Banjir Bandang Aceh Tengah: Dua Bulan Minum Air Hujan, Sawah Jadi Padang Pasir

May 4, 2026 - 11:00
 0  6
Banjir Bandang Aceh Tengah: Dua Bulan Minum Air Hujan, Sawah Jadi Padang Pasir

Gampong Wihlah Setie di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, mengalami kerusakan berat setelah banjir bandang yang terjadi pada November 2025. Desa yang berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat pemerintahan kabupaten di Kota Takengon ini sempat terisolasi akibat putusnya akses jalan di beberapa titik hingga menimbulkan kesulitan distribusi bantuan.

Ad
Ad

Terletak di ujung Danau Lut Tawar, destinasi wisata utama di Takengon, desa berpenduduk sekitar 240 jiwa ini menghadapi bencana besar yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga dan lahan pertanian mereka. Akses menuju desa harus dilalui melalui jalur pinggir danau yang diapit oleh lereng pegunungan dan jurang, membuat evakuasi dan bantuan menjadi lebih menantang.

Penyebab dan Dampak Banjir Bandang di Gampong Wihlah Setie

Sekretaris Desa Wihlah Setie, Hajirin, menjelaskan bahwa hujan deras yang mengguyur selama enam hari berturut-turut memicu longsor di perbukitan sekitar desa. Air bercampur lumpur dan kayu yang terbawa longsor menerjang dengan kekuatan dahsyat, menghancurkan segala yang dilewati.

"Terjadi longsoran di perairan di atas sana. Air datang dari sini (menunjuk bukit), dari sana juga ada, bahkan dari beberapa bukit di sekitar. Airnya seperti air bah," ujar Hajirin.

Banjir bandang tersebut menenggelamkan area sawah yang menjadi batas hutan, merusak saluran pipa air bersih dari sumber pegunungan, serta merendam seluruh rumah warga yang sebagian besar terbuat dari kayu. Tidak ada bangunan yang selamat dari terjangan ini.

Dua Bulan Bertahan dengan Air Hujan dan Sawah Rusak

Setelah bencana, warga desa bertahan selama dua bulan di pengungsian yang berada di balai desa. Selama periode ini, mereka menghadapi keterbatasan air bersih dan makanan. Sumber air pegunungan yang sebelumnya dapat langsung diakses kini terputus, sehingga warga terpaksa mengandalkan air hujan yang ditampung untuk kebutuhan minum.

"Kalau untuk minum ya dari air tangkapan hujan tersebut, atau dari air irigasi sawah. Selama kurang lebih dua bulan," kata Hajirin mengenang masa sulit itu.

Dari segi pangan, warga hanya mengandalkan cadangan beras dari panen sebelumnya, memasak bulir padi seadanya untuk mengganjal lapar. Bantuan pemerintah maupun lembaga sosial terhambat karena akses jalan menuju desa terputus akibat longsor di dua titik kritis sepanjang jalur menuju desa.

Sawah yang Menjadi Padang Pasir dan Proses Pemulihan

Salah satu kerusakan paling parah terjadi pada lahan pertanian warga. Lumpur banjir setebal lebih dari satu meter mengubah hamparan sawah menjadi padang pasir. Kondisi ini membuat sawah tidak bisa lagi dikelola karena saluran irigasi rusak dan lahan tertutup endapan lumpur yang tebal.

"Sepanjang ini padang pasir semuanya. Di bawah itu ada sawah yang tidak bisa dikelola lagi karena tidak bisa dialiri air," jelas Hajirin.

Meski begitu, warga tetap pasrah dan berusaha ikhlas menerima cobaan tersebut. Seiring waktu, bantuan mulai berdatangan meski lambat, dan warga bisa kembali menata hidup mereka. Gotong royong menjadi kunci pemulihan, dengan warga saling membantu membersihkan desa dan memperbaiki sawah.

Hajirin menegaskan bahwa semangat kebersamaan masih kuat di desa tersebut, bahkan ketika Liputan6.com mengunjungi mereka, suasana hangat dan penuh harapan terpancar dari wajah-wajah warga yang mulai membuka lembaran baru.

"Jangan lupa untuk kembali lagi. Kita adalah keluarga," ujar Hajirin sambil menjabat tangan wartawan.

Konsekuensi Banjir Bandang dan Apa yang Harus Diantisipasi

Banjir bandang yang melanda Gampong Wihlah Setie merupakan contoh nyata bagaimana perubahan cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan perbukitan dapat memicu bencana serius. Longsor yang memperparah dampak banjir menjadi peringatan penting bagi daerah-daerah rawan bencana di Indonesia.

Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dari kejadian ini:

  • Kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini harus diperkuat untuk mengantisipasi hujan deras dan potensi longsor.
  • Perbaikan akses transportasi dan infrastruktur sangat vital untuk memastikan bantuan cepat sampai ke lokasi bencana.
  • Pelestarian lingkungan perbukitan dan reboisasi dapat membantu mengurangi risiko longsor dan banjir bandang.
  • Pengelolaan sumber air bersih harus dirancang agar tetap dapat diakses saat bencana, menghindari warga minum air tidak bersih.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, bencana banjir bandang di Aceh Tengah ini bukan hanya masalah alam semata, tapi juga cerminan dari kurang optimalnya manajemen risiko bencana di tingkat desa dan kabupaten. Terputusnya akses selama dua bulan menunjukkan lemahnya infrastruktur darurat dan rencana kontinjensi yang harus segera diperbaiki.

Lebih jauh, perubahan iklim yang menyebabkan intensitas hujan ekstrem di wilayah pegunungan harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah. Investasi dalam teknologi peringatan dini, edukasi masyarakat, serta konservasi lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak agar tragedi serupa tidak terulang.

Warga Wihlah Setie yang berhasil bangkit dari keterpurukan patut menjadi inspirasi, namun mereka juga menjadi pengingat bahwa bencana alam dapat memukul keras komunitas kecil yang rentan. Ke depan, penguatan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat penting untuk membangun ketahanan bencana yang berkelanjutan.

Untuk informasi lebih lengkap tentang kejadian ini, Anda dapat membaca liputan lengkapnya di Liputan6.com serta mengikuti berita terkini dari BNPB dan pemerintah Aceh.

Bencana ini menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan menjaga alam agar tetap lestari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad