Operasi Global Tangkap 276 Pelaku Penipuan Crypto, Sita Rp10,5 Triliun
- Kolaborasi Internasional dalam Mengungkap Penipuan Crypto
- Modus Penipuan: Dari Relasi Palsu hingga Pencucian Uang Crypto
- Inisiatif FBI dan Penyelamatan Korban
- Pengungkapan Infrastruktur Malware dan Penipuan Lainnya
- Sanksi dan Tindakan Pemerintah AS Terhadap Para Dalang
- Operasi Atlantic dan Penguatan Keamanan Siber
- Analisis Redaksi
Operasi global yang melibatkan aparat di Amerika Serikat, Cina, dan Uni Emirat Arab berhasil menangkap 276 tersangka dalam jaringan penipuan investasi cryptocurrency serta menutup 9 pusat penipuan yang beroperasi secara internasional. Dari penggerebekan ini, aparat juga menyita aset crypto senilai lebih dari 701 juta dolar AS atau sekitar Rp10,5 triliun, yang diduga hasil dari tindakan pencucian uang dan penipuan.
Kolaborasi Internasional dalam Mengungkap Penipuan Crypto
Operasi ini dipimpin oleh Kepolisian Dubai yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri Uni Emirat Arab, bekerja sama dengan FBI dan Kementerian Keamanan Publik China. Penangkapan juga melibatkan aparat dari Thailand untuk menangkap tersangka asal Burma dan Indonesia. Para tersangka, termasuk Thet Min Nyi (27), Wiliang Awang (23), Andreas Chandra (29), dan Lisa Mariam (29), telah didakwa di Amerika Serikat dengan tuduhan penipuan dan pencucian uang tingkat federal.
"Penipu yang menarget warga Amerika dari luar negeri tidak dapat beroperasi tanpa hukuman, di mana pun mereka berada," tegas Asisten Jaksa Agung A. Tysen Duva dari Divisi Kriminal Departemen Kehakiman AS. "Aktivitas penipuan bersifat lintas batas, dan penegakan hukum pun harus bersifat lintas batas."
Para tersangka diduga mengelola dan bekerja di tiga perusahaan fiktif yakni Ko Thet Company, Sanduo Group, dan Giant Company, yang mengoperasikan pusat-pusat penipuan tersebut. Thet Min Nyi disebut sebagai manajer sekaligus perekrut di Ko Thet Company.
Modus Penipuan: Dari Relasi Palsu hingga Pencucian Uang Crypto
Modus operandi penipuan ini menggunakan skema yang dikenal sebagai pig butchering atau romance baiting, yaitu membangun hubungan kepercayaan yang sering kali bersifat romantis, sebelum meyakinkan korban untuk menginvestasikan uangnya dalam platform cryptocurrency palsu.
Korban diajak menanam modal dengan janji keuntungan besar, bahkan didorong untuk meminjam uang dari keluarga dan teman agar bisa berinvestasi lebih banyak. Namun, begitu uang masuk ke platform, dana tersebut langsung dicuci dan dipindahkan ke akun pelaku.
Selain itu, pusat-pusat penipuan ini terkait erat dengan praktik perdagangan manusia. Para korban direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi, lalu dipaksa bekerja di bawah kondisi layaknya perbudakan untuk menjalankan penipuan.
Inisiatif FBI dan Penyelamatan Korban
FBI melalui inisiatif Operation Level Up yang dimulai Januari 2024, telah mengidentifikasi dan memperingatkan hampir 9.000 korban, sehingga berhasil menyelamatkan kerugian senilai sekitar 562 juta dolar AS hingga April 2026.
Selain itu, dua warga negara China, Jiang Wen Jie dan Huang Xingshan, juga didakwa karena menjalankan pusat penipuan Shunda di Myanmar. Mereka ditangkap di Thailand saat hendak menuju Burma. Pusat ini diketahui menggunakan situs web dan aplikasi palsu untuk menipu, serta memaksa pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia untuk melakukan penipuan.
Pengungkapan Infrastruktur Malware dan Penipuan Lainnya
Lebih jauh, aparat berhasil menyita sebuah kanal Telegram dengan lebih dari 6.500 pengikut yang digunakan untuk merekrut korban perdagangan manusia ke pusat penipuan di Kamboja. Selain itu, ditemukan lebih dari 500 situs web investasi palsu yang digunakan untuk menipu korban di AS.
Jaringan ini juga didukung oleh malware Android berbasis malware-as-a-service (MaaS) yang mampu mencuri data secara real-time, melakukan pengawasan, hingga pencurian kredensial keuangan. Malware ini beroperasi dari beberapa lokasi, termasuk di dalam kompleks milik K99 Group di Kamboja.
Menurut laporan bersama dari Infoblox dan organisasi nirlaba Vietnam Chong Lua Dao, malware ini terus berkembang dengan mendaftarkan sekitar 35 domain baru per bulan yang menyamar sebagai layanan bank, pemerintah, dan perusahaan resmi untuk menyebarkan malware.
Sanksi dan Tindakan Pemerintah AS Terhadap Para Dalang
Berbarengan dengan operasi ini, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Senator Kamboja Kok An dan jaringan bisnisnya yang diduga terlibat dalam operasi pusat penipuan yang luas. Kok An diduga melarikan diri dari Thailand dan kini menjadi buronan. Sanksi ini juga menargetkan perusahaan K99 Group yang diduga menjadi basis aktivitas penipuan.
Parlemen Kamboja pun telah mengesahkan undang-undang yang mengatur hukuman penjara 5-10 tahun dan denda hingga 250.000 dolar AS bagi pelaku penipuan.
Operasi Atlantic dan Penguatan Keamanan Siber
Di sisi lain, Operasi Atlantic berhasil membekukan sekitar 12 juta dolar AS yang terkait dengan teknik penipuan "approval phishing" yang memungkinkan penipu mengakses dompet crypto korban dan menguras aset mereka.
Lebih dari 20.000 korban telah teridentifikasi di 30 negara, dengan lebih dari 120 domain situs phishing disita oleh aparat. Pemerintah AS juga meluncurkan inisiatif baru untuk berbagi informasi keamanan siber dengan perusahaan aset digital guna melindungi industri dari serangan serupa.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, operasi internasional ini menunjukkan bahwa penipuan cryptocurrency telah berkembang menjadi masalah global yang kompleks dan terorganisir. Kolaborasi lintas negara menjadi kunci utama dalam mengatasi kejahatan siber dan perdagangan manusia yang saling terkait erat di balik skema penipuan ini.
Lebih dari sekadar penangkapan individu, tindakan tegas terhadap infrastruktur teknologi dan jaringan pendukungnya, termasuk malware dan situs palsu, sangat penting untuk memutus rantai kejahatan ini. Penegakan hukum yang bersifat lintas batas harus terus diperkuat, mengingat para pelaku semakin canggih memanfaatkan teknologi dan lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.
Untuk masyarakat luas, penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tawaran investasi crypto yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan dan selalu melakukan verifikasi. Ke depan, perkembangan regulasi nasional dan internasional serta edukasi digital harus berjalan seiring agar bisa mencegah munculnya kembali pusat-pusat penipuan yang selama ini merugikan ribuan korban di seluruh dunia.
Selalu ikuti perkembangan terbaru dari operasi penegakan hukum dan keamanan siber melalui sumber terpercaya, agar Anda tidak menjadi korban penipuan digital yang terus berevolusi ini.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca laporan asli di The Hacker News dan berita terkait di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0