Rupiah Jatuh ke Rp17.630, Tertekan Sentimen Global dan Anjlok Bersama Mata Uang Asia
Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp17.630 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026. Pelemahan sebesar 33 poin atau 0,19 persen ini menunjukkan tekanan yang cukup signifikan di tengah kondisi pasar global yang sedang tidak stabil.
Rupiah Anjlok Bersama Mata Uang Asia Lainnya
Pergerakan rupiah yang melemah ini tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Misalnya, yuan China turun 0,04 persen, peso Filipina melemah 0,02 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,16 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia terdepresiasi cukup dalam sebesar 0,52 persen, diikuti dolar Singapura melemah 0,05 persen, yen Jepang turun 0,11 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,46 persen.
Satu-satunya mata uang Asia yang menguat tipis terhadap dolar AS adalah dolar Hong Kong dengan kenaikan 0,01 persen.
Tekanan Juga Terjadi pada Mata Uang Negara Maju
Selain mata uang Asia, mata uang negara maju juga sebagian besar berada di zona merah terhadap dolar AS. Euro melemah 0,07 persen, poundsterling Inggris turun 0,11 persen, dolar Australia terkoreksi 0,30 persen, dolar Kanada melemah 0,04 persen, dan franc Swiss turun 0,03 persen.
Penyebab Pelemahan Rupiah: Sentimen Risk Off Global
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen risk off global. Penguatan dolar AS yang cukup signifikan terjadi setelah aksi jual besar-besaran di berbagai aset global, termasuk obligasi, saham, kripto, dan mata uang lainnya.
"Dolar AS menguat cukup besar di tengah aksi jual berbagai aset akibat kekecewaan investor terhadap hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai belum banyak membahas atau memberikan solusi terkait perang AS-Iran," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Situasi ini juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang selanjutnya menekan pergerakan mata uang negara berkembang (emerging market) seperti rupiah.
Prediksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.650 per dolar AS dalam waktu dekat. Ketidakpastian kondisi geopolitik dan sentimen global diprediksi akan terus memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pelemahan rupiah yang sejalan dengan anjloknya mata uang Asia lainnya menandakan bahwa sentimen global saat ini sedang sangat negatif, terutama dipicu oleh ketegangan geopolitik yang belum mereda. Kekecewaan investor terhadap hasil pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump yang tidak menghasilkan solusi konkrit atas konflik AS-Iran, menjadi faktor utama yang menyebabkan aksi jual aset berisiko dan penguatan dolar AS secara signifikan.
Hal ini akan memberikan tekanan berkelanjutan bagi rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya, terutama jika ketegangan geopolitik meningkat atau harga minyak dunia terus naik. Kondisi ini bisa memperburuk defisit transaksi berjalan dan menambah beban inflasi di dalam negeri.
Ke depan, pemerintah dan pelaku pasar harus mencermati perkembangan geopolitik global dan kebijakan moneter AS yang dapat memicu volatilitas pasar. Stabilitas rupiah sangat bergantung pada kemampuan menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, strategi diversifikasi ekonomi dan memperkuat fundamental ekonomi domestik menjadi kunci untuk mengantisipasi guncangan eksternal.
Untuk informasi lebih lengkap terkait pergerakan nilai tukar rupiah dan kondisi pasar global, simak laporan terbaru di CNN Indonesia dan berita ekonomi terupdate dari Bloomberg Markets.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0