Iran Tegaskan Tolak Negosiasi Nuklir Lagi Usai Dikhianati AS Dua Kali
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan melanjutkan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan PBS News pada Senin (9/3) 2026, menandai sikap keras Iran menyusul pengalaman pahit dikhianati oleh AS dua kali dalam proses pembicaraan sebelumnya.
Pengalaman Pahit Negosiasi Nuklir Iran dengan AS
Dalam wawancara tersebut, Araghchi menyebutkan bahwa pengalaman amat pahit Iran dalam berdialog dengan AS telah cukup sebagai alasan untuk menghentikan negosiasi lebih lanjut.
"Anda tahu, kami memiliki pengalaman amat pahit dalam berbicara dengan Amerika," ujar Araghchi, seperti dikutip Anadolu Agency.
Dia menegaskan, "Saya rasa berbicara dengan orang Amerika lagi tidak akan ada dalam agenda kami."
Pernyataan ini berkaitan langsung dengan kejadian perang selama 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, di mana saat itu Iran tengah dalam proses negosiasi nuklir dengan AS. Ironisnya, AS justru mendukung Israel dalam serangan ke situs-situs nuklir di Teheran.
Serangan AS-Israel dan Dampaknya pada Negosiasi
Sebelum konflik meletus, Iran dan AS sudah memasuki putaran ketiga negosiasi yang menurut mediator Oman berjalan cukup konstruktif. Namun, serangkaian serangan oleh Israel dan AS menghancurkan harapan damai itu, bahkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Senin (9/3), Iran menunjuk pengganti Khamenei, yaitu putranya Mojtaba Khamenei. Ketika ditanya mengenai kesediaan Mojtaba untuk melanjutkan negosiasi atau gencatan senjata, Araghchi enggan berkomentar dengan alasan masih terlalu dini.
Namun, dia yakin Mojtaba tidak akan mudah membuka pintu dialog dengan AS mengingat serangan brutal yang juga menewaskan anggota keluarga dekatnya.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Krisis Energi Dunia
Araghchi juga menyoroti penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Menurutnya, AS dan Israel adalah penyebab utama krisis energi tersebut melalui tindakan agresif mereka.
"[Produksi dan transportasi minyak tersendat] karena serangan dan agresi yang dilakukan Israel dan Amerika terhadap kami," jelas Araghchi.
Dia menambahkan bahwa serangan-serangan tersebut membuat kawasan Timur Tengah menjadi tidak aman, sehingga kapal tanker enggan melewati Selat Hormuz. Meski begitu, Iran menegaskan tidak menutup jalur vital tersebut.
Iran Siap Membalas Jika Diserang
Dalam sikapnya yang tegas, Araghchi menegaskan bahwa Iran sudah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dibalas dengan menargetkan aset musuh di kawasan.
"Kami sedang menghadapi tindakan agresi, yang betul-betul ilegal, dan apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri yang legal dan sah," kata Araghchi.
Dia menambahkan, "Jika AS menyerang kami, karena kami tidak bisa menjangkau wilayah Amerika, kami akan menyerang pangkalan mereka di kawasan itu. Sebagai akibatnya, perang akan menyebar ke seluruh wilayah. Kami tidak bertanggung jawab soal itu."
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, sikap tegas Iran ini merupakan turning point penting dalam dinamika hubungan nuklir dan geopolitik di Timur Tengah. Pengalaman dikhianati dua kali oleh AS telah menimbulkan ketidakpercayaan yang mendalam, sehingga negosiasi damai yang selama ini diupayakan sulit untuk dilanjutkan tanpa adanya jaminan dan perubahan sikap dari pihak AS dan sekutunya.
Kemudian, penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru kemungkinan akan membawa pendekatan yang lebih keras dan kurang kompromi terhadap Amerika Serikat. Ini bisa memperpanjang ketegangan dan memperbesar risiko konflik berskala lebih luas di kawasan.
Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz dan dampaknya pada pasar minyak global menjadi perhatian dunia, di mana risiko gangguan pasokan energi dapat berdampak pada ekonomi global secara signifikan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat internasional untuk memantau perkembangan ini secara seksama dan mendorong dialog yang produktif agar konflik tidak meluas.
Kedepannya, publik dan pengamat harus mencermati langkah diplomasi baru serta respons Iran terhadap tekanan regional dan global. Perubahan kepemimpinan di Iran membuka babak baru yang penuh ketidakpastian dalam hubungan Iran-AS dan keamanan Timur Tengah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0