Penyebab Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Terungkap, Sopir Taksi Green SM Tak Ditahan

May 22, 2026 - 14:02
 0  13
Penyebab Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Terungkap, Sopir Taksi Green SM Tak Ditahan

Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi sorotan utama setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memaparkan temuan investigasi sementara yang membuka penyebab insiden tersebut. Sementara itu, sopir taksi Green SM berinisial RRP yang terlibat dalam tabrakan dengan KRL di perlintasan sebidang Bekasi Timur tidak ditahan oleh kepolisian meski telah ditetapkan sebagai tersangka.

Ad
Ad

Sopir Taksi Green SM Tidak Ditahan Meski Jadi Tersangka

Kasat Lantas Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Gefri Agitia, menjelaskan bahwa kasus kecelakaan antara taksi Green SM dan KRL di luar stasiun ini dikategorikan sebagai tindak pidana ringan (tipiring) berdasarkan Pasal 310 Ayat 1 UU Lalu Lintas tentang kelalaian yang menimbulkan kerugian materiel. Oleh karena itu, proses hukum kasus ini ditangani oleh hakim tunggal di pengadilan negeri tanpa melakukan penahanan terhadap sopir taksi.

Gefri menegaskan bahwa insiden ini berbeda dengan kecelakaan antara kereta di dalam stasiun yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya. "Jadi tidak bisa dijadikan satu kasus," ujarnya. Kecelakaan yang terjadi di luar stasiun tersebut memang tidak menimbulkan korban jiwa baik di dalam KRL maupun taksi.

Temuan Investigasi KNKT: Anomali Persinyalan dan Hambatan Komunikasi

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI pada 21 Mei 2026, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono membeberkan sejumlah faktor penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan-Cikarang. Investigasi sementara mengungkap adanya anomali persinyalan, kendala komunikasi, serta ketidakdisiplinan pengatur jalur rel yang menjadi pemicu utama insiden.

Sebelum tabrakan antar kereta terjadi, lebih dulu terjadi insiden KRL Commuter Line tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang JPL Bekasi Timur pada pukul 20.48.29 WIB. KRL kemudian berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur untuk aktivitas naik turun penumpang dan bergerak sejauh 1,69 meter sebelum kembali berhenti karena masinis melihat kerumunan warga di jalur hulu.

Pada pukul 20.50.43 WIB, KA Argo Bromo Anggrek melaju di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 menunjukkan warna hijau, yang menandakan aman untuk melintas. Soerjanto mengatakan, "KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau atau berwarna hijau."

Masalah Sinyal dan Hambatan Visual Jadi Sorotan

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mempertanyakan mengapa sinyal tetap menunjukkan warna hijau padahal terdapat hambatan di jalur berikutnya. Soerjanto menjelaskan bahwa sistem persinyalan di Stasiun Bekasi tidak mampu mendeteksi keberadaan KA 5568A yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Seharusnya sinyal keluar menunjukkan aspek hati-hati atau lampu kuning, bukan hijau.

Selain itu, hambatan pencahayaan dari lampu pasar, rumah warga, dan penerangan jalan di sekitar rel mengganggu penglihatan masinis KA Argo Bromo Anggrek. Sorot lampu tersebut memiliki intensitas dan warna yang menyerupai sinyal pengulang sehingga menyulitkan masinis dalam mengamati sinyal dengan tepat.

Kendala Komunikasi Antar Kereta Jadi Faktor Tambahan

Investigasi KNKT juga menemukan masalah komunikasi karena perbedaan jenis perangkat radio yang digunakan antar kereta. KA 5181 menggunakan Radio Tait, KA 5568A menggunakan Radio Sepura, dan KA Argo Bromo Anggrek memakai Radio Lokomotif di wilayah komunikasi yang berbeda sehingga memicu hambatan koordinasi.

Tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi pada pukul 20.52.12 WIB, sekitar 3 menit 43 detik setelah insiden awal KRL tertemper taksi.

KNKT Tegaskan Temuan Masih Data Awal

Meski telah memaparkan sejumlah temuan, KNKT menegaskan bahwa laporan yang disampaikan dalam rapat bersama DPR masih berupa data faktual awal investigasi dan belum memuat analisis atau kesimpulan final terkait penyebab kecelakaan.

"Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan," ujar Soerjanto.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, temuan awal KNKT ini menunjukkan adanya kegagalan sistem persinyalan dan komunikasi yang serius dalam pengelolaan jalur kereta api di wilayah Stasiun Bekasi Timur. Kejadian ini bukan hanya masalah teknis sederhana, melainkan sebuah peringatan penting bagi otoritas transportasi untuk segera melakukan evaluasi dan perbaikan menyeluruh agar insiden serupa tidak terulang.

Ketidakmampuan sistem persinyalan mendeteksi kereta yang sedang berhenti dan hambatan visual yang menyulitkan masinis mengindikasikan perlunya modernisasi teknologi dan standarisasi perangkat komunikasi antar kereta. Selain itu, koordinasi dan disiplin pengatur jalur rel juga harus diperketat untuk mengurangi risiko human error.

Selanjutnya, publik harus mengawasi perkembangan investigasi KNKT dan implementasi rekomendasi keselamatan yang akan dikeluarkan. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa keamanan transportasi kereta api harus menjadi prioritas utama demi keselamatan jutaan penumpang setiap harinya.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca laporan investigasi lengkap di Warta Ekonomi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad