Mamdani Dorong Inggris Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India, Ini Alasannya
Wali Kota New York Zohran Mamdani mengemukakan usulan kepada Raja Charles III agar berlian Koh-i-Noor dikembalikan ke India, negara asal berlian terkenal tersebut yang diambil Inggris saat masa penjajahan. Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan Mamdani dengan Raja Charles III dalam acara peringatan tragedi 9/11 di New York pada Rabu (29/4) lalu.
Dalam pernyataannya, Mamdani menyatakan,
"Jika saya berbicara dengan raja, terpisah dari acara penghormatan itu, saya mungkin akan mendorong dia untuk mengembalikan berlian Koh-i-Noor."Ia menilai berlian yang disebut sebagai berlian terkutuk ini merupakan hak warisan budaya India sebagai peninggalan kerajaan yang sangat berharga.
Sejarah Panjang Berlian Koh-i-Noor dan Kontroversinya
Berlian Koh-i-Noor memiliki sejarah yang sarat dengan intrik, pertumpahan darah, dan perebutan kekuasaan. Menurut CNN Indonesia dan sumber seperti Smithsonian Magazine, berlian ini berasal dari tambang aluvial di India ribuan tahun lalu. Berlian ini dipercaya memiliki aura mistis dan pernah dipuja dalam tradisi Hindu, meskipun terkenal membawa kutukan bagi pemiliknya.
- Pada abad ke-16, berlian ini menjadi bagian dari kekayaan Kekaisaran Mughal yang memerintah India utara selama lebih dari 300 tahun.
- Pada 1739, penguasa Persia, Nader Shah, menjarah Delhi dan membawa berlian ini ke luar India, memulai perjalanan berlian yang penuh kekerasan dan pergantian tangan.
- Pada abad ke-19, Perusahaan Hindia Timur Britania memperluas kekuasaannya dan memaksa penguasa muda Punjab, Duleep Singh, menyerahkan Koh-i-Noor kepada Inggris pada tahun 1849 melalui Perjanjian Lahore.
- Berlian itu kemudian menjadi bagian dari koleksi permata mahkota Inggris dan dipamerkan di London sejak 1851.
Berlian Koh-i-Noor bukan sekadar batu permata, melainkan simbol kekuasaan dan dominasi kolonial Inggris atas India. Pengambilannya tidak hanya mencerminkan kekuatan militer dan politik Inggris, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi sejarah dan budaya India.
Kenapa Disebut Berlian 'Terkutuk'?
Berlian Koh-i-Noor dikenal sebagai berlian terkutuk karena kisah di balik perolehannya yang berdarah dan mitos yang menyelimuti setiap penguasa yang memilikinya. Richard Kurin, seorang sarjana dan duta besar Smithsonian, menyatakan:
"Ketika yang berkuasa mengambil sesuatu dari yang kurang berkuasa, yang tidak berdaya tidak banyak yang bisa dilakukan selain mengutuk yang berkuasa."
Perjalanan berlian ini diwarnai oleh peristiwa tragis seperti pembantaian dan pengkhianatan, sehingga aura mistis kutukan melekat di dalamnya. Meski demikian, berlian ini tetap menjadi simbol prestise dan kekuasaan bagi siapa saja yang memilikinya.
Reaksi dan Implikasi Usulan Mamdani
Meski Mamdani menyatakan niatnya kepada media, belum jelas apakah ia benar-benar membahas pengembalian berlian itu langsung dengan Raja Charles III saat pertemuan. Namun, sikap Mamdani menjadi bagian dari perbincangan yang lebih luas terkait restitusi benda-benda budaya yang diambil selama masa kolonial.
Usulan ini mengangkat diskusi penting tentang hak warisan budaya dan keadilan sejarah. Pengembalian Koh-i-Noor ke India dapat menjadi simbol pengakuan atas kerugian masa lalu dan memperbaiki hubungan antara Inggris dan India.
- Memperkuat diplomasi budaya antara Inggris dan India.
- Mendorong negara-negara lain untuk mengembalikan artefak kolonial yang dipertanyakan status kepemilikannya.
- Memberi ruang bagi sejarah yang lebih adil dan inklusif.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, usulan Wali Kota New York Zohran Mamdani ini bukan sekadar tuntutan simbolis, melainkan panggilan untuk mengakui luka sejarah kolonialisme yang masih terasa hingga kini. Pengembalian berlian Koh-i-Noor akan menjadi game-changer dalam hubungan internasional, terutama antara Inggris dan negara-negara bekas jajahannya.
Namun, proses pengembalian benda-benda bersejarah seperti ini biasanya kompleks, melibatkan diplomasi yang rumit dan pertimbangan hukum internasional. Di sisi lain, keberanian Mamdani mengangkat isu ini di forum publik memberikan momentum untuk diskusi lebih luas soal restitusi budaya yang adil.
Ke depan, publik global harus mengawasi bagaimana respons Inggris dan Raja Charles III terhadap desakan ini. Apakah mereka akan membuka lembaran baru dengan mengembalikan warisan budaya yang selama ini dianggap milik mereka secara sepihak, atau mempertahankan status quo yang menimbulkan banyak kontroversi?
Selalu ikuti perkembangan terbaru seputar isu ini untuk memahami bagaimana sejarah dan diplomasi budaya berinteraksi dalam dunia modern.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0