaskan bahwa kebutuhan untuk menambah pasokan komputasi tidak bisa ditunda saat permintaan jauh melebihi pasokan.

Meski menghadapi kenaikan biaya, Amazon Web Services tidak berencana menaikkan harga layanan mereka, menurut sumber anonim terkait strategi internal perusahaan.

Dampak Geopolitik dan Krisis Memori pada Industri Teknologi

Para analis di KeyBanc menyoroti dua fokus utama menjelang laporan Microsoft, yaitu dampak konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga memori pada sektor cloud. Hasil survei internal menunjukkan sentimen positif secara umum, demikian juga untuk Amazon yang diperkirakan akan memenuhi target pendapatan meskipun ada risiko terhadap laba operasi akibat konflik dan kenaikan harga gas.

Meta diperkirakan akan menaikkan panduan capex tahun ini, didorong oleh investasi besar di pusat data. Namun, perusahaan juga memangkas sekitar 10% tenaga kerja untuk mengelola biaya AI yang tinggi dan meningkatkan efisiensi. Microsoft pun menawarkan opsi pensiun sukarela kepada sekitar 7% karyawan AS-nya.

Harga minyak yang melonjak mendorong kenaikan harga solar hingga 42% sejak perang dimulai, yang berimbas langsung pada biaya transportasi dan produksi pusat data. Selain itu, serangan Iran terhadap fasilitas gas alam cair di Qatar menghentikan sebagian produksi helium yang sangat penting untuk pembuatan chip. Qatar sendiri merupakan produsen lebih dari sepertiga helium dunia sebelum perang.

Selain helium, bahan kimia seperti sulfur juga mengalami kenaikan harga karena kekhawatiran pengiriman melalui Selat Hormuz yang masih minim lalu lintas kapal akibat gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.

Kendala Energi dan Infrastruktur Pusat Data

Ahli teknik dan ilmu komputer dari Universitas Pennsylvania, Benjamin Lee, memperingatkan bahwa jika harga gas alam cair terus meningkat, biaya listrik untuk pusat data juga bakal melonjak. Namun, menurut Robert Thummel dari Tortoise Capital, AS mungkin lebih tahan terhadap ketidakstabilan pasar energi global karena merupakan pemasok LNG terbesar dunia, memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan teknologi domestik.

Meski begitu, pembangunan pusat data skala gigawatt yang direncanakan hyperscaler memerlukan fasilitas energi besar baru. Lee menyoroti berbagai hambatan termasuk proses regulasi, sambungan ke jaringan transmisi, dan persoalan pembagian biaya.

Krisis Memori yang Membebani Industri Teknologi

Krisis memori yang sudah ada sebelum perang Iran terus memburuk. Saham produsen memori Micron melonjak lebih dari 550% dalam setahun terakhir. CEO Micron, Sanjay Mehrotra, menyatakan permintaan akan memori untuk server, chip Nvidia, dan SSD pusat data akan melebihi pasokan sepanjang 2026.

Biaya komponen yang meningkat membuat Microsoft menaikkan harga Surface PC hingga ratusan dolar. IDC memperkirakan harga DRAM naik hampir tiga kali lipat menjadi 9,71 dolar AS per gigabyte pada 2026 dibanding tahun sebelumnya. Harga sewa GPU Nvidia H200 juga naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut analis Gil Luria, hyperscaler menyerap kenaikan biaya ini, namun kekhawatiran adanya tekanan harga yang lebih luas tetap ada. Analis Baird, Will Power, telah menaikkan estimasi capex Microsoft untuk 2027 menjadi 180 miliar dolar AS dari sebelumnya 161,6 miliar.

Strategi dan Adaptasi di Tengah Gejolak

CEO Acre Security, Kumar Sokka, menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak belum berdampak signifikan pada perusahaannya, namun tantangan seperti tarif perdagangan oleh pemerintahan Trump sudah memaksa perusahaan memindahkan produksi ke berbagai negara. Kecepatan pembangunan pusat data dan hambatan tak terduga memaksa perusahaan belajar cepat beradaptasi dengan perubahan mendadak.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, laporan keuangan hyperscaler teknologi kali ini menjadi momen penting untuk menguji ketahanan industri teknologi menghadapi tekanan geopolitik dan krisis pasokan komponen. Meski investor saat ini masih optimis dan harga saham stabil, ketidakpastian jangka menengah hingga panjang tetap menjadi ancaman serius yang berpotensi mengganggu rencana ekspansi dan profitabilitas perusahaan.

Perang Iran dan lonjakan harga energi mempertegas kebutuhan hyperscaler untuk memperkuat rantai pasokan dan diversifikasi lokasi pusat data agar terhindar dari risiko geopolitik. Di sisi lain, kenaikan tajam harga memori dan chip mengindikasikan bahwa biaya operasional pusat data dapat terus meningkat, yang akhirnya bisa memengaruhi harga layanan cloud dan teknologi AI di masa depan.

Kami menyarankan pembaca untuk terus memantau perkembangan laporan keuangan perusahaan teknologi besar ini dan bagaimana mereka mengelola risiko di tengah dinamika global yang terus berubah. Ini bukan hanya soal angka kuartalan, tapi juga gambaran strategi besar dalam era AI yang semakin menuntut kapasitas komputasi masif dan pasokan energi stabil.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca artikel aslinya di CNBC dan berita teknologi terkini di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad