Meme 'The Devil Wears Prada 2' yang Dikira AI Ternyata Buatan Seniman Asli
Meme dalam film 'The Devil Wears Prada 2' yang banyak dianggap sebagai hasil karya kecerdasan buatan (AI) ternyata merupakan lukisan digital yang dibuat oleh seorang seniman manusia, Alexis Franklin. Hal ini menjadi kejutan bagi banyak penonton yang mengira meme tersebut hanyalah AI slop atau karya asal-asalan dari teknologi generatif.
Meme yang Tampak Artifisial Tapi Asli Buatan Manusia
Film sekuel dari klasik tahun 2006 ini kembali menghidupkan kisah majalah fiksi "Runway" dengan para pemeran asli yang kembali setelah 20 tahun. Salah satu klip menampilkan berbagai meme internet yang mengolok-olok tokoh editor-in-chief Miranda Priestley, diperankan oleh Meryl Streep. Salah satu meme memperlihatkan Priestley sebagai pekerja makanan cepat saji dengan tulisan "Apakah Anda ingin kebohongan dengan itu?".
Meme ini hanya muncul sebentar di layar namun gaya visualnya yang terkesan murahan dan sedikit kacau membuat banyak penonton menduga itu disengaja agar terlihat seperti gambar AI yang kurang sempurna, sebagai sindiran terhadap media modern.
Alexis Franklin, seniman yang ditugaskan menggambar meme tersebut, mengungkapkan kepada NBC News bahwa gambarnya dibuat secara manual dan membutuhkan beberapa hari pengerjaan dengan waktu yang tidak terus-menerus.
Proses Kreatif dan Tujuan Gaya Lukisan
Franklin menjelaskan bahwa dia memang sengaja membuat lukisan tersebut dengan gaya "murah dan plastik" yang mengingatkan pada estetika meme era 2010-an yang sering disunting dengan Photoshop. Tujuannya bukan untuk meniru AI, melainkan menghasilkan karya yang terlihat artifisial secara artistik.
"Secara teknis saya memang berusaha membuatnya terlihat artifisial, tapi meniru AI bukanlah tujuan utama saya saat melukisnya," ujar Franklin. "Banyak orang mengira kesalahan kecil yang saya buat disengaja untuk meniru kekacauan khas AI, padahal itu adalah kesalahan manusia biasa."
Gaya lukisan ini bahkan membuat beberapa pengamat menanyakan apakah pengaburan teks pada menu di gambar sengaja dibuat, karena ketidakjelasan huruf merupakan ciri khas kesalahan AI dalam mereplikasi detail kecil.
Reaksi Publik dan Tantangan Seniman di Era AI
Setelah Franklin membagikan video time lapse proses pembuatannya di Instagram, postingan tersebut mendapat ratusan komentar yang memuji keaslian karya dan keputusan sutradara David Frankel untuk memakai seniman manusia. Beberapa komentar menyatakan rasa lega dan bangga karena karya tersebut bukan hasil AI.
- "Sangat menyegarkan bukan hasil AI," tulis salah satu pengguna.
- "AI menggantikan seniman? Tidak! Seniman menggantikan AI!" kata komentar lain.
Namun Franklin juga mengakui bahwa banyak orang masih sulit percaya bahwa karya itu benar-benar dibuat olehnya. Ia bahkan mendapat tuduhan memalsukan lukisan tersebut walau sudah membagikan bukti proses pengerjaan dan portofolio yang sudah ada jauh sebelum popularitas AI meningkat.
Fenomena skeptisisme ini mencerminkan kecemasan masyarakat terhadap kehadiran AI dalam bidang seni dan media. Franklin menyebutkan bahwa semakin canggih teknologi generatif AI, semakin banyak orang yang tidak hanya yakin bahwa gambar AI itu asli, tapi juga curiga karya manusia asli adalah hasil AI.
"Kewaspadaan berlebihan ini muncul karena orang tidak ingin tertipu, sehingga mereka melihat tanda-tanda yang sebenarnya tidak ada atau memiliki penjelasan sederhana," tulis Franklin. "Ini menjadi dilema yang sulit dipecahkan."
Editorial Take: Dampak dan Masa Depan Seni di Era AI
Menurut pandangan redaksi, kejadian ini membuka diskusi penting tentang hubungan antara seni manusia dan teknologi AI. Karya Alexis Franklin menunjukkan bahwa seni manusia masih punya keunikan yang sulit ditiru AI, terutama dalam hal kesalahan dan imperfeksi yang justru memberi karakter pada sebuah karya.
Namun, skeptisisme yang berlebihan terhadap keaslian karya manusia bisa berpotensi merugikan para seniman yang telah berjuang lama mengasah kemampuan mereka. Masyarakat perlu belajar membedakan antara karya AI dan manusia dengan lebih bijak, tanpa langsung mencurigai atau meremehkan.
Ke depan, kolaborasi antara seniman dan teknologi AI juga dapat menjadi peluang untuk menciptakan karya baru yang inovatif. Tetapi penting agar apresiasi terhadap sentuhan manusia tetap dijaga, karena teknik dan kreativitas asli manusia lah yang menjadi dasar kemajuan teknologi AI itu sendiri.
Untuk tetap mendapatkan update dan analisis terbaru seputar perkembangan seni dan teknologi, pembaca disarankan mengikuti berita dari sumber terpercaya dan terus mengasah wawasan kritis terhadap media digital.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0