IHSG & Rupiah Terancam Turun, Harga Minyak Tembus US$100, Kabar Genting dari China

Mar 9, 2026 - 10:00
 0  4
IHSG & Rupiah Terancam Turun, Harga Minyak Tembus US$100, Kabar Genting dari China

Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan signifikan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah melemah pada perdagangan Jumat (6/3/2026), di tengah lonjakan harga minyak mentah yang menembus level US$100 per barel dan kabar genting dari China yang meningkatkan ketidakpastian pasar.

Ad
Ad

IHSG Melemah Akibat Tekanan Saham Perbankan dan Tambang

IHSG ditutup turun 124,85 poin atau 1,62% ke level 7.585,69 pada perdagangan Jumat lalu. Penurunan ini didorong oleh tekanan pada saham-saham perbankan seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Central Asia (BBCA) yang bersama-sama menyeret indeks sebesar -33,32 poin. Selain itu, saham tambang seperti Bayan Resources dan Bumi Resources Minerals juga termasuk dalam daftar saham yang melemah paling dalam.

Namun, terdapat penguatan pada beberapa saham milik pengusaha Prajogo Pangestu, seperti Chandra Asri Pacific (TPIA) dan Barito Renewables Energy (BREN) yang masing-masing naik 17,67% dan 5,82%, membantu memangkas koreksi IHSG pada akhir sesi perdagangan.

Nilai transaksi mencapai Rp 17,65 triliun dengan volume saham sebesar 31,17 miliar lembar dalam 1,89 juta kali transaksi, menandakan aktivitas pasar yang cukup tinggi meski dihantui sentimen negatif.

Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Dolar AS

Nilai tukar Rupiah pada penutupan Jumat melemah 0,15% ke level Rp16.900 per US$, terdorong oleh penguatan dolar AS di pasar global. Sepanjang hari, Rupiah sempat tertekan hingga Rp16.930 per US$, sebelum menutup dengan pelemahan yang lebih moderat.

Indeks dolar AS (DXY) sempat melemah 0,31% pada jam perdagangan sore, namun secara mingguan tetap menguat signifikan, didorong oleh kenaikan permintaan terhadap aset safe haven akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik ini membuat investor cenderung mengalihkan modal dari pasar negara berkembang ke dolar AS sebagai instrumen yang lebih aman.

Harga Minyak Melonjak hingga US$107,6 per Barel

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar keuangan. Pada Senin (9/3/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 16% ke posisi US$107,6 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022. Harga minyak Brent juga naik 2% ke US$92,69 per barel.

Kenaikan harga minyak ini terkait langsung dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran menegaskan kekuatan kelompok garis keras yang berpotensi memperpanjang konflik.

Akibatnya, kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, jalur vital transportasi minyak dunia, sehingga pasokan minyak global terancam terganggu.

Menurut ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, harga minyak dapat melonjak mendekati US$120 per barel dalam jangka pendek sebelum mereda jika konflik mereda. Namun tanpa solusi politik yang jelas, harga minyak Brent diperkirakan tetap tinggi di kisaran US$80 per barel hingga pertengahan tahun, yang berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6% serta menaikkan inflasi konsumen sekitar 1% per tahun.

Data Inflasi China dan AS Jadi Fokus Pasar

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis data inflasi dari China dan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada pekan ini. Inflasi China diperkirakan naik menjadi 0,8% secara tahunan akibat efek Tahun Baru Imlek, sementara inflasi bulanan diprediksi meningkat 0,3%.

Sementara itu, inflasi Amerika Serikat untuk Februari 2026 diperkirakan stabil di kisaran 0,2%, dengan Core PCE yang menjadi indikator utama bagi Federal Reserve diproyeksikan naik 0,4% secara bulanan. Data ini sangat penting untuk menilai arah kebijakan moneter bank sentral AS di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang melambat dan inflasi yang masih di atas target.

Pasar Global dan Wall Street Tertekan

Bursa saham Amerika Serikat juga menutup pekan di zona merah, dengan Dow Jones turun 0,95%, S&P 500 melemah 1,33%, dan Nasdaq terkoreksi 1,59%. Kenaikan harga minyak dan data tenaga kerja yang lebih buruk dari ekspektasi memperberat sentimen pasar.

Saham BlackRock anjlok 7% setelah perusahaan membatasi penarikan dana dari salah satu private credit fund untuk pertama kalinya, menambah kekhawatiran investor.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga minyak yang menembus level tertinggi sejak 2022 sekaligus ketegangan geopolitik di Timur Tengah merupakan game-changer bagi pasar keuangan Indonesia dan global. Tekanan pada IHSG dan Rupiah berpotensi berlanjut jika konflik tidak segera mereda, mengingat ketergantungan Indonesia pada impor minyak dan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik.

Selain itu, data inflasi China dan AS yang akan dirilis pekan ini menjadi kunci utama dalam menentukan arah kebijakan moneter global. Jika inflasi tetap tinggi, The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan sikap hawkish, yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah lebih dalam.

Investor dan pelaku pasar perlu mewaspadai volatilitas tinggi dan potensi pergerakan tajam di pasar keuangan dalam beberapa pekan ke depan, terutama menjelang rilis data inflasi dan perkembangan situasi Timur Tengah. Strategi diversifikasi dan kehati-hatian menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian ini.

Dengan situasi yang berkembang cepat, tetap ikuti update terbaru agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah ketegangan pasar global yang meningkat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad