Charles Lieber, Ilmuwan Harvard yang Bohongi AS, Kini Bantu China Bangun Tentara Super

May 2, 2026 - 08:53
 0  5
Charles Lieber, Ilmuwan Harvard yang Bohongi AS, Kini Bantu China Bangun Tentara Super

Charles Lieber, ilmuwan terkemuka asal Amerika Serikat yang pernah bekerja di Universitas Harvard, kini menjadi sorotan dunia setelah diketahui membantu China membangun teknologi canggih untuk proyek yang disebut "tentara super". Kasus ini mengungkap bagaimana Lieber, yang sebelumnya dihukum karena berbohong kepada otoritas AS tentang pembayaran dari China, kembali aktif dalam riset mutakhir di Shenzhen, China.

Ad
Ad

Charles Lieber dan Peranannya dalam Proyek Teknologi Otak China

Lieber dikenal sebagai salah satu pakar dunia dalam bidang brain-computer interfaces, teknologi yang memungkinkan interaksi langsung antara otak manusia dan perangkat elektronik. Riset ini berpotensi besar dalam dunia medis, seperti pengobatan penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) dan pemulihan fungsi gerak bagi pasien lumpuh.

Namun, menurut laporan SINDOnews dan Departemen Pertahanan AS, teknologi ini juga memiliki aplikasi militer. Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengkaji penggunaan brain interfaces untuk menciptakan prajurit dengan kemampuan mental dan kesadaran situasional yang ditingkatkan, menjadikan mereka "tentara super".

Hukuman atas Kebohongan dan Keterlibatan Lieber dengan China

Pada Desember 2021, Lieber dinyatakan bersalah karena memberikan pernyataan palsu kepada penyelidik federal AS terkait program China dalam merekrut talenta luar negeri, serta pelanggaran pajak atas pembayaran yang diterimanya dari universitas di China. Hukuman yang dijalani Lieber termasuk dua hari penjara, enam bulan tahanan rumah, denda USD50.000, dan ganti rugi USD33.600.

Selama persidangan, pembela Lieber menyebutnya tengah berjuang melawan limfoma, penyakit kanker yang saat itu sedang dalam masa remisi, sebagai alasan kondisi pribadinya.

Kepindahan dan Aktivitas Terbaru Lieber di China

Tiga tahun pasca-hukuman, Lieber kini memimpin Institute for Brain Research, Advanced Interfaces and Neurotechnologies (i-BRAIN) di Shenzhen, yang didanai pemerintah China. Laboratorium ini memiliki akses ke peralatan nanofabrikasi canggih dan fasilitas penelitian primata yang tidak tersedia selama kariernya di Harvard. Institusi ini merupakan bagian dari Shenzhen Medical Academy of Research and Translation (SMART), yang berfokus pada riset mutakhir dan didukung miliaran dolar pendanaan pemerintah China.

Dalam sebuah konferensi pemerintah Shenzhen pada Desember 2025, Lieber mengungkapkan motivasinya: "Saya tiba pada 28 April 2025 dengan sebuah mimpi dan tidak banyak lagi, mungkin beberapa tas pakaian. Secara pribadi, tujuan saya adalah menjadikan Shenzhen sebagai pemimpin dunia."

Namun, Lieber menolak memberikan wawancara terkait aktivitasnya saat ini dengan alasan komitmen yang padat.

Dampak dan Kekhawatiran Keamanan Nasional AS

Kemampuan Lieber untuk membangun kembali laboratoriumnya di China setelah dihukum di AS menjadi bukti betapa pengamanan teknologi kritis oleh AS belum mampu menandingi ambisi dan strategi China dalam mendapatkan teknologi militer canggih. Strategi fusi militer-sipil Beijing memungkinkan hasil riset sipil digunakan langsung untuk kepentingan militer, memperkuat kekhawatiran keamanan nasional AS.

Glenn Gerstell, penasihat senior non-residen di Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan mantan penasihat umum Badan Keamanan Nasional AS, menyatakan:

"China telah mempersenjatai keterbukaan dan upaya inovasi kita sendiri terhadap kita. Mereka telah membalikkan keadaan dan menggunakannya untuk melawan kita, dan mereka memanfaatkannya."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kasus Charles Lieber menandai babak baru dalam persaingan teknologi antara AS dan China, terutama di bidang yang sangat sensitif seperti antarmuka otak-komputer. Meskipun Lieber dihukum oleh AS, keberhasilannya dalam membangun fasilitas riset canggih di China menunjukkan kelemahan strategi pengamanan teknologi AS. Ini mengindikasikan bahwa pendekatan hukum dan pengawasan saat ini belum cukup mencegah transfer teknologi yang dapat mengancam keamanan nasional.

Lebih jauh, proyek "tentara super" China yang melibatkan riset otak manusia bukan hanya sekadar inovasi medis, namun juga potensi revolusi dalam militansi dan kemampuan tempur. Ini dapat menggeser keseimbangan kekuatan militer global jika tidak diawasi dengan ketat. Publik dan pembuat kebijakan harus waspada dan mendorong kebijakan lebih tegas dalam melindungi teknologi kritis dari eksploitasi asing.

Ke depan, penting untuk mengikuti perkembangan riset i-BRAIN dan dampaknya terhadap teknologi militer serta bagaimana AS dan negara lain merespons strategi fusi militer-sipil China yang semakin agresif.

Kasus ini sekaligus mendorong diskusi global tentang etika penelitian, keamanan teknologi, dan perlunya kerjasama internasional yang lebih ketat dalam mengatur transfer teknologi sensitif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad