Fitch Ratings Soroti Rasio Penerimaan Negara Indonesia yang Rendah pada 2026-2027

Mar 8, 2026 - 08:50
 0  4
Fitch Ratings Soroti Rasio Penerimaan Negara Indonesia yang Rendah pada 2026-2027

Fitch Ratings, lembaga pemeringkat kredit global, mengeluarkan proyeksi yang menyoroti rendahnya rasio penerimaan pemerintah Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berperingkat kredit setara. Dalam laporan bertajuk "Fitch Revises Indonesia's Outlook to Negative; Affirms at 'BBB'", Fitch menyatakan bahwa rasio pendapatan pemerintah Indonesia hanya akan mencapai sekitar 13,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada periode 2026-2027.

Ad
Ad

Angka ini jauh di bawah median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 25,5 persen terhadap PDB. Hal tersebut menandakan bahwa penerimaan negara Indonesia masih relatif lemah dan belum menunjukkan adanya langkah signifikan dalam peningkatan pendapatan pemerintah.

Proyeksi Rendahnya Rasio Penerimaan Negara

Dalam keterangannya yang dirilis pada Kamis (5/3), Fitch menggarisbawahi beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya rasio penerimaan tersebut. Salah satunya adalah penerimaan pajak yang lesu pada tahun 2025, yang diperparah dengan pembatalan hampir seluruh rencana kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 1 poin persentase.

Selain itu, pengalihan permanen dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke sovereign wealth fund (SWF) Danantara juga dianggap turut mengurangi penerimaan langsung pemerintah. Fitch menyatakan:

"Pendapatan pemerintah melemah pada 2025 karena penerimaan pajak yang lesu, hampir sepenuhnya dibatalkannya rencana kenaikan tarif PPN sebesar 1 poin persentase, serta pengalihan permanen dividen BUMN ke dana kekayaan negara (sovereign wealth fund/SWF) yang baru dibentuk, Danantara."

Dampak Terhadap Ruang Fiskal dan Defisit Anggaran

Fitch juga memperingatkan bahwa rendahnya rasio penerimaan negara berpotensi membatasi ruang fiskal pemerintah, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan belanja negara di berbagai sektor. Dalam laporannya, Fitch memperkirakan defisit fiskal Indonesia akan berada di kisaran 2,9 persen terhadap PDB pada 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan target pemerintah sebesar 2,7 persen.

Proyeksi ini didasarkan pada asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif, mengingat pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih lambat serta dampak jangka pendek yang terbatas dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kepatuhan pajak.

"Hal ini mencerminkan asumsi penerimaan yang lebih konservatif, didasarkan pada proyeksi pertumbuhan yang lebih lambat serta dampak jangka pendek yang terbatas dari upaya peningkatan kepatuhan pajak," pungkas Fitch.

Faktor Penyebab dan Konteks Ekonomi

Rasio penerimaan pemerintah yang rendah ini mencerminkan tantangan struktural dalam sistem perpajakan dan pengelolaan pendapatan negara Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki peringkat kredit setara, Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan basis pajaknya dan memperbaiki kepatuhan pajak.

Selain itu, kebijakan fiskal yang konservatif dan pengalihan pendapatan dari BUMN ke SWF Danantara juga menunjukkan adanya strategi pemerintah untuk mengelola pendapatan secara lebih terstruktur, namun berdampak pada penerimaan langsung pemerintah dalam jangka pendek.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, proyeksi Fitch Ratings ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah konkret dalam memperkuat basis penerimaan negara. Rasio pendapatan yang rendah tidak hanya membatasi kemampuan fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan dan sosial, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia.

Langkah pembatalan kenaikan tarif PPN dan pengalihan dividen BUMN ke SWF memang dapat dimaklumi sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek, namun jika tidak diimbangi dengan reformasi perpajakan yang menyeluruh, hal ini bisa menimbulkan konsekuensi fiskal yang serius di masa depan.

Ke depan, pemerintah perlu fokus pada penguatan kapasitas pengumpulan pajak, peningkatan transparansi, dan percepatan reformasi fiskal agar rasio penerimaan negara bisa mendekati standar negara-negara dengan peringkat kredit setara. Selain itu, pemantauan ketat terhadap efektivitas pengelolaan SWF Danantara juga krusial agar instrumen ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.

Dengan kondisi global yang tidak pasti dan kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat, langkah strategis dalam memperbaiki rasio penerimaan menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan fiskal dan kredibilitas Indonesia di mata dunia.

Pantau terus perkembangan kebijakan fiskal dan implikasinya bagi ekonomi nasional agar kita bisa memahami dinamika yang sedang berlangsung dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad