Harga Minyak Dunia Tembus US$113 per Barel, Apa Penyebabnya?

Mar 9, 2026 - 11:22
 0  4
Harga Minyak Dunia Tembus US$113 per Barel, Apa Penyebabnya?

Harga minyak dunia kembali menunjukkan lonjakan signifikan pada perdagangan Senin pagi, 9 Maret 2026. Data yang tercatat pukul 09.20 WIB memperlihatkan harga Brent mencapai US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$113,25 per barel. Lonjakan harga ini memperpanjang tren reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Ad
Ad

Pergerakan Harga Minyak yang Drastis dalam Dua Pekan Terakhir

Harga minyak Brent mengalami kenaikan yang sangat cepat dalam waktu singkat. Pada 25 Februari 2026, Brent masih berada di posisi US$70,85 per barel, kemudian naik secara bertahap ke US$72,48 pada 27 Februari, dan terus melonjak ke US$77,74 pada 2 Maret. Di tanggal 3-4 Maret, harga minyak sudah menyentuh US$81,4 per barel.

Reli harga semakin tajam setelah itu, dengan Brent menyentuh US$85,41 pada 5 Maret, naik ke US$92,69 pada 6 Maret, hingga akhirnya menembus angka US$113,68 pagi ini. Pergerakan WTI pun menunjukkan pola serupa, dari US$65,42 pada 25 Februari menjadi US$113,25 pada hari ini.

Faktor Utama Lonjakan Harga: Ketegangan Geopolitik dan Gangguan Produksi

Lonjakan harga minyak ini tidak terlepas dari ketegangan geopolitik yang meningkat antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Konflik ini memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global, terutama karena dampaknya terhadap Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Sekitar 20% dari konsumsi minyak global biasanya melewati selat sempit ini, sehingga gangguan di daerah ini dapat mengganggu pasokan secara signifikan.

Selain faktor geopolitik, sejumlah produsen minyak di Timur Tengah juga mulai mengurangi produksinya. Sebagai contoh:

  • Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, telah mengumumkan pemangkasan produksi dan output kilang sebagai antisipasi atas ancaman keamanan kapal di Selat Hormuz dari Iran.
  • Irak mengalami penurunan produksi sekitar 70% di tiga ladang minyak utamanya di selatan, dari 4,3 juta barel per hari menjadi hanya 1,3 juta barel per hari, menurut tiga pejabat industri yang dikutip Reuters.
  • Uni Emirat Arab (UEA) juga mengelola produksi minyak lepas pantainya dengan hati-hati. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, menyatakan bahwa operasi produksi darat masih berjalan normal, namun kapasitas penyimpanan mulai menjadi perhatian akibat gangguan distribusi.

Prediksi Harga Minyak dan Respons Pemerintah AS

Dari sisi analisis teknikal, para pakar pasar memperkirakan reli harga minyak masih berpotensi berlanjut. Menurut analisis Reuters, harga Brent bisa bergerak ke kisaran US$120 hingga US$128 per barel, sedangkan WTI berpotensi mendekati level tertinggi tahun 2022 di sekitar US$130,50 per barel, jika krisis geopolitik ini terus berlangsung.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat tetap optimistis situasi di Selat Hormuz akan membaik dalam waktu dekat. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa lalu lintas kapal tanker diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa minggu ke depan setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kondisi pasar energi saat ini masih jauh dari stabil dan rentan terhadap perubahan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga minyak yang mencapai lebih dari US$113 per barel ini menggambarkan ketidakpastian pasar energi global yang sangat tinggi. Ketegangan geopolitik yang berpusat di Selat Hormuz bukan hanya berdampak langsung pada pasokan minyak, tetapi juga menimbulkan efek domino terhadap harga energi dunia dan inflasi global. Penurunan produksi dari negara-negara kunci di Timur Tengah memperparah tekanan pasokan yang sudah ketat.

Selain itu, kenaikan harga minyak yang tajam ini menimbulkan risiko ekonomi bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, yang akan menghadapi tekanan biaya energi lebih tinggi dan potensi kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Pasar juga harus mewaspadai potensi eskalasi konflik yang dapat memperburuk situasi pasokan dan harga.

Ke depan, perkembangan diplomasi internasional dan langkah-langkah stabilisasi produksi minyak oleh OPEC+ akan sangat menentukan arah harga minyak. Para pelaku pasar dan pemerintah harus terus memantau situasi ini secara ketat agar dapat merespons dengan cepat terhadap dinamika yang terjadi.

Dengan demikian, penting bagi publik dan pelaku industri untuk tetap mengikuti perkembangan terkini seputar harga minyak dan geopolitik global karena dampaknya sangat luas dan kompleks.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad