Pengusaha RI Raup Cuan Besar Akibat Lonjakan Harga Komoditas Perang Iran

Mar 10, 2026 - 22:10
 0  4
Pengusaha RI Raup Cuan Besar Akibat Lonjakan Harga Komoditas Perang Iran

Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik geopolitik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Selat Hormuz telah menimbulkan dampak signifikan terhadap rantai pasok global. Lonjakan harga komoditas energi menjadi salah satu efek langsung dari eskalasi ini, yang bagi sebagian pihak justru menjadi berkah ekonomi.

Ad
Ad

Selat Hormuz berperan sebagai jalur logistik vital yang menghubungkan distribusi energi dan komoditas utama dunia. Gangguan keamanan di wilayah ini memicu supply shock atau guncangan pasokan yang secara langsung menaikkan harga-harga global, terutama minyak mentah dan batu bara.

Pengaruh Konflik Iran-AS pada Pasar Komoditas Global

Menurut data dari Refinitiv, dalam 10 hari pertama sejak perang Iran-AS meletus, harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus US$ 119 per barel, sementara WTI mencapai sekitar US$ 112 per barel. Lonjakan ini lebih tinggi dibandingkan saat Perang Rusia-Ukraina sebelumnya. Batu bara juga mengalami kenaikan harga signifikan, mengikuti mekanisme substitusi energi saat harga minyak naik tinggi.

Selain sektor energi, sektor pupuk dan perkapalan juga mendapatkan keuntungan besar. Harga pupuk urea melonjak lebih dari 10%, sementara tarif angkutan laut mencapai level premium akibat pengalihan rute kapal guna menghindari zona konflik.

Deretan Emiten dan Pengusaha RI yang Untung Besar

Ketidakpastian ini memperbesar margin keuntungan sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama yang bergerak di sektor terkait. Berikut adalah beberapa sektor dan perusahaan yang diuntungkan:

  1. Sektor Minyak dan Gas (Migas)
    Emiten seperti MEDC (Merdeka Copper Gold) yang dikendalikan Keluarga Panigoro dan ENRG dari Grup Bakrie mendapat manfaat langsung dari kenaikan harga minyak. ASP yang naik memperlebar margin laba tanpa perlu menaikkan produksi secara signifikan.
  2. Sektor Batu Bara
    Alamtri Resources Indonesia (ADRO) mendapat keuntungan dari peningkatan permintaan batu bara sebagai substitusi energi saat harga minyak melonjak. Efisiensi biaya produksi membuat ADRO mencetak free cash flow maksimal di tengah pasar yang tidak stabil.
  3. Sektor Emas dan Logam Mulia
    Emas sebagai instrumen safe haven mengalami kenaikan harga signifikan, menguntungkan emiten tambang seperti MDKA (Garibaldi Thohir), ARCI (Peter Sondakh), dan ANTM yang menikmati lonjakan permintaan domestik dan global.
  4. Sektor Minyak Kelapa Sawit (CPO)
    CPO mendapat dampak positif karena kenaikan harga minyak bumi mendorong biodiesel sebagai alternatif energi, meningkatkan permintaan CPO. Emiten seperti LSIP (Grup Salim), AALI (Grup Astra), dan TAPG (TP Rachmat dan Keluarga Subianto) mencatat peningkatan profitabilitas.
  5. Sektor Perkapalan dan Logistik Laut
    SMDR dan TMAS yang bergerak di bidang pelayaran mendapatkan keuntungan dari lonjakan tarif angkutan laut akibat rerouting kapal untuk menghindari konflik, memperluas margin laba bersih.
  6. Sektor Petrokimia
    ESSA, produsen amonia dalam negeri yang dikendalikan oleh Garibaldi Thohir dan Chander V.L., mendapat keuntungan dari terbatasnya suplai pupuk global akibat gangguan pelayaran di Teluk, meningkatkan daya saing dan laba bersih perusahaan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, eskalasi konflik di Selat Hormuz tidak hanya berdampak jangka pendek pada lonjakan harga komoditas, tetapi juga berpotensi mengubah strategi investasi dan ketahanan energi Indonesia. Windfall profit yang diraih pengusaha dan emiten Indonesia ini menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik global bisa menjadi peluang ekonomi, meski diwarnai ketidakpastian yang tinggi.

Namun, keuntungan ini juga membawa risiko jangka panjang, seperti ketergantungan pada harga komoditas yang volatil dan potensi gangguan suplai jika konflik berkepanjangan. Pemerintah dan pelaku industri harus memperkuat diversifikasi sumber energi dan memperhatikan dampak sosial ekonomi agar tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak geopolitik.

Ke depan, publik dan pemangku kepentingan harus terus memantau perkembangan konflik ini, mengingat dampaknya yang luas pada ekonomi domestik dan global. Kesiapan menghadapi fluktuasi harga serta penguatan ketahanan rantai pasok menjadi kunci utama agar momentum keuntungan ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Dengan demikian, perang Iran-AS bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal bagaimana Indonesia memposisikan diri dalam peta ekonomi global yang penuh tantangan dan peluang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad