Perang Spionase AS-Tiongkok Memanas, Rombongan Trump Buang Barang dari China

May 17, 2026 - 09:30
 0  6
Perang Spionase AS-Tiongkok Memanas, Rombongan Trump Buang Barang dari China

Perang spionase antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas

Ad
Ad

Rombongan Trump dan Protokol Pengamanan Barang dari China

Menurut jurnalis The New York Times, Emily Goodin, staf Gedung Putih secara tegas melarang masuknya barang apa pun dari China ke dalam pesawat kepresidenan Air Force One. Barang-barang seperti kartu identitas, telepon genggam sekali pakai, dan lencana delegasi dikumpulkan dan langsung dibuang ke tempat sampah sebelum rombongan berangkat ke Amerika Serikat.

"Staf Amerika mengambil semua barang yang dibagikan oleh pejabat China dan membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga. Tidak ada barang dari China yang diizinkan masuk ke pesawat," tulis Goodin di akun X-nya.

Meski ini merupakan bagian dari protokol keamanan kepresidenan, langkah tersebut menegaskan kekhawatiran AS terhadap potensi penyadapan dan pengumpulan intelijen oleh pemerintah China selama kunjungan resmi tersebut.

Perang Intelijen yang Tak Pernah Padam antara AS dan China

Hubungan antara AS dan China secara historis memang sudah sarat dinamika, terutama dalam bidang ekonomi, teknologi, dan politik. Namun, persaingan intelijen antara keduanya menjadi salah satu aspek yang paling intens dan berbahaya.

Badan keamanan nasional AS kerap menuduh China melakukan serangan siber dan operasi spionase yang bertujuan melemahkan posisi Amerika di kancah global. Kelompok hacker seperti Salt Typhoon yang diduga disponsori negara China sering menargetkan infrastruktur penting AS.

Kasus Intelijen yang Menggemparkan

  • Eileen Wang, mantan wali kota Arcadia, California, mengaku sebagai agen pemerintah China dan mempromosikan propaganda melalui situs pro-China.
  • Dua warga China, Yuance Chen dan Liren Lai, ditangkap karena berusaha merekrut anggota Angkatan Laut AS untuk menjadi mata-mata China.
  • Wei, anggota Angkatan Laut AS, dihukum 16 tahun penjara karena memasok lebih dari 60 manual teknis kapal perang AS kepada intelijen China.

Kasus-kasus ini menyoroti betapa agresif dan luasnya jaringan spionase yang beroperasi, serta dampaknya terhadap keamanan nasional AS.

Krisis Kepercayaan dan Taktik Mata-mata Modern

Selain metode tradisional, China juga diduga menggunakan fasilitas penyadapan elektronik di luar negeri, seperti di Kuba, untuk mengawasi komunikasi militer AS. Meski laporan tersebut dibantah, kekhawatiran atas potensi ancaman ini tetap tinggi.

Pusat Kontraintelijen AS juga memperingatkan bahwa agen intelijen China menggunakan berbagai taktik penyamaran, mulai dari berpura-pura sebagai perekrut perusahaan hingga lembaga think tank, untuk merekrut pegawai pemerintah AS.

Tidak kalah penting, serangan siber yang dilakukan kelompok peretas seperti APT31 menargetkan pejabat, akademisi, perusahaan teknologi, dan bahkan anggota parlemen di AS dan Inggris. Tujuannya adalah mengkompromikan institusi dan mencuri rahasia dagang.

Balas Dendam Intelijen dan Dampaknya bagi Hubungan Bilateral

AS juga aktif melakukan operasi intelijen di China, dengan agen CIA yang beroperasi di negara itu sejak 2010. Namun, China membalas dengan keras, memburu dan menahan mata-mata AS, bahkan melumpuhkan operasi pengumpulan intelijen selama bertahun-tahun.

Contohnya pada Asian Winter Games 2025, tiga agen NSA AS dituduh melakukan serangan siber terhadap infrastruktur penting China. Insiden ini semakin memperkeruh hubungan bilateral.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tindakan membuang semua barang dari China sebelum penerbangan kepresidenan bukan sekadar langkah protokol keamanan biasa, melainkan simbol nyata tingginya ketegangan dan ketidakpercayaan antara AS dan China di era modern. Perang spionase ini bukan hanya soal pencurian data atau rahasia dagang, tapi juga menyangkut keamanan nasional, supremasi teknologi, dan pengaruh geopolitik global.

Kasus-kasus intelijen yang terungkap menunjukkan bahwa persaingan ini telah melibatkan berbagai level pemerintahan dan sektor, termasuk militer, pemerintahan lokal, hingga dunia bisnis. Ancaman ini juga semakin kompleks dengan penggunaan teknologi digital dan serangan siber yang sulit dilacak dan dicegah.

Ke depan, publik dan pembuat kebijakan harus mewaspadai eskalasi perang spionase yang berpotensi menimbulkan konflik lebih besar. Penguatan sistem keamanan dalam negeri dan diplomasi yang tepat menjadi kunci agar persaingan ini tidak berubah menjadi konfrontasi terbuka yang merugikan kedua negara dan dunia.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terbaru, Anda dapat membaca langsung sumber berita ini di CNN Indonesia serta mengikuti perkembangan dari media internasional terpercaya seperti Reuters.