Putra Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Respons AS dan Israel Mengejutkan

Mar 9, 2026 - 08:10
 0  6
Putra Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Respons AS dan Israel Mengejutkan

Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran pada Senin, 9 Maret 2026. Pengangkatan ini dilakukan oleh Majelis Ahli, badan yang berwenang menunjuk pemimpin tertinggi di Republik Islam Iran, menggantikan posisi ayahnya yang wafat akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Ad
Ad

Proses Pengangkatan Mojtaba Khamenei dan Posisi di Iran

Majelis Ahli dalam pernyataannya menyebutkan, "Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem sakral Republik Islam Iran." Mojtaba merupakan putra kedua Ali Khamenei dan dikenal memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan Iran, terutama karena kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan pasukan paramiliter Basij.

Meski demikian, Mojtaba belum memiliki gelar ulama pangkat tinggi dan sebelumnya tidak memegang posisi resmi dalam pemerintahan Iran. Namun, pengaruhnya dalam politik dan militer Iran sangat signifikan, terutama di tubuh IRGC yang menjadi kekuatan militer paling dominan di negara tersebut.

Reaksi Amerika Serikat terhadap Penunjukan Mojtaba

Penunjukan Mojtaba mendapat sorotan dari sejumlah tokoh penting, termasuk mantan Direktur CIA, David Petraeus, yang menyatakan bahwa pengangkatan ini adalah "hal yang disayangkan". Petraeus menilai Mojtaba kemungkinan akan melanjutkan kebijakan garis keras seperti ayahnya, walaupun secara formal ia bukan ulama dengan pangkat tinggi.

"Kami berasumsi bahwa dia akan melanjutkan jejak ayahnya, yang merupakan ulama ideologis garis keras," ujar Petraeus kepada CNN. Ia menambahkan bahwa banyak pihak berharap Iran dipimpin oleh sosok yang lebih pragmatis dan bersedia menuruti tuntutan AS, seperti menghentikan program nuklir dan pengembangan rudal.

Presiden AS Donald Trump juga memberikan komentarnya sebelum pengangkatan resmi Mojtaba, dengan menyebut bahwa ia tidak menerima putra Khamenei sebagai pemimpin Iran. Trump menginginkan seorang pemimpin yang membawa harmoni dan perdamaian ke Iran serta bisa menjalin hubungan baik dengan AS, Israel, dan negara-negara Arab di kawasan.

"Harus ada seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, yang melakukan pekerjaan dengan baik, memperlakukan Amerika Serikat dan Israel dengan baik," kata Trump dalam wawancara dengan CNN.

Respons Israel terhadap Pemimpin Baru Iran

Berbanding terbalik dengan sikap AS yang cenderung berharap perubahan, Israel justru mengeluarkan reaksi keras. Militer Israel menyatakan komitmennya untuk memburu dan menghabisi siapa pun yang berusaha menggantikan Ali Khamenei, termasuk Mojtaba.

"Tangan Israel akan terus memburu pengganti (Khamenei) dan siapa pun yang mencoba menunjuknya," tegas pernyataan militer Israel. Seorang pejabat Israel menambahkan bahwa rakyat Iran kemungkinan tidak ingin mengganti satu Ayatollah dengan Ayatollah lainnya.

Implikasi dan Konteks Regional

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran terjadi di tengah ketegangan yang semakin memanas di Timur Tengah akibat serangan gabungan AS dan Israel yang menewaskan Ali Khamenei. Posisi Mojtaba yang dianggap garis keras dapat memperpanjang konflik di kawasan, terutama mengingat perannya yang dekat dengan IRGC dan Basij, yang selama ini menjadi pelaku utama dalam operasi militer Iran di dalam dan luar negeri.

Majelis Ahli yang menunjuk Mojtaba juga mengindikasikan bahwa struktur kekuasaan Iran masih mempertahankan pola kepemimpinan yang sama, tanpa berubah ke arah yang lebih moderat.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menandai kelanjutan era kepemimpinan yang keras dan ideologis di Republik Islam. Meskipun Mojtaba bukan ulama pangkat tinggi, kedekatannya dengan IRGC dan Basij menegaskan bahwa kekuatan militer dan ideologi revolusioner akan tetap menjadi fondasi utama pemerintahan Iran ke depan.

Reaksi AS yang menginginkan sosok pragmatis dan damai kemungkinan besar akan menemui jalan buntu, karena rezim Iran tetap mempertahankan garis kerasnya. Di sisi lain, sikap agresif Israel yang berjanji memburu pemimpin baru ini justru berpotensi memperbesar eskalasi konflik, bukan meredakannya.

Ke depan, pengamatan ketat terhadap kebijakan Mojtaba Khamenei dan langkah-langkah diplomatik AS serta respons militer Israel akan menjadi kunci dalam menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah. Publik dan pengamat internasional harus waspada terhadap potensi konflik berkepanjangan yang bisa mempengaruhi keamanan global.

Kesimpulan

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran adalah momen penting yang dapat memperkuat posisi garis keras di negara itu. Reaksi dari Amerika Serikat dan Israel menunjukkan ketegangan yang belum mereda dan potensi konflik yang masih tinggi di kawasan Timur Tengah. Perkembangan selanjutnya harus dipantau dengan seksama karena akan memengaruhi dinamika geopolitik regional dan internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad