Investasi Global Beralih ke AS, Daya Tarik India Sebagai Negara Berkembang Meredup

May 21, 2026 - 16:00
 0  4
Investasi Global Beralih ke AS, Daya Tarik India Sebagai Negara Berkembang Meredup

Investasi global yang tengah mengalir deras ke Amerika Serikat (AS) akibat ledakan sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta kebijakan "America First", mulai mengurangi daya tarik India sebagai tujuan investasi utama di antara negara berkembang. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting terkait ambisi India menjadi kekuatan ekonomi besar dunia.

Ad
Ad

Daya Tarik Investasi India Menurun karena Kapital Mengalir ke AS

Sejumlah konglomerat India semakin giat menanamkan modal di AS. Reliance, salah satu grup bisnis terbesar di India, berinvestasi untuk membangun kilang minyak yang disebut Presiden Donald Trump sebagai "kilang pertama dalam 50 tahun". Sementara itu, miliarder India Gautam Adani berencana mengucurkan dana sebesar 10 miliar dolar AS di AS untuk menciptakan 15.000 lapangan kerja.

Pada 6 Mei lalu, Kedutaan Besar AS mengumumkan bahwa perusahaan-perusahaan India berencana menginvestasikan lebih dari 20 miliar dolar AS di berbagai sektor di AS, yang diharapkan dapat memperkuat rantai pasokan dan kapasitas produksi lokal AS sekaligus membuka ribuan pekerjaan baru.

"AS adalah pasar yang tidak bisa diabaikan oleh perusahaan India," kata Alexandra Hermann Prasad, ekonom utama di Oxford Economics. Ia menambahkan, "Jejak kehadiran di AS juga berfungsi sebagai hedging terhadap risiko tarif, persyaratan lokalisasi, dan preferensi pengadaan 'Beli Amerika'."

Keunggulan AS terletak pada pasar konsumen yang luas, kepemimpinan teknologi dalam AI, dan insentif untuk manufaktur lokal—faktor yang sulit ditandingi India. Meskipun India merupakan pasar konsumen dengan pertumbuhan tercepat di dunia, pengeluaran konsumsi masih terbatas akibat pendapatan per kapita yang relatif rendah, yaitu di bawah 3.000 dolar AS.

Aliran Modal Asing dan Domestik ke Luar Negeri Mengkhawatirkan

India mencatat aliran investasi asing langsung (FDI) sebesar 90,8 miliar dolar AS dalam periode 12 bulan hingga Januari 2026, meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut tertutupi oleh repatriasi modal yang besar oleh perusahaan asing dan investasi luar negeri yang meningkat dari perusahaan India, sehingga menghasilkan FDI bersih yang hampir mencapai titik terendah sepanjang masa, menurut laporan Morgan Stanley.

  • Repatriasi modal asing mencapai lebih dari 50 miliar dolar AS untuk tahun kedua berturut-turut.
  • Investasi luar negeri dari perusahaan India melonjak menjadi 35,8 miliar dolar AS, naik 2,6 kali lipat dalam dua tahun terakhir.

Kenaikan repatriasi ini menunjukkan bahwa perusahaan multinasional lebih banyak mengambil keuntungan ketimbang memperluas kapasitas produksi di India. "Perusahaan global lebih memilih mengumpulkan hasil investasi dari India untuk membiayai investasi mereka di tempat lain," ujar Hanna Luchnikava-Schorsch, kepala Ekonomi Asia-Pasifik di S&P Global Market Intelligence.

Menurut P. Krishnan, kepala investasi dan manajer dana di Spark Asia Impact Managers, lebih dari separuh modal yang dikumpulkan melalui penawaran umum perdana (IPO) di India tahun lalu digunakan untuk memberikan exit bagi investor lama, bukan untuk reinvestasi dalam bisnis. "Orang-orang mengatakan outlook 20 tahun untuk India jauh lebih baik dibandingkan 2 tahun, tapi hal ini seharusnya mendorong penggalangan modal, bukan sekadar exit investor," jelas Krishnan.

Perubahan Aliran Modal Global dan Tantangan Bagi India

Para ahli menilai bahwa pergeseran modal global kini mengarah ke sektor AI, manufaktur canggih, dan ekosistem teknologi tinggi di negara-negara seperti AS, Korea, dan Taiwan. Rajat Rajgarhia, CEO ekuitas institusional di Motilal Oswal Financial Services, menyatakan, "AS melakukan segala sesuatu dengan tepat untuk kepentingannya sendiri," yang tercermin dari jumlah perusahaan dengan kapitalisasi pasar triliunan dolar yang memimpin tren global di bidang AI dan teknologi.

Sementara itu, India masih dalam tahap membangun skala di sektor-sektor tersebut. Rajgarhia menambahkan bahwa untuk menarik modal global, "India perlu berinovasi dengan membangun bisnis generasi berikutnya yang mampu berkompetisi secara global."

Sampai hal ini tercapai, sentimen investor global terhadap India diperkirakan akan tetap berhati-hati. Pengembangan ekosistem manufaktur canggih, penguatan sektor teknologi, serta insentif reinvestasi perlu dipercepat agar India dapat kembali bersaing.

Perkembangan Lain yang Perlu Diketahui

  • Kasus hukum miliarder India Gautam Adani di AS mendekati penyelesaian setelah otoritas AS menutup investigasi terkait tuduhan suap dan pelanggaran sanksi energi Iran.
  • Maskapai Air India yang didukung Singapore Airlines akan memangkas 27% penerbangan internasional pada Juni-Agustus akibat pembatasan ruang udara dan harga bahan bakar jet yang tinggi karena dampak perang Iran.
  • CEO bursa saham India menegaskan peran penting investor domestik dalam mencegah pasar saham terjun bebas setelah penjualan besar-besaran oleh investor asing tahun lalu.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena pergeseran modal global dari India ke AS bukan hanya sekadar akibat daya tarik teknologi dan kebijakan proteksionis AS, melainkan juga mencerminkan tantangan struktural yang harus segera diatasi oleh India. Perlambatan investasi domestik dan tingginya repatriasi modal asing menjadi sinyal peringatan bahwa ekosistem bisnis di India belum sepenuhnya kondusif untuk pertumbuhan berkelanjutan.

Selain itu, meskipun India memiliki potensi pasar konsumen besar, keterbatasan pendapatan per kapita membatasi daya beli dan investasi dalam sektor manufaktur serta teknologi canggih. Ini membuat India kalah bersaing dengan AS yang tidak hanya memiliki pasar besar tetapi juga teknologi terdepan dan insentif manufaktur lokal yang kuat.

Ke depan, India harus mempercepat reformasi yang mendorong reinvestasi, mendukung inovasi teknologi skala besar, dan memperkuat manufaktur lokal agar dapat menarik kembali arus modal global. Jika tidak, risiko kehilangan momentum sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat bisa berdampak pada posisi strategisnya di panggung ekonomi dunia. Untuk pembaca yang ingin memahami perkembangan ini lebih dalam, simak terus berita terbaru di sumber asli CNBC dan media terpercaya lainnya.

Dengan kunjungan pejabat tinggi AS ke India dan rilis data ekonomi mendatang, dinamika investasi ini akan terus menjadi fokus utama dalam beberapa bulan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad