PHK Massal Oracle: Karyawan Melawan di Tengah Transisi AI yang Kejam

May 2, 2026 - 09:29
 0  2
PHK Massal Oracle: Karyawan Melawan di Tengah Transisi AI yang Kejam

Pada tanggal 31 Maret 2026, Jill, seorang karyawan lama Oracle yang telah bekerja selama tiga dekade sebagai penulis teknis dan instruktur, menerima kabar mengejutkan saat hendak menjalani operasi punggung yang sudah lama tertunda. Manajernya mengabarkan bahwa dia dipecat. Keputusan ini tidak hanya mengancam biaya pengobatannya pasca operasi, tetapi juga menghapuskan rencana pensiunnya secara tiba-tiba, termasuk kehilangan senilai $300.000 dalam Restricted Stock Units (RSU) yang belum jatuh tempo.

Ad
Ad

“Ini benar-benar membuat saya merasa dimanfaatkan dan disalahgunakan,” kata Jill, yang memilih menggunakan nama samaran karena takut akan pembalasan. “Mereka menyuruh kami melakukan sesuatu, merekamnya, dan kemudian mereka menggantikan kami dengan apa yang kami buat itu.”

Jill adalah salah satu dari hingga 30.000 pekerja yang di-PHK Oracle dalam sebulan terakhir sebagai bagian dari strategi perusahaan yang beralih fokus ke kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data AI yang masif. Larry Ellison, Ketua dan CTO Oracle, percaya bahwa para pembangun infrastruktur AI masa depan akan menjadi pemenang besar dalam ekonomi global, sehingga perusahaan menginvestasikan miliaran dolar dan diperkirakan mengalami kerugian kas hingga 2030.

Transformasi Oracle dan Dampaknya pada Pekerja

Oracle, yang dikenal sebagai raksasa perangkat lunak basis data dan aplikasi perusahaan, kini menempatkan AI sebagai poros utama bisnisnya. Pada Januari 2025, Ellison tampil bersama tokoh-tokoh besar seperti Donald Trump dan Sam Altman dalam pengumuman proyek infrastruktur AI senilai $500 miliar bernama Stargate. September 2025, Oracle mengumumkan kesepakatan besar menyediakan $300 miliar kapasitas cloud untuk OpenAI, yang membuat Ellison sempat menjadi orang terkaya di dunia.

Namun, bagi karyawan Oracle yang di-PHK, cerita yang terdengar sangat berbeda. Beberapa mantan karyawan mengeluh bahwa AI yang dipaksakan tidak meningkatkan produktivitas, bahkan menambah beban kerja. Seorang manajer senior pengembangan perangkat lunak yang diwawancarai TIME mengungkapkan bahwa kode yang dihasilkan AI seringkali cacat, sehingga para insinyur senior harus menghabiskan waktu memperbaikinya.

Jill menyebut AI internal Oracle, seperti chatbot perusahaan, sebagai penyebab produktivitas menurun, bukan meningkat. Timnya rutin merasa frustrasi karena AI hanya "membuat kekacauan" dan tidak menghemat waktu.

Seorang karyawan yang bekerja di divisi teknologi kesehatan Cerner, yang diakuisisi Oracle pada 2022, mengatakan bahwa setelah serangkaian PHK, mereka didorong menggunakan AI, namun tuntutan kerja justru meningkat drastis hingga mencapai 60-80 jam per minggu. Ia merasa terjebak antara melatih AI yang nantinya bisa menggantikan pekerjaannya dan kebutuhan untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

PHK Massal dan Ketidakadilan bagi Karyawan

Pada akhir Maret, saat saham Oracle turun, perusahaan mengumumkan gelombang PHK besar-besaran. Analisis TD Cowen memperkirakan bahwa pengurangan 20.000-30.000 karyawan akan membebaskan dana sebesar $8-10 miliar untuk proyek pusat data. Banyak yang di-PHK adalah karyawan lama dan berusia lebih dari 40 tahun. Survei yang dilakukan bersama organisasi What We Will terhadap 272 mantan karyawan menunjukkan 62% berusia di atas 40 tahun dan 22% bekerja lebih dari 15 tahun.

Banyak mantan karyawan menduga Oracle sengaja menargetkan pekerja yang lebih tua dan bergaji tinggi agar dapat menghemat biaya RSU yang belum jatuh tempo. Seorang mantan manajer perangkat lunak mengungkap ia kehilangan potensi penerimaan hingga $1 juta dari opsi saham yang belum vesting.

Selain itu, karyawan dengan visa H1-B menghadapi tekanan besar karena hanya diberikan masa tenggang 60 hari untuk mencari pekerjaan baru atau harus meninggalkan Amerika Serikat, sebuah waktu yang sangat singkat mengingat proses perekrutan di industri teknologi bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Perlakuan Oracle terhadap PHK ini membuat banyak karyawan merasa dikecewakan dan diabaikan. Faith Wilkins El, seorang insinyur perangkat lunak, di-PHK saat sedang cuti medis akibat stres mental yang sebagian disebabkan oleh tekanan kerja. Ia menyebut cara Oracle menangani PHK tersebut sebagai “tanpa hati”.

Perjuangan Karyawan dan Kesadaran Baru di Industri Teknologi

Lebih dari 600 mantan karyawan menandatangani surat terbuka pada 17 April yang menuntut kompensasi PHK lebih baik, perpanjangan layanan kesehatan, serta dukungan visa H1-B. Namun, Oracle menolak bernegosiasi secara kelompok dan menanggapi permintaan secara individual dengan bahasa standar yang tidak mempertimbangkan keadaan masing-masing individu.

Meski begitu, upaya kolektif ini menandai kebangkitan kesadaran buruh di sektor teknologi yang selama ini jarang terjadi. Banyak pekerja yang mulai mempertimbangkan untuk bergabung dalam gerakan serikat pekerja, terutama di tengah ketidakpastian kerja akibat revolusi AI. Kaitlin Cort, pendiri What We Will dan aktivis Tech Workers Coalition, mencatat lonjakan minat pekerja teknologi untuk berorganisasi sebagai reaksi terhadap PHK massal dan penggunaan AI yang dipaksakan di tempat kerja.

“Banyak orang merasa cemas soal PHK dan penggunaan AI yang mungkin menggantikan mereka,” kata Cort. “Mereka sudah membicarakan soal serikat pekerja bahkan sebelum kami mengajak mereka berdiskusi.”

Mantan karyawan Oracle menganggap mereka adalah korban awal dari perubahan besar di dunia kerja, di mana manusia mulai diperlakukan seperti aset yang bisa dibuang jika tidak lagi menguntungkan. “Manusia diperlakukan sama seperti aset pusat data yang bisa dibuang,” kata mantan karyawan Cerner.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, gelombang PHK Oracle ini bukan sekadar kasus normal restrukturisasi perusahaan, melainkan cerminan nyata dari pergeseran radikal dalam lanskap kerja akibat AI. Karyawan yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan dipaksa melatih sistem yang kelak akan menggantikan mereka. Ini menimbulkan dilema etis tentang bagaimana perusahaan teknologi memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi secara bersamaan.

Lebih jauh, dampak PHK terhadap pekerja berusia matang dan pemegang visa H1-B memperlihatkan ketidakadilan sosial yang semakin menganga di sektor teknologi, yang selama ini digadang sebagai industri masa depan yang adil dan inklusif. Langkah Oracle ini bisa menjadi preseden bagi perusahaan lain yang mengikuti tren pemangkasan tenaga kerja demi investasi AI.

Ke depan, patut diwaspadai bagaimana kebijakan kompensasi dan dukungan sosial bagi pekerja terdampak AI akan dijalankan. Pergerakan karyawan yang mulai mengorganisasi diri menandai potensi konflik industrial yang lebih besar, sekaligus peluang perubahan budaya kerja yang lebih manusiawi di era AI.

Pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan terkait PHK di Oracle dan implikasinya bagi masa depan pekerja teknologi, terutama terkait regulasi penggunaan AI dan perlindungan hak pekerja di industri yang sedang berubah cepat ini.

Informasi lebih lengkap dapat dibaca melalui artikel asli di TIME.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad