Dunia Selamat dari Kiamat Minyak: Kekuatan Besar yang Menahan Harga Minyak Tetap Stabil
Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki pekan ke-10 menimbulkan kekhawatiran besar terhadap pasokan minyak dunia, terutama karena Selat Hormuz—jalur pelayaran krusial bagi distribusi minyak global—masih tertutup. Jalur ini mengangkut hampir 14 juta barel minyak per hari, atau sekitar 14% dari produksi minyak global, sehingga penutupan ini berarti potensi hilangnya pasokan minyak yang sangat besar. Namun, anehnya, harga minyak mentah Brent belum melesat tajam, melainkan masih bertahan di sekitar US$107 per barel, jauh di bawah puncak US$129 per barel yang tercapai pada 2022.
Pasar Minyak dan Harapan Diplomasi
Salah satu faktor utama yang menahan lonjakan harga minyak adalah ekspektasi pasar terhadap solusi diplomatik. Meskipun belum ada kemajuan berarti dalam perundingan antara AS dan Iran, sinyal positif dari Presiden AS Donald Trump sempat menimbulkan optimisme bahwa konflik dapat segera mereda. Hal ini membuat pelaku pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko gangguan pasokan jangka panjang.
Selain itu, pergerakan harga minyak untuk pengiriman segera (Dated Brent) yang sempat mengalami premi besar terhadap kontrak bulan depan kini mulai mereda, menunjukkan ketenangan di pasar minyak jangka pendek.
Ekspor Minyak AS dan Negara Produsen Lainnya Menggenjot Pasokan
Faktor utama lain yang menahan kenaikan harga minyak adalah peningkatan ekspor dari negara-negara produsen di luar Teluk Persia. Negara-negara seperti Kanada, Venezuela, Norwegia, dan Brasil secara signifikan menambah volume ekspor minyak mereka. Namun, yang paling mencolok adalah ekspor minyak Amerika Serikat yang mencapai rekor tertinggi hampir 9 juta barel per hari dalam empat pekan terakhir, naik 3,8 juta barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data Vortexa.
Proses penggenjotan ekspor AS tidak instan; dibutuhkan beberapa minggu untuk menyesuaikan produksi, menandatangani kontrak baru, dan meningkatkan kapasitas pengiriman. Strategi penjualan minyak AS juga termasuk menawarkan harga dengan diskon besar terhadap acuan Brent dan Dubai, sehingga menarik lebih banyak pembeli di Asia dan Eropa. Kenaikan tarif angkutan kapal tanker juga membantu memperlancar distribusi minyak AS ke pasar global.
Penurunan Impor Minyak di China dan Dampaknya
Hal yang mengejutkan adalah penurunan tajam impor minyak oleh beberapa negara pembeli utama, terutama China, yang menurunkan impor minyaknya sebesar 6,6 juta barel per hari dalam periode empat pekan hingga 10 Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Kilang-kilang di China bahkan menjual kembali sebagian kargo minyak yang telah dijanjikan kepada pembeli lain di Asia.
Penurunan impor ini sebagian mencerminkan melemahnya permintaan akibat harga yang tinggi dan gangguan pasokan. Kilang di Asia dan Eropa memangkas produksi hampir 4 juta barel per hari, sementara ekspor produk olahan dari kawasan Teluk turun sebesar 4,4 juta barel per hari. Kenaikan harga produk bahan bakar seperti diesel, bensin, dan avtur bahkan mencapai 60-120%, jauh lebih tinggi daripada kenaikan harga minyak mentah.
Akibatnya, konsumen mulai mengurangi konsumsi, dan pabrik petrokimia beroperasi di bawah kapasitas karena kekurangan bahan baku penting seperti nafta.
Mini Glut dan Cadangan Minyak China
Meski ada penurunan impor, sebagian besar analis memperkirakan penurunan permintaan minyak global tidak lebih dari 5 juta barel per hari. Artinya, turunnya impor lebih banyak karena pembeli menahan diri dan menunggu kondisi pasar membaik.
Hal ini menciptakan kondisi mini glut di pasar minyak mentah, terlihat dari peningkatan volume minyak yang disimpan di kapal tanker laut. Namun, produk olahan justru mengalami penurunan volume penyimpanan, membantu menahan harga minyak agar tidak melonjak.
Menurut pengamatan citra satelit, stok minyak di tangki darat China hampir tidak berubah, menandakan kilang mengurangi produksi. Namun, ada dugaan bahwa China memindahkan minyak dari gua bawah tanah ke penyimpanan di atas tanah, sehingga secara diam-diam menjaga pasokan minyak tetap stabil. China memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel yang cukup untuk menahan impor tetap rendah sepanjang tahun ini.
Risiko dari AS dan Potensi Larangan Ekspor BBM
Ancaman besar berikutnya muncul dari Amerika Serikat. Pada Maret lalu, AS menarik 172 juta barel minyak dari cadangan strategis dalam upaya mendukung pasar global sembari meningkatkan ekspor. Namun, dengan berakhirnya periode pemeliharaan kilang, produksi bahan bakar domestik akan meningkat sehingga ekspor minyak bisa berkurang.
Kondisi persediaan bahan bakar kendaraan di AS juga menurun dengan cepat, berpotensi mendorong harga bensin naik hingga US$5 per galon, level yang pernah menimbulkan tekanan politik pada Presiden Joe Biden pada 2022.
Pemerintahan Trump bahkan mulai mempertimbangkan larangan ekspor produk BBM untuk menekan harga domestik, dengan peluang kebijakan ini meningkat jika harga BBM naik tajam menjelang Memorial Day. Jika larangan ini diterapkan, pasokan produk BBM dari AS ke pasar global bisa berkurang drastis, mengguncang keseimbangan pasar energi dunia.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, situasi saat ini memperlihatkan betapa ketergantungan pasar energi global sangat rapuh dan rentan terhadap gangguan geopolitik meskipun harga belum mencerminkan risiko penuh. Peran strategis AS sebagai penambah pasokan dan China sebagai penahan impor cadangan minyak memberi waktu bagi dunia, namun ini adalah penundaan ketegangan bukan solusi permanen.
Jika Selat Hormuz tetap tertutup, dunia akan menghadapi tekanan pasokan minyak yang jauh lebih serius. Ditambah potensi pengurangan ekspor AS, pasar minyak bisa mengalami lonjakan harga yang signifikan dan volatilitas tinggi, yang akan berdampak luas pada ekonomi global dan inflasi energi.
Pembaca perlu mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, kebijakan ekspor energi AS, dan langkah China dalam manajemen cadangan minyaknya. Perubahan kecil dalam salah satu faktor ini bisa mengubah arah pasar secara drastis. Memahami dinamika ini penting untuk memprediksi pergerakan harga energi dan dampaknya pada ekonomi global ke depan.
Informasi selengkapnya dapat dibaca pada sumber asli di CNBC Indonesia dan berita terkait di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0