Semangat Belajar Anak Korban Banjir Aceh Terus Membara di Rumoh Harapan

May 2, 2026 - 08:50
 0  4
Semangat Belajar Anak Korban Banjir Aceh Terus Membara di Rumoh Harapan

Wajah anak-anak di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, menunjukkan semangat yang luar biasa dalam belajar meski kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 masih belum sepenuhnya pulih setelah diterjang banjir bandang. Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus menuntut ilmu.

Ad
Ad

Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, Dompet Dhuafa bersama mitranya membangun sekolah darurat Rumoh Harapan Siap Sekolah. Sekolah sementara ini berdiri di lahan kosong belakang MIN 4 Pidie Jaya, menjadi tempat belajar anak-anak di tengah sisa-sisa lumpur dan puing-puing akibat banjir.

Rumoh Harapan: Solusi Pendidikan Darurat Pasca Banjir

Rumoh Harapan Siap Sekolah adalah program yang bertujuan memulihkan pendidikan pasca-bencana, khususnya untuk sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan akibat banjir maupun bencana lainnya. Program ini menyediakan ruang belajar yang aman dan layak agar anak-anak dapat kembali bersekolah tanpa penundaan.

Rizki Fauzan, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh, menjelaskan bahwa terdapat dua lokasi pembangunan Rumoh Harapan di Pidie Jaya, yaitu di MIN 1 dan MIN 4 dengan masing-masing dua ruang kelas. Bangunan lama rusak parah dengan lumpur yang menutupi ruangan hingga lebih dari satu meter.

"Karena ruangan porak-poranda diterjang banjir. Bahkan ketinggian lumpur sampai dengan satu meter lebih. Pada saat itu yang urgent adalah ruangan darurat," ujar Fauzan kepada Liputan6.com pada Jumat, 1 Mei 2026.

Pembangunan sekolah darurat seluas 7 x 6 meter persegi ini memakan waktu hanya lima hari meskipun menghadapi kesulitan terutama dalam pengadaan material bangunan. Dompet Dhuafa sampai harus membeli besi holo dan bahan bangunan lain hingga dari Medan karena ketersediaan lokal yang terbatas.

Bantuan Lengkap untuk Memulihkan Pendidikan

Selain membangun fasilitas fisik sekolah, Dompet Dhuafa juga menyalurkan berbagai bantuan lain seperti alat tulis, sound system untuk pengeras suara, perlengkapan sekolah, dan media belajar. Hal ini dilakukan agar proses belajar mengajar di sekolah darurat dapat berjalan dengan lancar dan menyenangkan.

Tidak hanya itu, relawan Dompet Dhuafa menginisiasi sekolah sosial yang menggabungkan kegiatan belajar dengan bermain. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi sekaligus membantu anak-anak menghilangkan trauma pasca banjir.

"Konsep sekolah sosial adalah bermain sambil belajar. Edukasi untuk mengisi kegiatan anak-anak, lantaran kondisi belum optimal," jelas Fauzan. "Di awal-awal, kegiatan ini dilakukan hampir setiap hari, lalu diubah menjadi tiga kali seminggu."

Kondisi Sekolah dan Tantangan Pasca Banjir

Kepala Sekolah MIN 4, Zulkarnaeni, menggambarkan kondisi pasca banjir yang sangat parah. Bangunan lama penuh lumpur setinggi 1,5 meter, enam ruangan kelas dan kantor tidak bisa digunakan. Buku pelajaran, rapor, hingga seragam murid banyak yang hilang terbawa banjir.

"Bangku berserakan dan lantai penuh lumpur, ruang kelas lama tidak bisa dipakai," ujar Zulkarnaeni. Proses pembelajaran sempat berjalan seadanya karena keterbatasan fasilitas dan akses jalan yang tertutup lumpur. Kendaraan tidak bisa melintas, sehingga bantuan awal harus diangkut dengan berjalan kaki hingga alat berat bisa dikerahkan untuk membuka jalan.

Bantuan pertama yang sampai ke sekolah adalah dari Dompet Dhuafa, berupa buku paket dan perlengkapan pendidikan. Salah satu guru yang mengajar di MIN 4 menambahkan bahwa bantuan Dompet Dhuafa adalah yang pertama dan sangat membantu proses belajar anak-anak.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kehadiran Rumoh Harapan Siap Sekolah menjadi game-changer dalam pemulihan pendidikan pasca bencana di Aceh. Tidak hanya sekadar menyediakan ruang belajar, program ini juga mengakomodasi kebutuhan psikososial anak-anak lewat sekolah sosial, hal yang kerap terlupakan dalam penanganan darurat.

Selain itu, tantangan logistik seperti keterbatasan material dan akses yang terputus menunjukkan perlunya perencanaan bencana yang lebih matang dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan. Pendekatan terpadu yang menggabungkan fasilitas fisik, bantuan pendidikan, dan dukungan psikologis akan mempercepat pemulihan kualitas pendidikan di daerah terdampak.

Ke depan, penting untuk memantau keberlanjutan program ini serta memperluas cakupan ke daerah-daerah lain yang terdampak bencana. Menurut Liputan6.com, langkah seperti ini membuktikan bahwa edukasi harus tetap menjadi prioritas utama meskipun dalam kondisi krisis.

Selain itu, kolaborasi antara lembaga kemanusiaan dan pemerintah daerah perlu ditingkatkan untuk mempercepat rehabilitasi fasilitas pendidikan dan memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak belajar mereka tanpa terputus.

Dengan semangat dan dukungan yang tepat, masa depan anak-anak korban banjir di Aceh dapat terus dibangun meskipun menghadapi tantangan besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad