Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Baru yang Jadi Sorotan AS-Israel

Mar 9, 2026 - 06:50
 0  4
Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Baru yang Jadi Sorotan AS-Israel

Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat dalam serangan Amerika Serikat dan Israel. Penunjukan ini diumumkan oleh Majelis Ahli, badan ulama tertinggi yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran, dalam pernyataan resmi pada Senin dini hari, 9 Maret 2026.

Ad
Ad

Proses Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Majelis Ahli, yang terdiri dari 88 ulama tinggi, telah memilih Mojtaba setelah mempertimbangkan beberapa kandidat lain, termasuk Alireza Arafi, Mohsen Araki, dan Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran. Namun, akhirnya Mojtaba yang menjabat sebagai penerus, menandai transisi kepemimpinan kedua yang diawasi oleh Majelis Ahli sejak Ali Khamenei menggantikan Ruhollah Khomeini pada 1989.

Lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, Mojtaba merupakan salah satu dari enam anak Ali Khamenei. Pria berusia 56 tahun ini dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup, bahkan di acara resmi dan media. Ia digadang-gadang sebagai penerus ayahnya sejak lama, meski belum memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan.

Karakter dan Hubungan Politik Mojtaba Khamenei

Mojtaba dikenal sebagai ulama kelas menengah dengan janggut beruban dan sorban hitam, yang memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad. Keistimewaan ini dianggap memberikan pengaruh kuat dalam pengendalian kekuasaan di Iran, terutama di balik layar politik.

Yang membuatnya makin diperhitungkan adalah kedekatannya dengan kalangan konservatif dan khususnya Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Hubungan ini berakar dari pengalamannya sebagai anggota unit tempur saat Perang Iran-Irak (1980-1988). Hubungan erat dengan IRGC tersebut memberikan Mojtaba posisi strategis dalam struktur kekuasaan Republik Islam.

Mojtaba Khamenei dalam Radar Amerika Serikat dan Israel

Nama Mojtaba sudah masuk dalam radar pemerintah AS sejak 2019, saat Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepadanya. Meski tidak memegang jabatan resmi, Mojtaba dianggap mewakili ayahnya dalam mengelola urusan negara dan keamanan, serta mendorong ambisi regional dan kebijakan domestik yang represif.

"Ali Khamenei mendelegasikan sebagian tanggung jawab kepemimpinannya kepada putranya, yang bekerja sangat dekat dengan aparat keamanan Iran," ujar Kementerian Keuangan AS.

Selain itu, Mojtaba juga dituduh terlibat dalam penindasan keras terhadap gelombang demonstrasi besar pasca pemilu 2009 yang memicu protes luas di Iran. Investigasi Bloomberg mengungkap bahwa Mojtaba diduga mengumpulkan kekayaan lebih dari US$100 juta, yang didanai dari penjualan minyak dan diinvestasikan dalam properti mewah di Inggris, hotel di Eropa, serta aset di Dubai lewat perusahaan cangkang di negara suaka pajak.

Latar Belakang Keagamaan dan Keluarga

Dalam bidang keagamaan, Mojtaba belajar teologi di kota suci Qom dan pernah mengajar di sana. Ia mencapai gelar Hujjat al-Islam, tingkat ulama menengah di bawah Ayatollah. Istrinya, Zahra Haddad-Adel, putri mantan ketua parlemen Iran, juga tewas dalam serangan yang menewaskan Ali Khamenei.

Reaksi Israel terhadap Kepemimpinan Mojtaba

Israel mengeluarkan peringatan keras terhadap Mojtaba dan pihak yang mendukung penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Mereka menegaskan bahwa "tangan Negara Israel akan terus mengejar siapapun penerus dan yang berupaya menunjuk penerus", menandakan potensi ketegangan dan konflik yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran bukan hanya sekadar suksesi dinasti, melainkan sebuah langkah strategis yang memperkuat kontrol garis keras dan militer dalam struktur kekuasaan Iran. Hubungannya yang kuat dengan Korps Garda Revolusi mempertegas bahwa kebijakan domestik dan regional Iran kemungkinan besar akan tetap keras dan konservatif.

Lebih jauh, pilihan Majelis Ahli ini juga mencerminkan keinginan untuk menjaga kesinambungan kekuasaan yang stabil pasca wafatnya Ali Khamenei, namun dengan risiko meningkatnya ketegangan internasional, terutama dengan Amerika Serikat dan Israel. Sanksi dan ancaman yang sudah diarahkan kepada Mojtaba menandakan bahwa Iran akan menghadapi tekanan luar negeri yang intens, yang dapat memengaruhi dinamika politik dan keamanan regional.

Ke depan, publik dan pengamat internasional perlu mengamati bagaimana Mojtaba akan menjalankan peran barunya, terutama dalam menghadapi tantangan diplomasi dan keamanan yang makin kompleks di Timur Tengah. Keterbukaan dan respons Iran terhadap tekanan eksternal serta dinamika internal akan sangat menentukan masa depan Republik Islam.

Stay tuned untuk update perkembangan terbaru terkait kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan dampaknya bagi politik global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad